Saturday, 22 July 2017


Plot

Mei 1940, 400.000 tentara aliansi tengah terkepung di wilayah perpantaian Dunkirk. Kondisi tersebut tentu saja memudahkan pihak Jerman untuk melancarkan serangan demi serangan. Evakuasi pun coba dilakukan di tengah kondisi pelik itu. Bersama sang anak, Dawson (Mark Rylance) ditugaskan untuk melakukan tugas tersebut dengan kapal yang ia miliki. Di sisi lain, di medan pertempuran udara, Farrier (Tom Hardy) dan Collins (Jack Lowden) melakukan yang mereka bisa untuk mencegah angkatan udara Jerman melancarkan serangan. Tommy (Fionn Whitehead) yang merupakan salah satu dari ratusan ribu tentara aliansi yang terjebak di wilayah Dunkirk pun mencoba semua yang ia bisa untuk bertahan.




Review

Bila Anda merupakan pembaca setia blog saya ini (misalkan ada), Anda pasti tahu bila saya merupakan penggemar Christopher Nolan. Salah satu penyesalan terbesar di hidup saya adalah melewatkan kesempatan dua karya klasik dari Nolan, yaitu The Dark Knight dan Inception di layar besar bioskop. Belajar dari kesalahan besar itu, saya bersumpah untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Film Nolan harus saya saksikan di bioskop karena saya percaya kemampuan Nolan dalam meramu adegan-adegan yang ada di dalam filmnya terasa spesial, dan tentunya saya mengharapkan kejutan di akhir film yang merupakan salah satu signature yang Nolan miliki. Dan saya juga yakin penggemar film seperti saya akan memiliki keinginan yang sama. Setelah Interstellar yang memberikan saya pengalaman menonton yang sangat menyenangkan, maka saat ini Dunkirk juga saya harapkan memberikan kesan yang sama, atau bahkan bisa lebih. Terlebih kali ini, medan perang merupakan sorotan utama cerita.

Saya mengakui bila saya sama sekali tidak mengetahui mengenai sejarah perang Dunkirk yang terjadi di perang dunia kedua, maka saya pun tidak akan mengungkit atau membahas apakah semua yang Nolan angkat disini akurat atau tidak dengan sejarah yang ada. Saya percaya Nolan akan menyajikan sajian perang disini serealistis mungkin yang ia bisa, sama yang ia lakukan di film-film yang ia garap sebelumnya. Nolan yang kali ini tidak didampingi sang adik dalam menulis naskah menggulirkan plot penceritaan lewat tiga kejadian, yaitu yang pertama menceritakan satu minggu di tepi pantai Dunkirk dimana penonton akan melihat perjuangan Tommy untuk menyelamatkan diri, kemudian ada pertempuran udara yang diceritakan berlangsung satu jam dan terakhir satu hari perjalanan Dawson menuju Dunkirk. 

Ketika melihat rating MPAA Dunkirk adalah PG-13, Saya sempat khawatir bila Dunkirk akan kehilangan atmosfir seram peperangan dengan absennya darah yang bermuncaratan serta mayat bergelimpangan yang dipenuhi dengan darah. Hal itu perlu karena kita semua tahu, bahwa perang merupakan panggung akan kematian. Maksud saya, coba lihat yang dilakukan Mel Gibson pada Hacksaw Ridge, Gibson tidak sungkan-sungkan menakuti penontonnya dengan potongan-potongan tubuh, usus yang tercerai berai demi meyakini penonton akan betapa kejamnya dunia perang yang ada. Untungnya Nolan memiliki kemampuan dalam memacu adrenalin tanpa harus memperlihatkan kematian-kematian para tentara dengan mengekspos potongan-potongan tubuh akibat terkena bom-bom yang dijatuhkan angkatan udara Jerman. Nolan melakukan pendekatan dengan slow burn, contohnya saja seperti Tommy dan Gibson berpacu dengan waktu membawa korban dengan tandu ke kapal evakuasi. Nolan tahu benar bagaimana menyajikan momen-momen di filmnya terlihat spesial. Mungkin hal itu juga yang menyebabkan kombinasinya bersama Hans Zimmer selalu berhasil. Kontribusi scoring Zimmer di Dunkirk jelas tidak bisa dikesampingkan. Berkatnya setiap scenes yang memperlihatkan karakter-karakter disini dalam bahaya lebih terasa menegangkan. Oh, tidak lupa juga sinematografer Hoyte Van Hoytema yang tampaknya akan terus terlibat bersama Nolan kedepannya setelah melihat pekerjaannya disini. Hoytema berhasil dalam menangkap gambar demi gambar yang tak bisa dijelaskan akan keindahannya, terutama di bagian pertarungan udara. Hamparan laut serta langit biru menjadikan setiap pertempuran yang telah sering ditampilkan dalam media film terasa berbeda dan tidak bosan-bosan untuk dilihat ulang.

Para penonton yang telah menikmati karya-karya Nolan sebelumnya pasti telah mengekspektasikan bila plot di Dunkirk tidak akan berjalan linear. Namun plot di Dunkirk terasa berbeda karena yang menjadi fokus disini adalah karakter-karakter yang berbeda, sehingga potensi permasalahan mengenai pacing pasti akan muncul. Disinilah terlihat kematangan Nolan dalam menjaga tensi yang ada. Nolan melakukan transisi dari setiap penceritaan dengan mulus, yang menyebabkan  pacing bukan permasalahan di Dunkirk, melainkan adalah keputusan Nolan yang menggarap sejarah penyelamatan tentara ini dengan realistis dan tidak salah rasanya bila Dunkirk bagaikan semi dokumenter sejarah. Ya, Dunkirk bagaikan materi sejarah mengenai World War II yang sedang dipresentasikan Nolan kepada para penonton yang merupakan mahasiswanya. Memang, Nolan telah terkenal dengan mengambil pendekatan berbeda di setiap film-film blockbuster nya, tetapi sayangnya keputusan itu merupakan salah satu poin yang sedikit fatal bagi saya yang menjadikan Dunkirk, sejauh ini adalah film terlemah dari Nolan.

