Monday, 8 May 2017


 "Not all opinions are equal. And some things happened, just like we say they do. Slavery happened, the Black Death happened. The Earth is round, the ice caps are melting, and Elvis is not alive"- Deborah Lipstadt

Plot

Deborah Lipstadt (Rachel Weisz) adalah seorang sejarawan yang pula merangkap sebagai penulis yang kerap mengisikan bukunya fakta-fakta berkenaan sejarah holocaust yang juga diiringi dengan pendapat-pendapatnya mengenai  beberapa pihak yang menyangkal akan terjadinya peristiwa kelam tersebut. Salah satu orang yang kena sasaran kritiknya adalah David Irving (Timothy Spall) yang tidak hanya menyangkal dengan keras akan peristiwa holocaust, namun juga menjadikan holocaust sebagai bahan candaannya di setiap pidatonya. Irving yang tidak terima dengan tulisan dari Deborah pun menuntut Deborah dan membawa kasus tersebut ke pengadilan tinggi Inggris.




Review

Kebanyakan film yang mengangkat isu holocaust akan menampilkan kekejaman pihak Jerman dalam membunuh tiap orang yang menganut keyakinan Yahudi, dan biasanya film-film seperti ini tidak jarang berhasil menarik perhatian para kritikus, tidak terkecuali para juri Academy Awards. Life is Beautiful, The Schindler's List hingga The Pianist merupakan contoh kuat bagaimana film bertemakan holocaust memudahkan jalan untuk cukup mendominasi dalam ajang penghargaan perfilman. Maka saya cukup terkejut saat film Denial ini tidak terlalu menyeruak ke permukaan, dan jangankan membicarakan peruntungan film ini mengenai piala penghargaan, Denial pun cukup mengenaskan apabila menyinggung pendapatan nya. Kita bisa berpendapat bila Denial tidak memiliki aktor yang memiliki nama besar di dalamnya (Rachel Weisz sedikit terlupakan pada dekade ini), tetapi kalau menilik ke belakang, topik berkenaan holocaust selalu menarik perhatian, apalagi dengan embel-embelnya yang mengangkat cerita film ini berdasarkan kisah nyata yang benar-benar dialami oleh Deborah Lipstadt dimana Deborah menuangkan pengalamannya melawan David Irving lewat buku nya yang berjudul History on Trial: My Day in Court with "Holocaust Denier". Dan ini murni pendapat saya sendiri, film yang disutradarai Mick Jackson ini adalah film bertopik holocaust yang saya butuhkan. 

Saya bukannya menampik dan menyangkal keras seperti apa yang dilakukan David Irving lakukan baik di film ini maupun di dunia nyata, tetapi saya rasa pertanyaan dasar seperti "is the holocaust really happened?" patut ada di benak kita, karena harus diakui fakta-fakta yang merujuk akan kebenaran peristiwa tragedi kemanusiaan tersebut sangat minim sehingga tidak sedikit yang menyusun-menyusun teori dan mencoba membuktikan bila holocaust hanyalah kebohongan besar yang dirajut oleh kaum Yahudi (dan maaf ketidaktahuan saya, ternyata menyangkal kebenaran peristiwa holocaust langsung di cap anti-semit loh). Perdebatan yang tak kunjung usai inilah yang membuat Denial pada awalnya merupakan alternatif yang cukup tepat dalam hal membuka pandangan yang baru lewat fakta-fakta yang mungkin akan diungkapkan dalam pergerakan narasi, yang jelas memancing rasa antusias saya semenjak dari menit pertama. Well, pada awalnya.

Denial jelas film bertipe courtroom dan tidak disangkal memang di dalam adu argumen di ruang sidang pada film ini terungkap beberapa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin ada di benak kalian selama ini, seperti konsep ruang penjara Auschwitz yang diyakini tempat pembunuhan massal yang dilakukan prajurit Jerman terhadap umat Yahudi. Ada juga permainan logika dengan mengulik pernyataan-pernyataan dari David Irving. Namun sayangnya adegan courtroom yang ada tidak terlalu dominan dalam durasi film 110 menit ini karena Mick Jackson lebih memilih mengisi kebanyakan durasi film Denial dengan pendekatan strategi dari pihak advokat yang membela Deborah. Memang, pembicaraan strategi tersebut menghantarkan penonton untuk melihat pendalaman sosok dari Deborah yang kerap kali kontra dengan strategi dari pembela nya, terutama dengan dua pemimpin pihak kuasa hukum tersebut yaitu Anthony Julius (Andrew Scott) dan Richard Rampton (Tom Wilkinson) yang melarang Deborah melakukan testimoni di pengadilan. Tetapi jujur saja fakta-fakta yang diungkapkan dalam film ini belum cukup memuaskan rasa dahaga saya karena masih banyak misteri-misteri yang menyelimuti peristiwa holocaust. Adegan courtroom terakhir sebelum pembacaan keputusan akhir pun cukup membingungkan dengan memperlihatkan twist halusnya.

Tetapi flaws di atas jangan langsung menggoda kalian untuk menyematkan film buruk pada Denial karena sebenarnya Denial adalah film yang bagus, bahkan saya cukup menyukainya. Hal ini dikarenakan Denial didukung dengan penulisan naskah yang baik dari David Hare serta penampilan prima dari tiga pelakon utamanya. Naskah David Hare mungkin tidaklah secerdas naskah Aron Sorkin yang menjadikan tiap dialog sangat adiktif kala mendengarnya, namun Hare jelas telah mempelajari dengan baik buku yang ditulis Deborah. Hare membuat strategi-strategi persiapan menghadapi sidang yang sebenarnya cukup rumit, menjadi terlihat lebih mudah dan bisa diikuti hanya dengan bermodalkan atensi yang cukup dari kita. Dialog-dialog yang ada baik kala karakter-karakternya berinteraksi di kehidupan hari-hari ataupun saat karakternya beradu mulut di persidangan sangat efektif  danbisa dikatakan sederhana dengan minus analogi atau istilah-istilah rumit lainnya. Di kursi penyutradaraan, Mick Jackson terlihat apik menjaga pacing cerita di tengah adu mulut yang terjadi, walau harus diakui cukup mengganggu di bagian konklusi karena adanya editing yang sebenarnya tidak terlalu perlu.

Tiga aktor utamanya juga memiliki andil dalam menjadikan Denial terasa enak untuk diikuti. Timothy Spall sukses membuat karakter David Irving terlihat menyebalkan, namun sesaat kemudian kala dirinya terdesak akan pernyataan Richard, ada rasa simpati yang bisa saya berikan untuknya berkat ekspresi tercekatnya. Cukup disayangkan screen time nya terbilang minim. Rachel Weisz pun seolah membuktikan bila dirinya belum kehilangan sentuhan dalam berakting, bahkan mungkin bisa dibilang ini adalah akting terbaiknya semenjak ia mendapatkan piala Oscar di film The Constant Gardener. Lihatlah ekspresi kegelisahannya saat setiap kali David Irving mengeluarkan pernyataannya, atau kelegaannya setiap kali Irving terpojok. Ekspresi maupun gestur subtil yang ia keluarkan berhasil menjaga perhatian penonton tetap tertuju kepada Deborah walau karakter Deborah sama sekali tidak mampu mengeluarkan pernyataan di dalam medan perang sidang. Weisz pun brilian dalam memperlihatkan seorang Deborah Lipstadt yang cukup kera kepala namun di sisi bersamaan terlihat rapuh dan tertekan akan kasus yang bagi dirinya sangat personal ini. Saat Deborah diam demi kemenangan inilah karakter Richard Rampton bersinar yang terbantu pula dengan penampilan memukau dari aktor senior Tom Wilkinson. Richard Rampton terlihat begitu wibawa berkat nada suara Wilkinson yang tenang namun pasti dan tajam menusuk dalam melontarkan pernyataan-pernyataannya.