Keputusan Nolan tersebut mengakibatkan tidak adanya ruang eksplorasi mendalam terhadap karakter-karakter utamanya. Jujur, saya saja hanya teringat 3 nama saja disini saking kurangnya saya mengenal mereka, bahkan nama karakter Tommy yang diperankan Fionn Whitehead saya ketahui lewat website imdb. Hal ini juga mengakibatkan para aktor-aktor nya tidak mampu mengeluarkan kemampuan akting terbaiknya. Tom Hardy kembali harus merelakan muka tampannya (sounds gay?) sebagian besar tertutup, yang menyebabkan dirinya tidak bisa memperlihatkan facial expression yang merupakan salah satu kekuatan terbesar seorang aktor dalam berakting. Mungkin yang sedikit menonjol adalah Mark Rylance berkat screen time nya yang banyak serta juga terlibat dengan momen drama dalam Dunkirk. Cillian Murphy hanya diperlihatkan sebagai tentara yang mengalami trauma tanpa adanya pendalaman sehingga sulit untuk bersimpati terhadap dirinya. Keberadaan Harry Styles tampak jelas hanya dijadikan untuk menggaet para perempuan muda. Mengenai ini, ada kejadian lucu di cineplex XXI tempat saya menonton. Terlihat dua perempuan yang berebutan berfoto di depan poster Dunkirk (foto poster nya sama yang saya pakai diatas) dan meyakini bila pria yang menjadi cover poster tersebut adalah Harry Styles. I mean, what the hell?

Perbedaan yang dilakukan oleh Nolan bisa dimengerti, tetapi penonton seperti saya yang telah dicekcoki perperangan yang dihiasi drama seperti Saving Private Ryan atau yang terbaru, Hacksaw Ridge, membuat saya cukup sulit untuk beradaptasi dan rasanya sulit untuk merasa terikat dengan karakter-karakter disini yang tidak kita kenali dengan lebih baik, yang membuat Dunkirk terasa sedikit kosong. Padahal Nolan bisa memanfaatkan waktunya yang menyentuh 106 menit, seperti mendalami ikatan Tommy dan Gibson. Minim dialog pun turut menghilangkan identitas Nolan yang di film-film sebelumnya rutin menyebarkan kalimat-kalimat yang bisa dijadikan status di Twitter ataupun Facebook. Untungnya Nolan tidak lupa untuk menyuntikkan sisi humanis kepada setiap tentara yang pulang ke tanah air mereka. Sentuhan tersebut dimana Nolan memperlihatkan rasa malu tentara yang malah diselamatkan rakyat sipil, yang seharusnya mereka lindungi. 

Dunkirk tidak jelek, saya tetap menyukainya, dan bahkan rasanya rela untuk merogoh kocek kembali untuk menyaksikan Dunkirk di bioskop, tetapi permasalahan fatal yang saya sebutkan sebelumnya tentu tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Saya merupakan salah satu penggemar Nolan, dan karena itu, saya sangat mengharapkan untuk Nolan menarik diri dahulu dari dunia perfilman blockbuster dan kembali mengerjakan proyek-proyek low budget kriminal seperti Memento atau bahkan Insomnia.


8/10

Thursday, 20 July 2017



21 Juli 2017. Yap, mari sambut comeback salah satu sutradara terbaik saat ini, Christopher Nolan, dengan karya terbarunya, Dunkirk. Sebelum saya mengulas Dunkirk, mungkin akan lebih baik bila kita kembali mengenang semua karya Nolan sebelumnya lewat review singkat saya di bawah ini.

Following (1998)



Film debut Nolan yang juga menyajikan beberapa DNA Nolan yang juga akan hadir di film-filmnya yang akan datang. Alur cerita non-linear, detil cerita yang menyimpan peranan penting dalam menyimpan jawaban di akhir cerita dan tentu saja berbagai kejutan yang hadir pada tiap kesempatan yang tak terduga. Following bagaikan sebuah bukti, terutama bagi para penggemar muda seperti saya yang telat menonton film Nolan bila Nolan adalah sutradara yang memiliki visi luar biasa dalam hal penulisan cerita. Andai saja Following didanai dengan budget kisaran film Hollywood, mungkin saja Following akan ditilik oleh ajang Academy Awards. Twist ending berlapis nya juga merupakan penguat bagi saya bila Master Twist sebenarnya bukanlah M. Night Shyamalan, melainkan adalah Nolan.

8,25/10

Memento (2000)



Following memang karya yang tidak bisa diremehkan dari Nolan, namun dengan budget yang begitu tipis ditambah dengan tidak adanya nama-nama berkelas di jajaran aktornya, membuat Following sedikit terabaikan. Barulah di Memento, seorang Christopher Nolan mulai mencuri perhatian dunia perfilman berkat disokongi nama-nama yang sudah terkenal sebelumnya, yaitu Guy Pearce dan Carlie Anne-Moss. Memento terkenal dengan plot nya yang terlihat kacau tak beraturan, namun setelah beberapa menit kemudian penonton menyadari bila plot tersebut memegang kunci yang penting dalam kepentingan penceritaan. Selain memaksa penonton untuk merasakan penderitaan yang dialami karakter Leonard Shelby, alur cerita itu memiliki nilai substansi dalam menambah dosis tragedi nya kala jawaban di akhir cerita terungkap.

9/10

Insomnia (2002)



Memento ibaratkan gerbang pembuka bagi Nolan untuk terjun ke dunia Hollywood, namun Nolan tidak gegabah untuk menangani film-film berbudget raksasa. Nolan masih tertarik untuk membuat film dengan budget kecil, serta tidak ketinggalan kembali memasang karakter utama dengan gangguan kondisi psikologis. Nolan pun memutuskan meremake film asal Finlandia, yaitu Insomnia. Dari judulnya saja jelas bila karakter utamanya mengidap penyakit susah tidur, akibat berbagai tekanan yang dialami juga kesulitan beradaptasi di daerah Alaska yang tidak mengenal malam hari kala memasuki musim dingin. Insomnia memiliki jajaran aktor kelas wahid semacam Al Pacino, Robin Williams dan Hillary Swank. Berkat Insomnia pula lah, Al Pacino membuktikan dirinya belum kehilangan tajinya sebagai aktor yang memiliki pendalam pada karakter. Al Pacino sempurna memainkan seorang Will Dormer yang terlihat begitu kacau dengan tatapan mata sayu yang ia pancarkan setiap tampil di layar. Selain Al Pacino yang menjadikan Insomnia sebagai ladang pembuktian, Nolan juga membuktikan bila dirinya juga memiliki kapabilitas dalam meramu film yang nihil akan plot non linear dan twist di akhir cerita, walau memang harus diakui hal itu sedikit mengurangi kesenangan kala ekspektasi dari penonton dini seperti saya yang telah menonton Memento dan Inception.

8/10

Batman Begins (2005)



Petualangan Nolan di dunia Hollywood dimulai, dan tidak tanggung-tanggung Nolan langsung diberikan tugas untuk menghidupkan kembali superhero favorit semua orang, the cape crusader, Batman, yang seperti telah kita ketahui bersama sempat mati suri “karir” nya di dunia perfilman akibat hancurnya Batman & Robin garapan Joel Schumacher. Nolan mencoba sedikit meleburkan gaya penceritaannya pada Batman Begins, seperti alur yang kembali non linear pada awal-awal penceritaan, dan pendekatan yang lebih mendalam pada sosok Bruce Wayne sebelum memutuskan untuk menggunakan kostum serba hitamnya dalam patroli malam harinya. Sosok Batman saja baru ditampilkan setelah satu jam durasi berjalan, namun berkat itu juga kehadiran pertama Batman beraksi meninggalkan kesan yang begitu mendalam. Adegan “I’m Batman” yang ada di Begins masih tetap merupakan salah satu momen favorit saya di semua film Nolan. Keputusan Nolan yang lebih memilih untuk mendalami karakter Bruce Wayne dibanding adegan aksinya ternyata berbuah manis karena para penggemar baik penggemar Batman ataupun bukan menyukai keputusan Nolan tersebut. Adegan aksinya walau pun sedikit, tetapi digarap begitu apik dan berkelas, seperti car chase nya yang menjadi ladang debut Batcar yang jauh lebih garang. Sebuah awal yang sempurna untuk mengawali dari trilogy yang di masa akan datang bakal tetap dikenang selamanya.

8,5/10

The Prestige (2006)



Tidak berlangsung lama dari kesuksesan Batman Begins, Nolan kembali dengan kisah yang penuh intrik. Kali ini, ladang bermainnya adalah dunia sulap yang, ya penuh intrik, dan juga kebusukan-kebusukan atau pengorbanan yang dilakukan oleh sang pelakon sulap. Dengan karya adaptasi novel nya yang pertama kali ini, Nolan memperlihatkan bagaimana totalitas dari sang pemeran di atas panggung seperti pesulap bisa merusak kehidupan tidak hanya dirinya sendiri, juga meluas kepada orang yang telah terlanjur tenggelam kedalam kehidupan mereka. Karena The Prestige menceritakan mengenai sulap, maka tidak heran banyak sekali berbagai kejutan dan kelokan yang hadir di menit-menit kala narasi berjalan. Cerita mengenai rivalitas dua karakter utamanya yang saling mensabotase acara sulap satu sama lain pun sangat menarik diikuti, terlebih dua karakter itu dibawakan oleh Christian Bale dan Hugh Jackman yang pada karir perfilman mereka juga memerankan karakter superhero. Namun keputusan Nolan yang banyak menghadirkan kejutan tersebut memunculkan banyak pertanyaan yang tak terjawab, apalagi Nolan juga membelokkan genre film ini sendiri dari psychological thriller biasa ke ranah science fiction yang kurang bisa ditangkap oleh logika akibat pendekatan realistis Nolan sebelumnya. Namun untungnya rangkaian cerita rivalitas tadi, intrik demi intrik dibelakang layar sulap yang dihadirkan, serta tentu twist akhir yang membuat saya menganga, mampu menutupi kekurangan film yang dianggap sebagai film terlemah Nolan ini.

8/10

The Dark Knight (2008)



9,5/10

Inception (2010)



Sukses luar biasa yang diraih Nolan dan Warner Bros. Lewat The Dark Knight tidak hanya mengangkat nama Nolan ke jajaran para sutradara terbaik, tetapi juga menambah jumlah fanbase Nolan. Karya-karya selanjutnya dari Nolan pun pastinya telah ditunggu oleh mereka, dan dua tahun selanjutnya, Nolan kembali dengan karya yang kabarnya telah ia kerjakan satu dekade sebelumnya. Warner Bros mengabulkan mega proyek Nolan ini sebagai wujud hadiah kepada Nolan. Dari berbagai detil sekecil apapun yang hadir pada penceritaan membuktikan bila Nolan memang begitu teliti serta hati-hati dalam menulis Inception. Inception merupakan film yang memiliki aspek yang lengkap, mulai dari penceritaan yang kuat, sinematografi yang memanjakan mata, serta adegan aksi yang menegangkan. Oh tidak lupa juga dentuman musik memorable Hans Zimmer yang kini banyak di contoh di film-film lainnya. Cerita mengenai mimpi yang terdiri berbagai tingkat berisiko dalam meninggalkan plot hole yang begitu banyak, namun berkat ketelitian Nolan itu lah, Inception tidak mengalami hal tersebut. Salah satu karya klasik yang kembali dihadirkan oleh Nolan, dan juga Inception terkenal dengan ending di akhir nya yang memunculkan berbagai diskusi yang tak berkesudahan.

9/10

The Dark Knight Rises (2012)



Sudah menjadi rahasia umum bila film ketiga dari suatu trilogi bagaikan ditempeli suatu kutukan. Kutukan yang mana hasil akhir film ketiga selalu tidak memuaskan. Matrix Trilogy, Spiderman versi Raimi, Back to the Future, bahkan trilogi klasik macam The Godfather pun berakhir sama. Dengan kenyataan itu, sudah wajar bila para penggemar harap-harap cemas dalam menyambut The Dark Knight Rises, terlebih film sebelumnya, The Dark Knight meraih kesuksesan luar biasa yang tentunya sulit untuk disaingi. Ekspektasi penonton, terutama penggemar yang kelewat tinggi pun turut berdampak pada The Dark Knight Rises, yang membuat film ini tidak sedikit yang tidak menyukainya. Padahal The Dark Knight Rises masih memiliki semangat yang sama dengan dua film sebelumnya. Bila di The Dark Knight pesona Batman atau Bruce Wayne sedikit dibayangi akan kehadiran The Joker, di film ini kembali sosok Bruce Wayne menjadi sorotan utama, meski berbagai nama-nama baru bermunculan disini, namun tetap, The Dark Knight Rises menceritakan bagaimana usaha Bruce untuk bangkit dari semua kehilangan yang ia alami. Masih diisi dengan jajaran aktor/aktris yang tengah di puncak karir yang kesemuanya tampil apik, The Dark Knight Rises adalah penutup yang sempurna dari salah satu trilogi terbaik sepanjang sejarah.