Sayang memang film yang sebenarnya berbeda dari tipikal film bertemakan holocaust ini tidak terlalu menarik perhatian para pecinta film. Walau memang fakta yang diangkat tidak terlalu banyak, namun dengan adanya Denial, mata penonton bisa terbuka bila di luar sana masih banyak pihak-pihak yang meragukan kejadian holocaust, bahkan neo-Nazi pendukung Hitler pun jumlahnya masih banyak. Belum mampu begitu meyakinkan saya akan peristiwa Holocaust, namun dengan naskah serta penyutradaraan yang baik dan tidak ketinggalan performa hebat dari tiga lead actors nya, Denial deserves more recognition.

7,75/10



Monday, 1 May 2017


"We are what we believe we are"- The Beast

Plot

Pemuda pengidap penyakit berkepribadian ganda (James McAvoy) menculik tiga gadis muda yaitu Casey (Anna Taylor Joy), Claire (Haley Lu Richardson) dan Marcia (Jessica Sula) tanpa adanya alasan yang jelas. Di waktu senggangnya, pria tersebut sering berkunjung ke ahli psikologi bernama Dr. Karren Fletcher (Betty Buckley) untuk berkonsultasi atau sekedar mengobrol.




Review

Setelah mencoba meninggalkan dunia thriller yang sebenarnya merupakan ladang bermainnya dan berakhir dengan mengenaskan, akhirnya M. Night Shyamalan sadar diri dan kembali ke ladang bermain sang sutradara supaya tidak segera ditinggalkan oleh penggemar setianya. The Visit yang rilis dua tahun lalu merupakan langkah pertama dari sutradara sebagai tanda dari comeback panjang yang telah dinanti-nanti oleh penggemarnya. Walau tanggapan dari kritikus mengenai film tersebut tidak terlalu memuaskan, tetapi paling tidak dengan film tersebut menunjukkan kembali kalau Shyamalan belum kehilangan sentuhan lama nya. Maka ketika rencana pembuatan film Split mulai terendus, apalagi terdengar kabar bila film terbarunya ini melibatkan karakter yang memiliki 23 kepribadian di tubuh satu orang, secara otomatis Split sangat dinantikan oleh para penggemar film sembari menebak-nebak twist apa yang akan terjadi di dalam Split.

Sebenarnya film mengenai karakter yang mengidap penyakit kepribadian ganda bukanlah inovasi yang baru karena 14 tahun lalu ada Identity yang mengambil cerita mengenai tokoh yang memiliki 10 kepribadian. Sempat terpikir memang twist yang ada di Split bakalan tidak akan jauh dari twist yang ditawarkan oleh James Mangold di Identity tersebut. Namun tampaknya saya terlalu meremehkan Shyamalan karena Split cukup berbeda dengan Identity. Bila ada yang sama, selain cerita tokoh pengidap DID (Dissociative Identity Disorder), yaitu cara Shyamalan menggedor narasi Split dengan menunjukkan kejar-kejaran antar pelaku dengan tiga korbannya.  Tetapi jangan salah, Shyamalan tetaplah Shyamalan ketika membicarakan mengenai bagaimana ia menggulirkan plot nya. Shyamalan tetap menggulirkan plot filmnya dengan perlahan seperti film-film yang ia sutradarai dengan genre sejenis sebelumnya, malah cenderung terlalu perlahan bahkan, yang jujur seringkali membuat saya kebosanan saat menontonnya.  Padahal kala mengetahui sinopsisnya berdekatan dengan ilmu psikologi, saya telah memasang ekspektasi saya akan sajian film yang berat narasinya.  Tetapi dialog-dialog berbau ilmu psikologi tersebut, ditambah jalan ceritanya yang begitu lambat sering menggoda saya untuk menyerah menonton film ini.

Di dalam Split juga memiliki 3 narasi yang seolah berdiri-diri sendiri, terutama cerita masa kecil Casey, yang akhirnya akan bertemu di akhir cerita. Dalam 117 menit, ada cerita usaha dari 3 gadis untuk kabur dari jeratan penculik, pertemuan antar dokter-pasien dan itu tadi, masa kecil Casey yang ternyata memiliki misi tersembunyi dari Shyamalan untuk mengakhiri kisahnya. Dalam perjalanan narasinya itu, sedikit demi sedikit kita mempelajari mengenai penyakit yang diidap oleh karakter yang diperankan secara brilian oleh McAvoy tersebut, bersamaan juga dengan motifnya dalam menculik tiga gadis belia tersebut. Nuansa horor tetap mencekam, suasana klaustrofobik pun juga terasa saat Shyamalan memindahkan narasinya ke usaha tiga gadis itu mencoba kabur, walau memang keseruannya tidak terlalu mampu mencengkram atensi saya.  Hingga kala Split mulai mendekati akhir kisahnya, barulah keseruan cukup terasa dengan adegan kejar-kejarannya. Shyamalan juga membalut adegan kejar-kejaran itu dengan menggabungkan beberapa elemen, seperti klaustrofobik, gelapnya pencahayaan untuk meningkatkan kengerian yang ada, hingga keputusan Shyamalan yang secara mengejutkan tidak terlalu pelit dengan darah. Oh, tidak lupa juga Shyamalan mengungkapkan fakta berkenaan dengan cerita masa lalu pemuda tersebut. Split pun ditutup dengan mengejutkan, yang mengundang beberapa spekulasi berkenaan dengan film-film Shyamalan selanjutnya.

Dibebani dengan pekerjaan berat, rupanya malah memberikan kesempatan bagi James McAvoy menunjukkan kemampuan aktingnya. Bukanlah perihal mudah dalam memerankan beberapa kepribadian yang berbeda. Yang paling memorable mungkin adalah saat ia memerankan karakter Hedwig yang childish, lengkap juga dengan jaket kuningnya yang membuat Hedwig sangat nempel di benak saya. Kehebatan McAvoy terlihat saat dia memperlihatkan beberapa kepribadian sekaligus dalam durasi yang singkat. Perhatikan transformasinya dari kepribadian A ke B dengan sangat halus. Tidak hanya McAvoy, aktris muda Anna Taylor Joy (she's really hot here, btw) pun kembali membuat saya kagum dengan bakat aktingnya yang tidak bisa diremehkan. Bukan tidak mungkin dirinya akan mengikuti karir bagaikan Jennifer Lawrence dengan mendapatkan piala Oscar di usia yang cukup muda bila Anna tetap membintangi film yang memiliki naskah yang kuat.

Split jelas langkah comeback sempurna dari Shyamalan dan merupakan hadiah penantian yang indah dari dirinya untuk para penggemarnya yang tetap setia dan percaya dengan kemampuan Shyamalan. Dengan penampilan kuat dari McAvoy dan Anna Taylor Joy, serta penceritaan yang cukup rapi dari Shyamalan, lengkap dengan atmosfir horor nya yang cukup kental, Shyamalan berhasil memperbaiki nama nya yang sempat tercoreng beberapa tahun lamanya dan saya pribadi sangat menantikan rencana besar Shyamalan yang ia ungkapkan di detik-detik akhir dalam film ini.

7,75/10

Lanjutkan membaca bila kalian telah menonton film ini dan tidak mengerti mengenai shocking revealed yang dilakukan Shyamalan mengakhiri kisah Split

Apabila kalian memang tidak mengerti apa maksud dari ending nya yang berhasil membuat saya teriak "HOLY SHIT!", saya sarankan tontonlah film Shyamalan berjudul Unbreakable yang dirilis tahun 2000. Genre nya sedikit mengenai superhero tetapi dengan rasa yang berbeda. Saya sangat menantikan bagaimana Shyamalan menyatukan kisah dua film ini, dan jangan tanya lagi antisipasi saya mengenai bertemunya karakter David Dunn dan Kevin. Tertarik juga karakter pengaruh Mr. Glass dan Casey di sekuelnya nanti.