8,5/10

Interstellar (2014)



Selesai berurusan dengan dunia superhero, Nolan pun memutuskan untuk mengangkat kisah orisinil hasil pemikirannya bersama sang adik, Jonathan Nolan. Kini ladang bermain Nolan adalah dunia luar angkasa. Tentunya menarik dinantikan bagaimana Nolan menyajikan dunia luar angkasa tersebut berdasarkan versinya, setelah dirinya berhasil dalam menyuntikkan sisi realistis pada dunia mimpi di Inception. Salah satu keunggulan utama Intersettlar tentu saja mengenai visual effect nya yang sangat memanjakan mata, dari black hole, dimensi kelima versi Nolan, serta planet yang diisi dengan lautan tanpa daratan, semuanya terlihat indah. Interstellar juga tidak hanya berisikan misi menyelamatkan bumi saja, tetapi ada unsur keluarga pula yang diangkat, yang membuktikan bila Nolan juga mahir dalam menyajikan drama yang mampu mengajak penonton untuk bermelodrama. Matthew McCounaghey yang pada tahun sebelumnya menyabet Oscar, bermain dengan sangat baik. Tidak spesial, tetapi masih karya yang mulia dari Nolan

8/10

Tuesday, 4 July 2017


 "Kids these days are really spoilt... its like 'mummy, I want a playstation, mummy, I want you to kill that man'".-Ruth 

Plot

Wanita hamil usia tua itu bernama Ruth (Alice Lowe). Dengan kondisi kehamilannya itu ternyata tidak menghalangi niat Ruth untuk membalaskan kekasihnya yang tewas akibat kecelakaan saat melakukan kegiatan mendaki.





Review

Well, that's it. Hanya itulah fokus penceritaan Prevenge yang disutradarai serta juga ditulis oleh Alice Lowe ini. Lewat Prevenge, Lowe ingin memperlihatkan kondisi kehamilan usia tua tidak cukup menghalangi seorang wanita untuk melaksanakan agenda dendamnya, bahkan pada awalnya kehamilan itu ditampilkan layaknya sebuah motivasi yang sebenarnya tidak lain tidak bukan terlahir dari rasa dendam pribadi. Tentu dengan karakter utamanya merupakan wanita dengan kondisi berbadan dua tersebut adalah pembeda Prevenge dengan berbagai film-film bertemakan balas dendam lainnya. Belum lagi Lowe menyentuhnya dengan sedikit kritik sosial dan komedi hitam yang cukup kental.

Memang, sebelum Prevenge, telah ada film-film yang memiliki karakter utama perempuannya tengah kondisi hamil, sebut saja yang paling populer Juno dan film dari negeri Barata yang juga terselipkan kisah dendam, Kaahani. Namun itu tidak menghentikan keasikan saya melihat sosok wanita yang seharusnya memfokuskan dirinya untuk istirahat itu melakukan kegiatan pembunuhan. Prevenge disokong dengan naskah yang sederhana, dan Lowe sadar itu sehingga Lowe menyajikan Prevenge straight to the point tanpa memaksakan filmnya berlagak untuk sok pintar dan membuat penontonnya berpikir dengan keras. Kita telah tahu bila kekasih Ruth telah meninggal dalam kecelakaan walau memang kronologi kematiannya tidak disajikan dengan gamblang namun pengungkapan di pertengahan film itu telah lebih dari cukup. Namun absennya adegan kematian kekasih Ruth di awal film itu berpengaruh terhadap persepsi penonton kepada Ruth. Sosok Ruth tampak seperti pembunuh berdarah dingin seolah tanpa motif dibalik setiap aksi pembunuhannya, terlebih para korban masing-masing memiliki profesi yang berbeda-beda dan tidak terlihat mereka memiliki satu keterkaitan, sebelum memang terungkap bila para korban memiliki hobi yang sama. Untungnya karakter Ruth disini cukup mudah disukai. Selain dikarenakan kondisinya yang mengakibatkan penonton mudah untuk bersimpati terhadap dirinya, Ruth juga wanita yang sarkastik. Tidak jarang ia melontarkan one liner yang cukup menyunggingkan senyum. Ditambah pula akting dari Lowe sendiri yang sempurna sebagai Ruth yang mampu memberikan kelembutan serta sorot kesepian dari tatapan matanya, tanpa kehilangan sosok pembunuh yang berada di dalam dirinya, menjadikan Ruth menjelma sebagai wanita manipulatif  dalam mendekati calon-calon korbannya. Sulit dipercaya melihat aktingnya disini bila dirinya memang benar-benar tengah mengandung bayi berusia 7 bulan.

Prevenge jelas bukanlah film bertema balas dendam kosong karena Lowe menyelipkan beberapa isu sosial di narasinya. Isu-isu sosial itu diangkat hampir pada setiap pembunuhan yang terjadi disini, dari sosok laki-laki yang menghindari tanggung jawab, keengganan seorang wanita untuk menyumbangkan uangnya pada yayasan anak-anak yang menyimpan ironi tersendiri dan bahkan kecelakaan yang dialami kekasih Ruth disini tampaknya memiliki pesan tersembunyi tersendiri. Tetapi isu yang sebenarnya ingin diangkat oleh Lowe tampaknya kebiasaan orang tua jaman sekarang yang terlalu menuruti kehendak sang anak, tanpa memikirkan risiko yang terjadi kedepannya. Isu ini memang masih menjadi topik yang hangat hingga sekarang, apalagi melihat mudahnya orang tua sekarang memberikan gadget-gadget kepada anak mereka yang sebenarnya bukanlah konsumsi yang baik untuk perkembangan sang anak. 