Saturday, 29 April 2017


"Number 11 my ass!!"- Roman

Plot

Bulan madu yang dilakukan Dominic Toretto (Vin Diesel) bersama Letty (Michelle Rodrigues) harus terganggu dengan kehadiran wanita misterius bernama Cipher (Charlize Theron) yang menginginkan Toretto membantu ambisinya. Toretto yang jelas pada awalnya menolak ajakan Cipher akhirnya bersedia membantu Cipher setelah melihat kartu as yang dimiliki Cipher, walau harus memaksa dirinya untuk berhadapan dengan anggota-anggota keluarganya yang telah ia bangun sejak lama. Ya, untuk pertama kalinya, Toretto berada di sisi berlawanan dengan keluarganya.




Review

Dari sekian banyak permasalahan yang dimiliki The Fast and The Furious franchise, salah satu masalah utama yang mengganggu saya adalah terlalu overpowered nya tim yang dimiliki Dominic Toretto. Problem tersebut sedikit tertutupi dengan kehadiran Luke Hobbs-nya Dwayne Johnson sebagai pihak yang menjadi lawan seimbang bagi Toretto, tetapi itu hanya cukup berlaku bagi Toretto seorang diri, karena apabila membicarakan keseluruhan tim, yang dimiliki Luke Hobbs tetaplah tidak sebanding dengan apa yang dimiliki Toretto. Permasalahan ini pun semakin menjadi-jadi kala Hobss yang awalnya merupakan lawan bertransformasi menjadi aliansi dan anggota baru dalam Toretto's family, sehingga setiap lawan yang muncul di tiap-tiap film sesudah Fast Five, sama sekali tidak ada intimidasi yang meyakini penonton tim Toretto akan kesulitan menghadapi tiap musuh baru yang harus dihadapi. Dan tampaknya F. Gary Gray menyadari celah besar ini sehingga dengan bantuan Chris Morgan dan Gary Scott Thompson, Gary Gray mendapatkan inovasi baru untuk tetap membuat franchise ini terasa fresh. Inovasi tersebut adalah memposisikan karakter utamanya itu sendiri yaitu Toretto sebagai pihak antagonist nya.

Memang, bagi yang mengikuti franchise ini dari film pertamanya mudah saja menyadari pasti ada alasan di balik membelotnya Toretto yang sekarang malah justru tega harus berhadapan dengan tiap anggota keluarganya. Namun tak dipungkiri ide ini merupakan daya tarik utama yang mau tidak mau para fans yang telah merasakan kewalahan mengikuti franchise ini tetap merasa tergoda untuk kembali menyicipi The Fate of the Furious. Keberadaan Toretto di posisi lawan sangat membantu sang villain utama, Cipher, terasa intimidatif selain dengan kemampuan hacker nya yang berada di atas Ramsey. Charlize Theron pun merupakan pilihan yang tepat untuk memerankan Cipher yang manipulatif, tenang namun meyakinkan melalui penghantaran kata-katanya yang terasa lembut dan tidak terlihat lemah walau harus dikelilingi oleh pria-pria berotot besar. Namun sayang sekali kala Gary Gray berhasil menutupi lubang kelemahan yang saya ungkap di awal paragraf, Gary Gray malah tetap mengulangi kekurangan lainnya, yaitu kurangnya pendalaman pada villain utama. Maksud saya, lihat Cipher, apa yang mengharuskan dirinya melakukan semua tindakan kriminal yang ada? Siapa sebenarnya Cipher? Bagaimana dirinya memiliki semua sumber daya yang mungkin mampu menyaingi sumber daya yang dimiliki badan keamanan suatu negara? Dan dari semua orang hebat di dunia, mengapa dia sangat membutuhkan bantuan Dom? Mungkin kalian menganggap saya terlalu berlebihan untuk memikirkan itu semua, tapi mau bagaimana lagi, karakterisasi yang dangkal pada Cipher ini cukup mengganggu saya dalam menikmati The Fate of the Furious. Okay, logika memang harus dimatikan kala menyaksikan adegan aksinya, tetapi berkenaan dengan karakter, hal tersebut tidaklah berlaku.

Oh, mengenai actionnya yang merupakan jualan utama dari franchise ini sehingga mampu bertahan hingga ke instalmen ke delapan, percayalah The Fate of the Furious masih memiliki momen-momen aksi yang sangat menghibur. Memang tidak ada yang mampu menyaingi action secquence yang melibatkan brankas di Fast Five, tetapi aksi-aksi yang masih melibatkan kendaraan roda empat ini tetap terasa bombastis dengan efek kejut di tiap adegan aksi terjadi, tidak ada contoh yang lebih baik menjelaskan ini selain melihat apa yang terjadi di adegan kejar mengejar di secquence terakhir dengan melibatkan kapal selam raksasa. Namun bila membicarakan favorit, saya lebih memilih secquence di pertengahan durasi kala Cipher melibatkan puluhan mobil di jalanan maupun di garasi gedung untuk melancarkan agendanya. Entah berapa kali ucapan "holy shit" yang saya keluarkan untuk mengekspresikan kekaguman saya apa yang ditampilkan Gary Gray disini. Tidak ketinggalan juga Gary Gray tetap menyelipkan beberapa humor terlontar dari, siapa lagi kalau bukan interaksi antara Tej Parker dan Roman, walau dosisnya serasa ditahan disini. Sayang memang dari sekian film yang telah ditelurkan pada franchise ini, dua karakter yang sebenarnya salah satu alasan bagi saya untuk selalu merasa terhibur menyaksikan film-film The Fast and the Furious (terutama Roman, damn, komentar dia saat ia ketahui bahwa dirinya tidak masuk interpol's top ten most wanted list sukses meledakkan tawa saya) diposisikan hanya sekedar sebagai comic relief dan tidak memiliki momen-momen yang menjadi highlight untuk mereka selain humor-humor yang mereka lontarkan. 

Dengan mengutamakan adegan-adegan aksinya, tampaknya Gary Gray harus mengorbankan untuk pendalaman cerita yang sebenarnya kala memposisikan Toretto sebagai tembok penghalang bagi keluarga yang ia miliki, banyak sekali sub plot yang bisa digali, apalagi saat terungkap mengenai motif yang mendorong Toretto untuk bersedia membantu Cipher. Namun karena memang franchise ini daya jualnya adalah dengan melihat para karakternya beraksi di belakang setir mereka ataupun baku hantam antar karakternya, potensi tersebut hanya terlewat begitu saja. Selain itu kesempatan emas yang Gary Gray lepaskan juga adalah tidak lebih memperbanyak interaksi antara Hobbs dan Deckard yang secara mengejutkan ternyata sangat menghibur dan seringkali merebut spotlight

Sekali lagi, mungkin bagi kalian saya terlalu menganggap serius dalam mengamati berbagai aspek dalam The Fate of the Furious, namun apabila memang franchise ini ingin menawarkan sesuatu yang baru, sebaiknya pihak Universal harus berani lebih memperhatikan sektor cerita dan tidak hanya melulu menceritakan Dominic Toretto, karena apabila hanya mengandalkan aksi kendaraan roda empatnya saja, bukan tidak mungkin penggemar setia franchise The Fast and the Furious merasakan kebosanan, hingga mengharuskan franchise The Fast and the Furious benar-benar berada di finish line.