Permasalahan pada Prevenge jelas adalah bagaimana setiap pembunuhan yang dilakukan oleh Ruth tampak begitu lancar, dan hampir absennya ancaman-ancaman menghampiri Ruth yang mengakibatkan kesan thriller nya hampir tidak terasa. Well, mungkin memang Lowe tidak ingin menjadikan Prevenge sebagai film bergenre thriller, dan benar saja saat saya memeriksa genre Prevenge di imdb, label thriller tidak ada disana. Namun, saya yakin sebagian besar penonton seperti saya yang melihat poster filmnya serta tidak mengenal siapa Alicia Lowe sebelumnya pasti mengekspektasikan suasana thriller yang mencekam, walau memang bila membicarakan darah, Lowe tidak sungkan-sungkan untuk menunjukkannya, bahkan potongan alat kelamin pun ditampakkan disini. Mengenai pelaku utama pembunuhan di film ini adalah seorang calon ibu yang berada pada kondisi hamil juga memunculkan perihal sendiri, yaitu lancarnya setiap pembunuhan yang dilakukan Ruth jelas menjadi lubang terbesar yang cukup mengganggu pada Prevenge, apalagi tidak ada bumbu-bumbu media disini yang berkenaan dengan korban-korban berjatuhan. Yah, untungnya Lowe menyajikan Prevenge dengan menghibur berkat komedi hitamnya yang tepat waktu (lebih mengomentari kursi berputar yang tengah diduduki mayat?) serta isu nya relatable sehingga saya bisa sedikit melupakan plot hole besar tersebut.

7,5/10

Sunday, 2 July 2017


Yap, finally, it's happened. One of the most anticipated anime this year finished. Setelah penantian yang memakan waktu hingga 4 tahun, Shingeki no Kyojin (SnK) akhirnya benar-benar rilis tahun ini. Anime Shingeki No Kyojin yang dirilis pada tahun 2013 berhasil merebut hati sebagian besar pecinta anime, bahkan pecinta manganya pun merasakan kepuasan sendiri saat menyaksikan adaptasi animenya berkat garapan dari studio Wit Studio yang setia dengan sumbernya. 25 episodenya dimanfaatkan dengan baik untuk memperkenalkan tiap karakternya, juga dunia yang ada di dalam anime SnK. Belum lagi dengan beberapa kejutannya yang tidak hanya menghentak, tetapi juga keberadaannya diperlukan untuk mengembagnkan cerita. Tidak hanya itu, kombinasi antara seiyuu yang bekerja dengan brilian dalam membawakan peran masing-masing, adegan aksi yang digarap begitu dinamis dan tidak ketinggalan juga soundtrack-soundtrack nya yang memorable, membawa anime SnK ke puncak stratosfer dan tidak berlebihan rasanya menobatkan SnK merupakan salah satu anime terbaik pada dekade ini. Maka tidak berlebihan jika lanjutan season 2 nya sangat dinantikan oleh penggemar. Segala hype dan rasa penasaran bagi penggemar yang tidak mengikuti kisahnya dalam lembar demi lembar manganya akibat berbagai misteri yang ditinggalkan pada season pertama menyambut suka cita kedatangan Season 2 ini. Dan untuk penggemar manga nya, seperti saya, juga tidak sabar ingin melihat bagaimana pertempuran antara Rogue Titan bersama Special Operation Squad melawan Armored Titan dan Collosal Titan dalam wujud animasi.




Episode pertama pun juga digarap tidak jauh berbeda dengan episode pertama di Season pertama. Bila episode pertama di season 1 berfungsi untuk memberikan gambaran awal pada penonton seperti apa kisah Shingeki no Kyojin itu, maka di episode awal Season 2 ini diniati untuk mengingatkan kembali penonton bila Shingeki no Kyojin merupakan anime yang menceritakan mengenai keputusasaan juga kejamnya dunia SnK. Episode pertamanya telah menggebrak dengan memperlihatkan serangan para titan pada pasukan Special Operation Squad di luar dinding, serta di akhir episode juga memperlihatkan kematian yang cukup disturbing. Momen itu juga berperan dalam memperlihatkan masih betapa tidak berdayanya manusia bila dikelilingi oleh para titan. 




Awal-awal episode juga digunakan untuk mengembangkan karakter-karakter sampingan seperti Sasha, Connie, terutama hubungan antara Ymir dan Krista. Memang hal ini diperlukan untuk menciptakan rasa terikat penonton terhadap mereka, dan juga di season pertama porsi untuk karakter-karakter utama seperti Eren, Mikasa atau bahkan Levi telah lebih dari cukup. Selain itu juga berbagai kejutan yang akan hadir secara langsung berkaitan dengan karakter-karakter pendukungnya. Tetapi jujur pesona Eren, Mikasa, Levi masih sulit untuk terlupakan sehingga kala supporting characters nya yang mendominasi menit demi menit jalannya cerita, penonton selalu menantikan kehadiran mereka. Bukan berarti supporting characters nya memiliki karakterisasi yang buruk, pernyataan tersebut jelas sama sekali salah karena masing-masing memiliki daya tarik. Connie dengan kepolosannya, Reiner dengan kewibawaannya sebagai pemimpin dan favorit saya Sasha yang kikuk namun rakus. Namun jelas bukan hal yang mudah untuk menggantikan pesona para karakter utama yang tidak kalah hebatnya. Dengan hanya 12 episode tentu mengakibatkan beberapa karakter lainnya harus tersingkir cukup banyak, seperti Levi yang harus rela dirinya tidak terlalu tampil banyak. 