7/10

Friday, 28 April 2017



Story

Menceritakan perjalanan ksatria berpedang muda bernama Guts yang selalu menghadiri perang-perang sebagai tentara bayaran, hingga dirinya bertemu dengan pemimpin Band of the Hawk, Griffith, yang tertarik untuk mengajak Guts bergabung di kelompoknya setelah terkesan dengan kemampuan berpedang Guts. Band of the Hawk sendiri merupakan kelompok para tentara bayaran yang memiliki reputasi tidak pernah terkalahkan dan cukup terkenal di daerah Midland.





Review

Saya sengaja untuk menulis begitu singkat di bagian sinopsis diatas supaya saya tidak melakukan blunder menyentuh ke ranah spoiler, karena harus saya akui, sangat sulit untuk menceritakan Berserk tanpa menyentuh spoiler sedikitpun, dan percayalah, semakin kalian buta mengenai Berserk, semakin besar juga potensi kalian merasakan kepuasan luar biasa saat mengikuti kisahnya. Bila kalian tidak tahu Berserk, jangan khawatir, saya tidak akan mengejek kalian ketinggalan jaman, tidak keren atau sebagainya, karena memang usia Berserk yang merupakan hasil karya dari Kentaro Miura ini cukup tua. Manganya dirilis pada tahun 1988 dan masih berlanjut hingga sekarang(!). Dan adaptasi animenya sendiri pun pertama kali ditayangkan 9 tahun kemudian. Walau gambar animasi nya sendiri memang tidak memuaskan dan banyak kekurangan, tetapi siapa yang menyangka kualitas rendah animasinya malah meningkatkan atmosfir horor dunia Berserk sehingga anime nya layak menyandang status klasik. Maka jangan heran bila banyak penggemar Berserk menyarankan untuk tetap menyaksikan anime originalnya ketimbang trilogi film animenya yang sebenarnya memiliki kualitas animasi dan 3D yang memuaskan dan anime Berserk yang baru saja dirilis tahun kemarin serta meneruskan perjalanannya juga pada tahun ini. Saya yang telah menyaksikan semua versi anime Berserk mungkin sependapat dengan pendapat para penggemar tersebut. Tidak usah ditanya lagi betapa mengecewakannya versi anime tahun 2016 nya yang level keburukannya jatuh ke level memprihatinkan sehingga bukan langkah yang bijak untuk kalian yang ingin berkenalan dengan Berserk lewat versi ini. Film trilogy nya sendiri memang memiliki kualitas anime di atas rata-rata, tetapi tentu tiga film yang berdurasi kurang lebih 2 jam di masing-masing filmnya tidak mampu memindahkan semua adegan-adegan penting di manga nya ke dalam film sehingga harus ada adegan penting yang tidak ditayangkan. Bila ingin berkenalan dengan Berserk versi anime, tontonlah versi originalnya. Serius, kalian tidak akan memusingkan gambarnya yang jadul saat kalian telah tenggelam dengan cerita Berserk yang memukau.

Berserk merupakan pilihan yang sangat tepat bagi kalian yang mungkin sedikit jengah dengan segala macam animanga berjenis Shounen. Saya sendiri saat berkenalan dengan Berserk di tengah masa dimana anime Naruto: Shippuden masih di episode filler, bosan dengan petualangan One Piece dan kehilangan ketertarikan dengan Detective Conan sehingga saya kehabisan amunisi untuk menikmati animanga. Memang, animanga seperti Shingeki No Kyojin atau Hunter X Hunter mampu menutupi kekosongan waktu (terutama SnK), tetapi saya butuh lebih dari itu dan ingin menyicipi animanga yang lebih dari itu. Hingga akhirnya saya iseng-iseng mengetik keyword "the most hateful characters in anime" di Google dan setelah beberapa kali blogwalking, nama Griffith secara konsisten masuk di dalam list beberapa orang. Karena merasa asing dengan nama karakter yang satu ini, tidak membutuhkan waktu yang lama saya mencari profil tentang karakter ini, dan entah harus saya anggap ini langkah yang tepat atau salah, karena sesaat saya membaca di berbagai artikel mengenai dirinya, saya termakan spoiler kelas dewa yang membuat saya membatin di dalam hati "I NEED TO READ BERSERK!!", dan dari situlah perjalanan panjang saya bersama Berserk dimulai.

Segala yang saya inginkan semuanya ada di Berserk. Mulai dari karakter-karakter protagonist yang berbeda dari biasanya, jalan cerita yang tidak serta merta membicarakan impian pemeran utama, karakter yang dipenuhi dengan anti-hero, pokoknya apa yang terdapat di Berserk berhasil menghilangkan dahaga saya dan membatin "INI YANG GW CARI". Kehidupan yang ada di dalam dunia Berserk membuat dunia Shingeki No Kyojin tidak apa-apanya. Tidak hanya diisi dengan iblis-iblis menyeramkan haus darah, dunia Berserk diperparah pula dengan tokoh-tokoh di dalamnya yang seolah tanpa moral dan benar-benar menganut sistem hukum "Yang kuat dia lah yang bertahan." Apa yang Miura ingin sampaikan dengan brutalnya kehidupan di animanga Berserk sederhana, yaitu menunjukkan bila manusia sebenarnya hanya makhluk yang didorong oleh keinginan yang lahir dari nafsu itu sendiri. Contoh yang paling gampang ya liat saja Griffith. Hampir 100% penggemar Berserk membenci dengan keputusan Griffith di penutup Golden Age Arc, tetapi saya yakin, ketika ditanya apakah kalian bisa mengambil keputusan yang berlawanan dengan Griffith, hampir semuanya pasti akan bungkam karena mau tidak mau kita harus mengakui bila keputusan yang diambil Griffith itu sangatlah beralasan, dilihat dari karakterisasinya maupun apa yang telah ia alami sebelumnya. Perihal yang satu ini lah yang menjadi satu dari sekian banyak alasan mengapa Golden Age Arc merupakan arc terbaik yang pernah saya baca di dunia animanga. Tidak ketinggalan juga kadar gore, hujan darah, kepala terpenggal, badan terbelah, bukanlah pemandangan asing yang akan kalian temukan di seri Berserk yang otomatis menjadikan Berserk bukanlah santapan yang tepat bagi mereka yang belum terbiasa dengan hal-hal tersebut.

Untuk menghadapi dunia yang kejam seperti itu, diperlukan lah karakter utama yang mampu membuat penikmat-penikmat animanga seperti saya percaya bisa bertahan di dalam kondisi berantakan tersebut, dan karakter tersebut tidak lain tidak bukan adalah Guts, dimana saat saya telah menyelesaikan Golden Age Arc, saya menasbihkan Guts adalah karakter badass terbaik di sejagat dunia komik, hell, he's the role model that I've been searching for long time. Characters writing merupakan aspek terbesar mengapa Berserk layak dinobatkan sebagai manga terbaik saat ini. Baik karakter utama maupun pendukungnya mendapatkan porsi characters development tiap arc. Ambil contoh seperti tiga karakter utama di Golden Age Arc yaitu Guts, Griffith dan Casca yang mengalami perubahan signifikan kala Golden Age Arc menutup tirainya. Griffith mengalami penderitaan yang mungkin tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, Casca yang membuka hatinya kepada Guts yang sebelumnya merupakan pria yang paling ia benci dan Guts mulai kembali percaya akan adanya rekan seperjuangan yang bisa ia percaya dan ia anggap teman. Semuanya mengalir apa adanya tanpa ada sedikitpun terkesan terburu-buru maupun dipaksakan. Miura tidak berhenti disitu, karena setelah Golden Age Arc pun karakter-karakter yang terlibat di masing-masing arc tetap mendapatkan pengembangan, seperti Farnese dan Serpico yang mampu menutupi kekosongan yang ditinggalkan oleh Casca sebelumnya (if you know what I mean). Namun memang akan selalu ada perlakuan spesial dari sang author untuk karakter utamanya dan itulah yang Miura lakukan di Berserk dengan menjadikan Guts, sang tokoh utama, sebagai tragic hero.