Penceritaan yang meluas jelas telah diantisipasi akibat dari pengkhianatan yang dilakukan oleh Annie. Twist yang terjadi tersebut bukan hanya terungkapnya bila titan dalam bentuk manusia bukan hanya dimiliki oleh Eren, tetapi juga menyimpan misteri siapa aliansi yang juga berada di pihak Annie. Konflik yang ada tidak lagi hanya memperlihatkan manusia melawan para Titan, namun menyimpan berbagai konspirasi-konspirasi politik tentang sejarah ataupun keberadaan Titan. Untuk kalian yang tidak mengikuti manga nya dan mulai merasakan cerita SnK mulai rumit, percayalah, kedepannya konflik yang ada di SnK semakin menjauhi penceritaan mengenai manusia melawan Titan. Segala konspirasi atau bumbu-bumbu politiknya semakin rumit, belum lagi kala sejarah Titan mulai terungkap. Di season 2 ini terdapat beberapa cerita yang sebenarnya hadir di manga baru-baru ini, sengaja dimunculkan pada setiap momen yang dirasa tidak terlalu maksa akibat kehadirannya, sebagai contoh adalah masa lalu Ymir. Tidak hanya itu beberapa sentuhan yang hadir di animenya juga ada yang tidak hadir di dalam manga. Beberapa filler tersebut untungnya berguna dalam penceritaan, bahkan filler yang dihadirkan pada kematian satu minor karakter disini berhasil menjadikan momen tersebut salah satu highlight di season 2 ini. Filler mengenai awal hubungan antara Ymir-Krista pun berperan besar untuk memberikan tragedi tersendiri ketika salah satu kejutan terbesar hadir di episode 4 dan 6.




Wit Studio tetap melanjutkan pekerjaan brilian mereka dalam menggarap animasi SnK. Semangat yang hadir di manga nya tetap terasa, seperti atmosfir kelam, adegan gorefest nya serta beberapa ekspresi-ekspresi karakter nya yang benar-benar setia dengan apa yang ada di dalam manga. Sajian aksi pun diimbangi dengan kualitas produksi kelas tinggi dengan bantuan 3D maupun CGI. Walau memang tidak semuanya berjalan mulus, namun sebagian besar aksinya memuaskan. Berbagai momen-momen besar disajikan dengan tidak mengecewakan, Hiroyuki Sawano yang kembali mengisi bagian composer juga tidak kehilangan sentuhannya dalam menaruh beberapa soundtrack nya dengan tepat sasaran, walau kadar memorable nya mungkin sama sekali tidak ada yang menyentuh di adegan-adegan memorable yang terjadi di season pertama. Hal itu dikarenakan hampir minusnya kehadiran soundtrack ini

Beberapa momen-momen di season pertama menjadi lebih memorable, seperti kematian ibu Eren, transformasi Eren menjadi titan setelah menyaksikan teman-temannya dibantai habis-habisan oleh Female Titan dan bahkan momen sederhana seperti pidato Armin untuk melindungi Eren dan Mikasa, semuanya berkat soundtrack Vogel im K√§fig.  Tanpa adanya soundtrack tersebut dalam mengiringi momen-momen besar di season kedua ini cukup berpengaruh untuk meninggalkan impact kepada penonton, termasuk saya. 





SPOILER!!!!!
Saya pribadi yang telah membaca manganya, tentu mengharapkan beberapa kejadian seperti terungkapnya siapa Armored dan Collosal Titan, kematian Hanes dan favorit saya pernyataan cinta Mikasa kepada Eren, akan diiringi oleh soundtrack megah tersebut. Memang, Vogel im Kafig sempat muncul saat Armored Titan bertransformasi, namun part yang dimainkan bukanlah pada bagian paruh akhir nya, sehingga tetap impact yang diharapkan tidak maksimal. Hampir absennya soundtrack ini juga lah yang membuat saya berpendapat bila Season 2 sedikit inferior dibandingkan season pertama 
SPOILER!!!!

Biasanya saya jarang meributkan masalah pacing dalam anime, namun Season 2 ini memiliki permasalahan itu yang cukup mengganggu. Seperti misal episode 9 yang dipenuhi oleh percakapan antara Eren, Ymir, Reiner dan Berthold yang sedikit menurunkan tensi dari dua episode sebelumnya yang dipenuhi aksi dan situasi yang menegangkan. Momen percakapan itu sedikit dragging walau memang percakapan itu diperlukan untuk membangun karakter Reiner dan Berthold serta memperluas karakterisasi pada mereka berdua. Bicara mengenai karakter, Ymir berhasil menjadi spotlight di season kedua. Selain karena pendalaman karakterisasi yang diberikan, tetapi juga porsi kehadirannya yang bertambah dan juga storyline nya yang menarik ikut berpengaruh mengapa Ymir menjadi salah satu karakter terbaik di season kedua. Aksinya kala melawan puluhan titan di menara pada episode 5 adalah salah satu adegan aksi yang mampu meninggalkan kesan "WOW" saat melihatnya.

Memang untuk melampaui kualitas yang telah dipasang begitu tinggi pada season pertama adalah pekerjaan yang cukup mustahil, dan benar saja, Season 2 sedikit inferior dibanding season pertama. Opening-Ending soundtrack nya juga tidak berhasil meninggalkan kesan seperti Season pertama. Yah, Linked Horizon yang tetap diberi tugas dalam mengisi bagian lagu pembuka tidak bisa disalahkan karena lagu-lagu mereka di season pertama, Guren No Yumiya dan Jiyuu no Tsubasa jelas jauh lebih perkasa dan ikonik jika harus dibandingkan Shinzou wo Sasageyou Namun bukan berarti Season 2 adalah seri yang buruk. Masih menawarkan berbagai aksi yang menakjubkan berkat hasil brilian dari Wit Studio, perkembangan cerita yang walau tidak terlalu signifikan tetapi tetap memiliki momen-momen mengejutkan bagi yang tidak mengikuti kisahnya lewat manga, Season 2 tetaplah sajian anime berseri yang tetap memberikan pengalaman menonton yang menyenangkan.

8/10

Tuesday, 27 June 2017


"It has been said throughout the ages, that there can be no victory, without sacrifice."- Sir Edmund Burton

Plot

Keberadaan para Transformers yang selalu menghadirkan bencana bagi bumi memaksa pihak pemerintah meningkatkan kewaspadaan mereka. TRF (Transformers Reaction Force) yang dibentuk untuk merespon setiap kemunculan Transformers pun kini seolah tanpa pandang bulu menyerang Transformers yang terdeteksi keberadaannya, baik makhluk raksasa besi itu berada di pihak Autobot atau Decepticon. Cade Yeager (Mark Whalberg) yang telah berteman dengan tiap anggota Autobot memutuskan untuk mendedikasikan hidupnya melindungi teman-temannya itu, sehingga dirinya pun kini menyandang status buronan dari pemerintah. Sang pemimping Autobot sendiri, Optimus Prime tengah "mudik" ke planet asalnya, Cybertron, untuk menemui dengan dewa di planet tersebut, Quintessa. Sementara grup Decepticon yang masih diketuai Megatron mengendus akan keberadaan tongkat terakhir yang dianggap sebagai poin penting terakhir untuk membawa Cybertron ke planet Bumi.




Review

Semenjak hadir pada tahun 2007 di dunia perfilman Hollywood, film-film Transformers bila dirunut dari segi kualitas penceritaan, tidak ada yang memuaskan sebenarnya, kecuali film perdananya yang harus diakui sangat menghibur. Itu pun dikarenakan pada film debut tersebut, penonton baik yang mengikuti Transformers versi kartunnya atau tidak, terhipnotis dengan segala transformasinya dari mobil ke robotnya yang digarap begitu sempurna. Momen ketika para Autobot menunjukkan jati diri mereka masih merupakan momen terbaik dalam franchise ini. Ceritanya juga masih berpusat pada rivalitas antara Autobot dan Decepticon sehingga walaupun mungkin tidak digarap dengan elegan, namun masih mudah dinikmati. Dan muncullah sekuel demi sekuelnya yang hanya berpusat pada adegan yang bombastis sehingga mengorbankan penceritaan. Magis yang saya sebutkan sebelumnya makin lama makin pudar, dan sang sutradara yang setia menggarap Transformers, Michael Bay, seolah semakin sulit untuk mengontrol dirinya dalam menyajikan action secquence nya. Penggunaan pada teknik cut yang terlalu banyak bukannya membantu aksi nya terlihat megah, malah merusak kenyamanan pada penonton. Dari Revenge of the Fallen hingga Age of Extinction, semuanya diserang habis-habisan oleh kritikus ataupun penonton kasual. Walau begitu, franchise Transformers tidak pernah gagal dalam mendulang keuntungan sehingga pihak Paramount tentu tidak perlu berpikir lebih panjang untuk tetap mempercayai Michael Bay dalam menggarap film-film Transformers, peduli setan penonton menanggapi hasil akhir nya seperti apa.

Bila Anda masih mempercayai bila Michael Bay akan berkaca pada hancur leburnya kualitas film-film Transformers selanjutnya dan berkenan untuk memperbaiki di sisi penceritaan, well, I fell bad for you. Segala formula dari film pertama hingga sekuelnya keempat kemarin masih digunakan Bay. Baik dari hal action, slow motion yang hadir di bagian aksinya, humor yang keseringan miss dibanding hit nya, serta visual efeknya yang harus diakui masih sangat memanjakan mata. Ya, visual efek dalam film Transformers mungkin hanya satu-satunya hal positif yang konsisten terjadi. Semuanya digarap dengan baik, terutama pertempuran terakhir kala semua karakternya berguling-guling di atas planet Cybertron. Tidak ada kesan menegangkan, namun tetap menghadirkan sisi excitement saat menyaksikannya. Yah, cukup ampuh untuk mengusir rasa kantuk yang telah menyerang saya pada 20 menit pertama. 

Sebenarnya The Last Knight cukup menjanjikan pada awal-awalnya, terutama kala Bay yang dibantu Art Marcum dalam urusan menulis naskah kembali mempermainkan sejarah. Bila pada Dark of the Moon, Bay menyelipkan sejarah mendaratnya manusia di bulan untuk pertama kalinya, kali ini di The Last Knight, Bay mengaitkan kisah nya pada era medieval dimana terungkap bila Transformers sebenarnya telah menginjak daratan bumi kala itu. Lalu kemudian film bergerak ke zaman sekarang dan memperlihatkan kehidupan para Transformers yang mulai kehilangan tempat di bumi dan malah dianggap sebagai suatu ancaman bagi pemerintah. Tidak lama dari itu, telah diperlihatkan satu robot yang tewas seketika akibat serangan dari TRF. Dari sini saya yang sama sekali buta karena tidak melihat satu kalipun trailer film ini, mulai melihat suatu potensi cerita yang bisa dibilang fresh. Memang, Age of Extinction memiliki fondasi cerita yang tidak jauh berbeda, bahkan bisa dikatakan sangat mirip. Namun, kematian salah satu robot di awal cerita memiliki hubungan khusus dengan supporting character nya, yaitu Izabella (Isabella Moner). Imajinasi saya mulai liar dengan membayangkan akan terjadinya konflik internal antara manusia dan Transformers. Terutama kala Bumble Bee bersama Cade berkonfrontasi langsung dengan TRF, yang menghadirikan momen-momen mengejutkan, yaitu kembalinya Lennox (Josh Duhamel) dan atraksi Bee mengenai kemampuan barunya yang digarap brilian oleh Bay. Namun sayang, segala kesenangan itu semakin pudar kala Bay kembali memusatkan konfliknya pada akhir dunia yang diturut campuri oleh para Transformers yang berbeda keyakinan dengan Autobot.

Dari awal film, bila Anda perhatikan, fokus penceritaan Transformers memang tidak pernah jauh dari usaha pihak Decepticon untuk mengambil alih dunia dan memindahkan planet Cybertron ke bumi. Transformers sangat butuh penyegaran ide cerita, maka ketika saya mengetahui arah penceritaan akan berujung kesana, rasa minat menonton film ini mulai kendur dari menit demi menit The Last Knight berjalan. Semakin diperparah pula dengan interaksi antar karakternya yang sama sekali tidak ada yang memorable. Momen perbincangan antar anggota Autobot yang diniati sebagai ajang perkenalan kepada penonton malah berakhir membosankan akibat rentetan dialognya yang sangat dipaksakan untuk terlihat lucu. Padahal bila saja tiap signature antar anggota dimanfaatkan dengan seoptimal mungkin, niat tersebut akan berakhir dengan maksimal. Bay juga kembali kurang cerdik dalam memanfaatkan karakter barunya seperti Izabella yang hampir sama sekali tidak memiliki esensinya dalam perkembangan cerita. Yang menyedihkan lagi adalah keberadaan para Decepticon yang semakin tergeser dari sosok pengancam dunia beralih ke tokoh yang tidak ada bedanya sebagai cheerleader. Sempat terbersit pemikiran bila Decepticon akan memegang peranan besar kala setiap anggotanya mendapatkan perkenalan yang bisa dibilang cukup spesial. Namun sayang, ternyata momen-mome tersebut hanya digunakan untuk memperpanjang durasinya karena tidak lama kemudian keberadaan mereka sudah terlupakan sama sekali. Melihat Megatron yang semakin kehilangan aura menakutkannya jelas merupakan kesedihan besar bagi saya.