Bukan tanpa alasan mengapa saya menjadikan Guts sebagai role model di dalam kehidupan saya. Apabila kalian telah membaca Berserk paling tidak menghabiskan Golden Age Arc saja, pasti menyadari betapa berat kehidupan yang Guts telah jalani. Sedikit backstory mengenai Guts, ia lahir dari wanita yang telah menjadi mayat, diadopsi oleh tentara bayaran yang tidak mengajari apapun selain berperang atau mengayunkan pedang. Masa kecil Guts diisi dengan kerasnya dunia perang, dan kala dirinya menemukan figur seorang ayah di diri Gambino, tentara yang mengadopsinya, Guts malah dikhianati dengan cara yang keji, yang membuat Guts memiliki masalah dalam mempercayai akan adanya teman. Dan ketika ia menemukan tempatnya di Band of the Hawk, Guts kembali menerima kenyataan pahit (well, just watch/read closing of Golden Age Arc). Guts merupakan contoh sempurna dalam mendefinisikan tragic hero itu sendiri. Yang membuat karakter Guts mengagumkan adalah, tidak perduli dengan kesakitan, kepahitan, kehilangan, pengkhianatan yang telah ia alami, Guts menolak untuk menyerah, dan tetap melangkah kedepan, sehingga saya sangat berharap Miura akan mengakhiri kisah Berserk dengan Guts mendapatkan akhir yang layak ia dapatkan.

Mungkin ada alasan tertentu mengapa versi anime nya, terutama versi yang terbaru, tidak mampu menggambarkan atmosfir sesungguhnya Berserk, ya karena material yang harus diangkat ke versi anime memiliki kualitas art dewa semacam ini




Just, holy shit. Perhatikan bagaimana Kentaro Miura begitu memperhatikan detil sekecil apapun, dan tidak hanya keunggulan dalam goresan artistiknya, Miura pun dengan sukses membangun suasana horor di dunia Berserk. Melihat gambar dewa Miura ini saya bisa memahami mengapa Miura sering mengambil hiatus dalam penerbitan manganya. Hal ini mungkin keputusan yang menghasilkan kekecewaan dari sebagian fans yang tidak sabar lagi ingin melihat Guts mendapatkan apa yang ia berhak dapatkan, tetapi saya pribadi tidak keberatan, asal kualitas Berserk tetap stabil dan tidak mengalami penurunan kualitas baik dari penceritaan maupun art nya. Justru yang menjadi minor complaint dari saya adalah seringnya Miura menempatkan berbagai monster-monster atau pun juga karakter yang memiliki kekuatan supernatural yang bagi saya berlebihan. Juga karakter-karakter pendukung yang seringkali mengambil spotlight Guts sebagai protagonist utama, dimana tidak jarang Guts hanya dijadikan karakter yang melawan musuh-musuh hebat tanpa adanya motif yang kuat dibelakangnya. Padahal pertarungan-pertarungan yang terjadi di Golden Age Arc atau di Conviction Arc merupakan pertarungan yang personal bagi Guts sehingga para penggemar merasakan antusias memperhatikan jalannya pertarungan itu.

Yah, walau bagaimanapun, Berserk adalah karya yang pantas sekali dinobatkan sebagai karya klasik yang sampai kapanpun akan tetap menarik untuk diikuti. Bagi kalian yang ingin mencoba Berserk, mungkin lebih baik dimulai dulu dari versi anime nya pada tahun 1997. Jangan terlalu dipikirkan mengenai grafis anime nya yang terlihat kaku atau pun tua, perhatikan jalan ceritanya maupun karakternya yang mampu membuat kita merasa terikat.

Berserk versi Manga = 9,5/10

Berserk versi Anime 1997 = 8,5/10

Berserk versi Movie Trilogy = 8,25/10

Berserk versi Anime 2016 = 6,5/10


Monday, 24 April 2017


"I'm T.S... motherfuckin'-A. We handle shit. That's what we do. Consider this situation... fuckin' handled"-Rod Williams

Story

Seorang fotografer muda bernama Chris (Daniel Kaluuya) diundang sang pacar Rose Armitage (Allison Williams) untuk datang kerumahnya dan bertemu dengan keluarga. Chris yang awalnya sempat ragu menerima undangan Rose tersebut karena khawatir dengan perlakuan keluarga Rose setelah mengetahui bahwa dirinya berkulit hitam, malah diterima dengan hangat oleh ayah dan ibu Rose, Dean (Bradley Whitford) dan Missy Armitage (Catherine Keener)), walau Chris sempat risih dengan sikap tidak mengenakkan yang datang dari dua pelayan keluarga Armitage yang juga berkulit hitam.






Review

Sulit memang membedakan genre film thriller dan horror karena pada dasarnya dua genre film tersebut menggunakan formula yang hampir sama, yaitu memberikan teror mencekam kepada para penonton sehingga mereka tidak merasakan rasa nyaman di kursi mereka. Jika membicarakan film favorit pada genre serupa, tampaknya Psycho tetaplah menjadi pilihan saya, karena susah sebenarnya terpuaskan dengan film yang kita telah tahu akhir kisahnya bagaimana, namun tetap terpuaskan berkat atmosfir horornya yang sangat kental dan tidak lupa ceritanya yang sederhana namun efektif guna menjadi fondasi. Tahun 2017 baru menyentuh di awal-awal tahun dan telah menghasilkan sebuah sajian thriller menyenangkan yang hebatnya juga terasa sangat orisinil bila membicarakan ide ceritanya.

Tidak menggunakan formula-formula dasar horror pada umumnya seperti rumah tua misterius ataupun penampakan-penampakan hantu, sang sutradara Jordan Peele menggunakan formula seperti Hitchock lakukan yaitu menggerakkan awal narasinya dengan begitu tenang, berjalan perlahan walau tetap masih ada beberapa momen yang mungkin sukses membuat jantung penontonnya sedikit berdetak dengan kencang. Namun bila dilihat secara garis besar, tidak ada teror yang berarti di awal-awal film. Peele tampaknya sengaja menyajikan ceritanya sedemikian rupa untuk memainkan pikiran ataupun persepsi penonton dengan menebak-nebak seperti apa yang dilakukan oleh Chris. Ya, posisi penonton dengan Chris sama, yaitu sama sekali tidak tahu menahu di tengah kondisi dan lingkungan yang asing sehingga hanya bisa menerka-nerka konflik utama apa yang ditawarkan oleh Peele guna memberikan keseruan bagi penontonnya. Disinilah letak keasyikkan Get Out, yang mengingatkan kembali film thriller indie tahun lalu yaitu The Invitation. Namun Get Out tetaplah berbeda, karena selain kental dengan nuansa thriller nya, Get Out juga mengangkat tema sensitif yaitu perbedaan ras kulit, yang mungkin saja ini adalah yang pertama kalinya diangkat ke media film dalam ranah thriller ataupun horror. Hal ini lah yang membuat Get Out sangat terasa orisinil, dengan membawa penontonnya seolah kembali ke periode Amerika lalu yang masih kental dengan diskriminasi perbedaan warna kulit.

Hingga pada durasi mendekati 1 jam film berjalan, barulah Peele mengungkapkan jawabannya yang jujur masih memberikan efek kejut kepada saya walaupun sebelum terungkapnya jawaban tersebut, saya telah memiliki jawaban yang sama persis seperti apa yang Peele sajikan. Hebatnya, untuk menyajikan twist nya tersebut, Peele telah mempersiapkan beberapa clue sekecil apapun sebelumnya yang bisa saja luput dari perhatian penonton, seperti ketika Rose menentang keras opsir polisi yang ingin melihat kartu identitas Chris. Selama 104 menit tidak ada rasanya momen-momen yang terjadi tanpa alasan. Semuanya memiliki motif yang jelas demi menghadirkan twist nya di pertengahan.

Peele pun juga telah menyiapkan parade berdarah di ujung penceritaan yang walau tidak terlalu terasa intens seperti The Invitation atau terlalu banjir darah, namun parade itu telah cukup untuk menjadi konklusi yang memuaskan dan menghilangkan rasa haus akan darah bagi para pecinta film gore yang mungkin merasakan durasi satu jam lebih sebelumnya terasa membosankan akibat pergerakan narasi yang cukup lambat disebabkan Peele ingin bermain-main dengan pikiran penontonnya. Saya sendiri merasakan intensnya penceritaan saat pesta yang diadakan keluarga Rose, dimana rasa tidak nyaman yang Chris rasakan juga mampu menular ke saya. Sebuah sajian menyenangkan dari Peele yang semoga saja diikuti oleh film-film horror lainnya di sisa tahun 2017.

8/10

Saturday, 15 April 2017

"So, this is what it feels like."- Logan

Plot

Bersamaan dengan para mutan semakin terancam akan kepunahan, Wolverine a.k.a Logan (Hugh Jackman) mencoba bersembunyi di suatu daratan Mexico dengan bertahan hidup bekerja sebagai supir limosin. Dari hasi kerjanya itu juga, Logan mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk bisa membeli kapal pribadi supaya bisa hidup tenang di lautan bersama sang mentor, Profesor Charles Xavier (Patrick Stewart) yang kini kondisinya tengah mengidap ganasnya penyakit alzheimer. Namun ternyata rencana Logan tidak semulus yang ia harapkan ketika dirinya bertemu dengan gadis misterius, Laura (Dafne Keen).




Review

Tak diragukan lagi, diantara mutan-mutan lainnya dalam X-Men Universe, Wolverine a.k.a Logan merupakan karakter yang memiliki basis fanbase terbesar dan juga paling populer yang mungkin hanya bisa tersaingi oleh Magneto. Maka tidak heran jika dirinya selalu menjadi protagonis utama di film-film X-Men plus dua film solo mengenai dirinya telah ditelurkan sebelumnya. Bukan hanya karena ingin mengeruk uang lewat memanfaatkan nama besar Wolverine, tetapi dilihat dari karakter juga Wolverine yang paling kaya akan kompleksitas dan tidak one dimensional. Belum lagi membicarakan tentang design character serta signature nya yang makin menobatkan Wolverine adalah mutan paling keren. Namun sayang, dua film tentang Wolverine sebelumnya belum mampu memuaskan para penggemar. Film Wolverine pertama terlalu lembek, dengan mengorbankan karakter Wolverine nya yang garang, sedikit bermelow drama dengan unsur romance nya. Sedangkan film keduanya terlalu berpusat kepada aksi seperti film superhero generik lainnya sehingga melupakan pendalaman karakter pada sang titular karakter. Para penggemar, termasuk saya, tentu mengharapkan sebuah film Wolverine yang memenuhi ekspektasi tanpa harus menghilangkan jati diri Wolverine itu sendiri. Dan hadirlah Logan di tahun ini, yang bukan hanya menjadi kado perpisahan yang manis untuk Logan serta si pemeran karakter ikonis ini, Hugh Jackman, yang tidak bisa membohongi usianya sehingga harus meletakkan cakar adamantiumnya untuk diserahkan kepada generasi selanjutnya.

Bila The Dark Knight menjadi pelopor pendewasaan pada genre superhero, maka tidak berlebihan rasanya bila Deadpool, film superhero R-rated pertama, tahun lalu menjadi bukti shahih bila genre superhero tidaklah harus PG-13 untuk menyenangkan penggemar serta meraup kesuksesan. Keputusan untuk mengikuti jejak Deadpool sangatlah tepat dikarenakan kekuatan tebasan Wolverine itu sendiri, juga ditilik dari watak Wolverine yang kasar, juga beringasan layaknya binatang buas. Dengan rating R nya itu pun memberikan keleluasaan bagi James Mangold untuk menghidangkan aksi yang penuh darah akibat sayatan-sayatan cakar tajam Wolverine, dialog-dialog yang menyelipkan sumpah serapah dan tema cerita dewasa pula. Namun cukup di ranah aksinya saja Mangold bersenang-senang berkat rating R nya, karena dengan rating R nya pula lah penonton melihat sisi lain dari sang pahlawan tercinta ini, dan jujur itu merupakan pengalaman menonton yang memilukan. Ya, siapa yang tidak heartbreaking melihat jagoan masa kecil kebanyakan orang ini terlihat begitu lemah akibat kondisi fisiknya yang terlalu tua, sehingga mengalahkan tiga berandal amatiran saja dirinya begitu kesusahan?

Salah besar jika kalian mengharapkan sosok Wolverine yang badass dan ganas seperti biasanya di dalam Logan, karena apa yang kita saksikan adalah sosok pria dewasa biasa yang menghabiskan hari-harinya dengan minum-minuman beralkohol. Dirinya juga harus menerima kenyataan bila fisiknya telah termakan usia, sehingga setiap kali datangnya musuh, Wolverine mengambil langkah realistis dan mencoba kabur dari kejaran mereka. Bahkan akibat faktor usia pula lah, kemampuan memulihkan diri Wolverine menurun drastis, dimana biasanya dia mampu memulihkan diri dari luka secara total hanya memakan wakut beberapa detik saja, sekarang bukan hanya pemulihannya memakan waktu lama, namun juga meninggalkan bekas di tubuhnya. Terlebih setiap kali dirinya terlihat menderita akibat serangan-serangan yang ia terima, yang tidak jarang mengundang raut muka kesedihan saya setiap kali menyaksikannya.

Rasa trenyuh juga membuncah kala menyaksikan Profesor X yang tampak begitu memprihatinkan akibat penyakit yang dideritanya sehingga ia tidak mampu lagi mengendalikan kekuatan pikirannya. Tidak ketinggalan dari situ saja, Mangold pun menyelipkan sebuah info kecil yang mampu menghancurkan masa kecilmu, apalagi bila kalian adalah penggemar berat X-Men. Semua aura depresif itu terbantu pula dengan suasana gersang nan tandus kota Meksiko, menjadikan Logan bukanlah tontonan bagi penonton yang telah terbiasa dengan formula superhero biasanya. Untuk pertama kalinya lewat film solo nya, Wolverine mendapatkan perlakuan yang layak, dengan memperdalam karakterisasi tanpa harus melepaskan atribut garangnya, itu juga mungkin alasan Mangold lebih memilih judul Logan tanpa embel-embel Wolverine nya yang harus diakui jauh lebih dikenal luas oleh publik.

Dalam Logan, screenplay yang ditulis pula oleh Mangold memang menekankan pada sisi drama, tetapi bukan berarti Mangold melupakan kadar aksinya. Dan disinilah peran aktris cilik Dafne Keen yang menjadi highlight tersendiri berkat kebengisan dia kala beraksi, yang menjadikan sosok Hit Girl-nya Chloe Grace Moretz hanya tampak bagai putri Disney kala harus bersanding dengannya. Sifatnya yang pendiam juga berhasil menyuntikkan dosis badass kedalam diri Laura. Saya juga menyukai keputusan Mangold untuk tidak mengistimewakan Laura hanya disebabkan dirinya adalah gadis kecil. Dia tetap mendapatkan treatment yang sama dengan menerima serangan-serangan brutal dari musuhnya. Setiap adegan aksi pun nihil dengan kesan bombastis dan juga efek CGI untuk tetap menjaga fokus kesan realistisnya. Dafne Keen mungkin tampil meyakinkan sebagai Laura, sang mutan baru penerus Wolverine, namun ini adalah film Wolverine a.k.a Logan, yang juga berarti ini adalah filmnya Hugh Jackman.

Hugh Jackman beruntung sebelum memerankan Logan yang harus mengeluarkan humanisme dan kerapuhannya, Jackman sempat memerankan peran yang memang menuntut ia untuk mengeluarkan akting yang emosional seperti di dalam film Les Miserable dan Prisoners, sehingga range akting Jackman pun meluas yang membuat dirinya tidak kesulitan dalam memerankan Logan yang depresif, renta dan tidak powerful seperti dulu lagi. Totalitas aura depresif yang ditawarkan selalu terlihat baik dari caranya berjalan, berbicara dengan nafas yang ngos-ngosan, diikuti juga tatapan lusuhnya, seolah penderitaan yang tampak cukup untuk dirasakan dan menular kepada penonton. Ya, dalam peran terakhirnya sebagai Logan ini pula lah, Jackman mengeluarkan akting berkelas Oscar di ranah superhero, yang menambah rasa emosional kala film berakhir. Patrick Stewart pun memberikan persembahan terakhirnya sebagai Charles Xavier dengan manis berkat sentuhannya yang bagaikan mentor dan seorang ayah untuk Logan. Interaksi mereka maupun omelan Charles tidak jarang memberikan comic relief  sejenak melepaskan diri dari atmosfir kental depresifnya.

Kisah adaptasi lepas ini akhirnya berhasil memenuhi rasa dahaga para fans, dengan penceritaan yang sangat membumi, memperlihatkan sisi lain Wolverine yang sangat tidak nyaman untuk diikuti, terutama untuk pecintanya. Sebuah "upacara" perpisahan berdurasi 142 menit yang sangat layak namun emosional. Dan semoga film ini tidak membuat kapok anak-anak kecil yang terlanjur menikmati film ini untuk menyaksikan kembali film superhero yang makin lama makin meninggalkan pangsa pasar demografi anak kecil.

8/10

Monday, 10 April 2017

"Wondering if you're happy is a great shortcut to just being depressed."-Dorothea

Plot

Ditengah kondisi Amerika yang berada dalam krisis kepercayaan diri di tahun 70an, seorang single mother bernama Dorothea (Annette Bening) juga ikut kerepotan dalam menangani anak satu-satunya yang ia miliki, Jamie (Lucas Jade Zumann), yang tengah menginjak usia remaja. Sadar bahwa ia tidak bsia sendirian dalam menjaga pergaulan Jamie, Dorothea pun meminta bantuan dua wanita yang dekat dengan Jamie, Abbie (Greta Gerwig) dan Julie (Elle Fanning).




Review

Ada ungkapan umum yang mengatakan bila dimata seorang ibu, anak yang dimilikinya tetap akan selalu anak kecil entah berapapun usia nya. Mungkin ungkapan tersebut ada benarnya melihat bagaimana seorang ibu selalu saja mencoba mengingati seorang anak sampai kapanpun mana yang benar dan mana yang salah, dan berusaha melakukan apapun demi membuat sang buah hati bahagia. Bagi anak, mungkin perlakuan seorang ibu akan mengesalkan, terutama untuk mereka yang merasa telah dewasa. Namun mau bagaimana lagi, itulah sifat alami seorang ibu. Mike Mills, lewat 20th Century Woman, mencoba menyampaikan rasa cintanya terhadap sang ibu yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan remajanya.


Pada dasarnya, 20th Century Women hanyalah berpusat pada kekhawatiran seorang ibu, Dorothea, yang single parent terhadap perkembangan anaknya, Jamie, di tengah kondisi negara Amerika yang kesulitan di tahun 70an. Selain itu, dirinya juga memikirkan usia Jamie yang memasuki usia remaja sehingga otomatis Jamie tengah mengalami masa-masa pencarian jati diri, dilengkapi pula dengan sifat memberontaknya yang sulit terkendali. Jamie merasa dirinya tidak terlalu cocok dengan pandangan sang ibu dan salah satu faktor penyebab yang diyakini oleh Jamie adalah perbedaan zaman yang mereka hadapi sehingga Jamie menganggap apa yang dipikirkan Dorothea itu kolot dan ketinggalan zaman.Ya, sebenarnya itu lah pusat penceritaan. tetapi karena Mike Mills disini mengeksplor pondasi cerita itu beriringan pula dengan hubungan Jamie dengan dua wanita yang kebetulan dekat dengan dirinya. Lewat interaksi mereka, Mike Mills memasukkan beberapa elemen seperti cinta, dunia punk, dan tidak ketinggalan kebebasan, berdasarkan apa yang Abbie dan Julie coba perkenalkan kepada Jamie. Menit demi menit mengikuti interaksi mereka, muncul pertanyaan terlintas, apakah memang Jamie membutuhkan semua itu untuk dianggap "dewasa"? Cerita coming-of-age nya sendiri coba dihubungkan dengan kisah feminis nya, yang tidak bisa dipungkiri cukup kental atmosfirnya (mungkin karena itu pula judulnya 20th Century Woman). Karakter Jamie disini memang terlihat polos bila atribut rasa ingin kebebasan serta sifat rebel nya dilucuti dari dirinya. Lihatlah begitu mudahnya ia menelan mentah-mentah setiap pelajaran yang diberikan oleh Abbie dan Julie, yang tak jarang pada akhirnya merepotkan dirinya maupun sang ibu. Yang cukup disayangkan, penceritaan Jamie berhubungan dengan Abbie dan Julie malah cukup menenggelamkan kisah Jamie dan Dorothea sendiri. Awalnya kebersamaan mereka berdua cukup mendominasi, namun lama kelamaan keduanya jarang tampil di satu layar. Hal ini menyebabkan konklusi yang di akhir tidak cukup memuaskan karena terkesan tiba-tiba. Ditambah pula chemistry Jamie dengan Abbie dan Julie terasa kurang sehingga setiap narasi menceritakan kisah Jamie sedang bercengkerama dengan mereka berdua, disitu pula rasa interest saya cukup berkurang. Berbeda saat Dorothea hadir satu layar dengan Jamie, yang tidak pernah gagal merebut atensi saya.

Meski Jamie merupakan sumber penceritaan, tidak serta merta Mike Mills melupakan karakter-karakter sampingannya. Semuanya mendapatkan backstory yang adil, dengan tujuan untuk penonton mencoba memahami keputusan-keputusan yang telah diambil tokoh-tokoh yang terlibat. Dua karakter perempuan lainnya, Abbie dan Julie, masing-masing mewakili dua gadis dewasa mandiri yang memiliki masalah dengan ibu mereka. Julie sendiri memang tidak terlalu jauh beda umurnya dengan Jamie, tetapi bukankah wanita selalu mengalami kedewasaan diri lebih cepat dibanding pria? Keduanya mungkin berpikiran dewasa, tetapi tidak menutupi kenyataan bila mereka masih memiliki emosi yang labil dan butuh kasih sayang orang tua. Untuk Abbie, sosok Dorothea merupakan wanita yang ia hormati dan mungkin telah dianggapnya seorang ibu bagi dirinya. Berlainan dengan Julie yang seolah mengusahakan bila dirinya tidaklah butuh figur orang tua dalam hidupnya. Memang bila diukur dari screentime, karakter William sedikit terpinggirkan, namun bukan berarti dirinya tidak memiliki pengaruh sama sekali dalam pergerakan cerita. William digunakan oleh Mills adalah pria dewasa yang bisa mengisi rasa kekosongan Dorothea yang telah lama tidak bergaul dengan pria sebaya dirinya semenjak bercerai dengan suaminya. Semua kisahnya bagai lingkaran yang saling mengisi, minim pula letupan-letupan konflik menghiasi menjadikan kisah 20th Century Woman begitu sederhana, seperti kehidupan sewajarnya.

Annette Bening mungkin sering menghabiskan karirnya selama ini berperan sebagai supporting actress, tetapi bukan berarti pula dirinya kesulitan ketika memainkan peran utama. Sebagai Dorothea, Bening tentu tidak kesulitan memerankan single parents yang diliputi kesepian. Karakter Dorothea disini memang terlihat tenang, tetapi lewat ekspresi subtil yang Bening tampilkan, terlihat jelas bila Dorothea mengharapkan seorang pendamping dalam mendidik Jamie. Sayang memang cerita mengenai mengapa pernikahannya harus berakhir dengan perceraian tidak terungkap. Hampir tidak ada memang yang mampu menyaingi pesona Bening kala berinteraksi dengannya. Tapi cast lainnya sudah cukup berhasil memainkan karakter mereka masing-masing. Seperti Elle Fanning yang sukses menjadikan karakter Julie tetap menawan walau dengan perilaku nya yang bitchy, atau ekspresi depresi namun diiringi dengan ketegaran seorang perempuan yang ditunjukkan oleh Greta Gerwig.

20th Century Women mungkin bukanlah sajian yang terlalu berkesan, namun Mike Mills tidak dipungkiri sukses menawarkan kehangatan kasih sayang sang ibu di tengah sikap bandel seorang anaknya yang mengalami proses transisi, penuh dengan rasa memberontak di usia remaja. 20th Century Women beruntung memiliki Annette Bening yang sekali lagi menunjukkan performa apiknya yang menunjukkan bila dirinya pun mampu memerankan karakter utama, tidak hanya menjadi "side kick" belaka. 


7,5/10

Saturday, 8 April 2017


"Do you guys feel like this whole process is kinda like, life telling us to just maybe move on?" -Bill

Plot

The Commune merupakan grup improvisasi komedi yang telah 11 tahun berdiri dan melakukan pertunjukan di gedung Improve America Theater. Grup tersebut beranggotakan Jack (Keegan-Michael Key), Miles (Mike Birbiglia), Bill (Chris Gethard), Sam (Gillian Jacobs), Allison (Kate Micucci) dan Lindsay (Tami Sagher). Pada suatu kesempatan, perwakilan dari acara tv terkenal, This Weekend Live, menyaksikan performa mereka dan ternyata tertarik dengan penampilan Jack dan Sam sehingga mereka pun berniat mengaudisi Jack dan Sam supaya bisa bergabung di acara tv tersebut.




Review


Berbagai profesi memang memiliki tantangan serta kesulitannya tersendiri, bahkan pekerjaan yang kita pandang terlihat mudah tetap saja ada rintangan nya. Dan salah satu profesi yang paling sukar untuk dikerjakan adalah pelawak atau komedian. Bukan hanya mereka harus selalu menciptakan materi-materi lawakan yang baru dan fresh, mereka juga harus memperhatikan timing, mengerti selera penontonnya dan terakhir cara delivery nya, dengan sejenak melupakan problematika kehidupan yang mereka alami demi menghibur penonton yang menyaksikan mereka. Semakin sulit lagi bila komedi nya dilakukan secara improvisasi, atau dengan kata lain tanpa script sama sekali. Dalam Don't Think Twice, kita diajak menjadi saksi kehidupan di balik layar para anggota The Commune, kelompok komedian berisikan 6 orang yang melakukan pertunjukan komedi lewat improvisasi. Bahan dasar materi yang selalu mereka bawakan adalah jawaban dari penonton kala Sam melontarkan pertanyaan "Has anybody out here had a particularly hard day?"

Komedi yang ditawarkan selalu berhasil. Improvisasi komedi yang tiap karakternya bawakan terasa natural, mereka terlihat sangat kompak dalam menyambut improve dari tiap anggotanya, belum lagi impersonate yang mereka lakukan, baik di atas panggung maupun diselingi dalam percakapan sehari-hari. Setiap kita menyaksikan aksi komedi yang The Commune lakukan, disitu juga muncul benih-benih keterikatan penonton dengan kelompok ini. Ditambah juga kedekatan mereka di luar panggung yang terlihat seperti keluarga. Saya pribadi begitu mencintai mereka sehingga kala konfliknya menyeruak ke permukaan, saya tahu arahnya ke mana dan tidak ingin ketakutan saya benar-benar terjadi menimpa The Commune. 

Komedinya pun terkadang muncul kala momennya tengah berduka, ataupun saat berseteru. Salah satu contohnya adalah pada puncaknya konflik dan terlibat adu mulut antara Miles dan Lindsey, yang saya pun pertama kali tidak aware dengan komedinya tetapi beberapa detik kemudian baru lah saya menyadari maksud jawaban dari Lindsey.

Premis dari naskah yang ditulis juga oleh Mike Birbiglia mengundang pertanyaan apakah impian perlu dikejar bila kita telah mendapatkan apa yang sebenarnya telah membuat kita nyaman dan bahagia. Perlukah meninggalkan itu semua demi keinginan pribadi? Mungkin pertanyaan itu sulit dijawab karena setiap individu pasti memiliki impian dan telah sewajarnya ketika ada kesempatan untuk mendapatkannya, kita harus memanfaatkannya. Tetapi apakah kenyamanan yang ada layak untuk dikorbankan? Naskah nya memang tidak menawarkan hal yang baru. Bila kalian memiliki pengalaman menonton cukup banyak, saya yakin kalian telah bisa menebak jalan ceritanya akan mengarah ke mana dan berakhir seperti apa. Tetapi ceritanya tetap menarik diikuti karena Mike Birbiglia telah berhasil membuat penonton perduli dengan kebersamaan The Commune. 

Penceritaan tetap terfokus kepada konflik yang terjadi di dalam The Commune, walau memang tetap ada sub plot masing-masing karakter, namun Mike Birbiglia menjadikan sub plot tersebut sebagai pondasi dalam konflik utamanya, sehingga dalam durasi 92 menit jalannya narasi sama sekali tidak pernah terasa melebar. Dan sebenarnya dalam durasi yang cukup singkat itu, cukup sulit untuk membuat tiap karakter yang terbilang cukup banyak ini tidak terlupakan. Tetapi ternyata Mike Birbiglia berhasil membagi porsi nya dengan lumayan adil. Memang tetap akan ada yang mendominasi, tetapi karakter yang lain tidak dikorbankan sehingga penonton tidak melupakan kehadiran mereka berkat di eksplornya konflik pribadi masing-masing dari mereka.

Minor komplain dari saya mungkin keputusan Birbiglia yang terlalu terburu-buru dalam mengakhiri filmnya, dengan menggunakan loncatan waktu yang bagi saya memberikan pertanyaan begitu banyak setelah konflik terjadi sebelumnya. Saya merasa aneh melihat semuanya tampak lancar-lancar saja namun beberapa menit sebelumnya belum hilang di ingatan bagaimana mereka terlibat dalam perseterusan mengenai ego masing-masing. 

Don't Think Twice memperlihatkan kembali begitu susahnya manusia dalam menerima kesukesan yang didapatkan oleh orang yang kita kenal begitu dekat. Rasa senang atau juga rasa iri melebur menjadi satu yang otomatis pula menjadi faktor utama yang mempengaruhi hubungan pertemanan dengan orang sukses tersebut. Tidak menawarkan hal yang baru memang, tetapi Don't Think Twice tetaplah sajian 92 menit yang menghibur juga powerful dengan memperlihatkan susahnya berprofesi menjadi komedian, komedi yang selalu berhasil dan pembagian porsi yang adil terhadap 6 karakter utamanya. 

8/10

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!