The Last Knight sedikit kembali merebut atensi kala Cade Yeager mengunjungi Inggris. Kehadiran Laura Haddock dan Sir Anthony Hopkins sangat berpengaruh dalam menjaga mata saya untuk tetap terpaku kepada layar. Interaksi mereka dengan Cade cukup berhasil dan mengalir lancar. Hopkins jelas merupakan yang terbaik diantara Mark dan Laura. Sebagai Edmund Burton, Hopkins menyuntikkan energi yang berlipat setiap kali dirinya tampil di layar. Laura Haddock pun tampaknya berhasil menjadi pemeran wanita terbaik di franchise Transformers. Fisiknya jelas tidak kalah jauh dari Megan Fox dan bila membicarakan akting, tentu Laura berada di atas jauh meninggalkan Fox. Dan yang paling penting, Laura jauh mudah disukai. Mark Wahlberg pun jelas tanpa kesulitan dalam menghadirikan sosok action hero, dan Mark juga memiliki kapabilitas dalam melontarkan one liner yang sebenarnya tidak terlalu lucu, namun berkat ekspresi muka serta nada suaranya yang pas membuat one liner tersebut bekerja. Perhatikan saja saat Cade melontarkan kata "what?" di adegan yang melibatkannya bersama karakter Jimmy (Jerrod Carmichael). Oh, lupa juga bagaimana robot C-3PO palsu bernama Cogman yang sangat mencuri perhatian berkat kepribadiannnya yang menarik serta mampu meletupkan berbagai humor yang kebanyakan berhasil dari dirinya. Praktis keberadaan Cogman cukup ampuh dalam mengobati rasa rindu penonton terhadap pemimpin Autobot, Optimus Prime yang harus menyingkir hingga akhirnya kembali lagi pada saat narasi film bergerak menuju akhir. Tidak terpungkiri memang, magnet yang dihadirkan Prime masih sulit untuk tergantikan hingga saat ini.

Memang untuk mudah dalam menikmati film-film Transformers tergantung dari ekspektasi yang Anda pasang sebelum menonton. Jangan terlalu memperhatikan detil demi detil cerita karena itu akan sangat mengganggu kenikmatan kalian saat menonton. Bila mau membicarakan plot hole, jelas The Last Knight memiliki banyak sekali. Saya menonton The Last Knight bersama teman saya yang belum pernah menyentuh sekalipun dengan film-film Transformers selanjutnya. Dan hasilnya beberapa kali dirinya protes dengan ketidakjelasan yang hadir, sehingga saya hanya menjawab "ini Transformers, bro. Santai". Bagi saya, ini sama sekali tidak ada peningkatan dari sebelum-sebelumnya dan melewatkan suatu potensi yang bisa berfungsi untuk menyegarkan penceritaan. Hanya sedikit momen-momen yang bisa diingat, dan karena Transformers:The Last Knight memiliki durasi 2 jam lebih, bayangkan betapa tersiksanya dalam bioskop bagi yang tidak bisa menikmati Transformers: The Last Knight.

6/10

Wednesday, 14 June 2017


"I used to want to save the world, this beautiful place. But the closer you get, the more you see the great darkness simmering within. I learnt this the hard way, a long, long time ago."- Diana Prince

Plot

Thermyscira merupakan pulau yang penghuninya semuanya adalah wanita. Salah satunya adalah perempuan bernama Diana (Gal Gadot), seorang putri dari ratu Hippolyta (Connie Nielsen). Diana semenjak kecil telah tertarik untuk bisa bela diri seperti pasukan Amazon yang diketuai oleh adik Hippolyta, Antiope (Robin Wright). Walau pada awalnya sang ibu tidak setuju Diana belajar bela diri, namun berkat desakan Antiope, Diana pun memiliki kemampuan yang hampir sebanding dengan Antiope yang merupakan hasil latihannya dengan Antiope. Suatu hari kala Diana selesai berlatih, pulau Thermyscira kedatangan tamu yaitu Steve Trevor (Chris Pine), seorang mata-mata Amerika yang menyusup ke tentara Jerman. Pesawat yang dikemudikan Steve mengalami kerusakan sehingga pesawat tersebut menghujam lautan yang berdekatan dengan pulau Thermyscira. Diana yang menyaksikan kejadian tersebut langsung menyelamatkan Steve. Pertemuan keduanya inilah merupakan awal petualangan Diana dan meninggalkan pulau Thermyscira demi menyelamatkan manusia yang kala itu sedang mengalami perang dunia.




Review

Masihkah perlu Warner Bros merealisasikan mega proyek mereka mendatang, Justice League, setelah semua film yang merupakan kepingan bagian dari proyek tersebut hampir semua berujung bencana? Setelah hancurnya Suicide Squad yang sebenarnya film yang diharapkan mampu membangkitkan secercah harapan karena memiliki modal yang menjanjiakn, jelas pesimis dirasakan penonton, baik mereka yang mengaku penggemar superhero keluaran DC atau kasual. Beban berat pun berada di pundak Patty Jenkins karena film yang disutradarai nya, Wonder Woman, bagaikan harapan terakhir dari Warner Bros untuk tetap menjaga kepercayaan pecinta film bila proyek Justice League akan berakhir memuaskan. 

Cerita origin Wonder Woman bisa saya katakan hampir sama dengan kisah Captain America. Keduanya hidup di masa dunia sedang dilanda perang dunia, dan juga keduanya terlibat di tengah perang tersebut. Hanya bedanya, Steve Rogers besar di lingkungan manusia sehingga mudah baginya mengerti akan bagaimana kejamnya peperangan, sedangkan Diana Prince tumbuh besar di pulau asing yang susah dijamah manusia dan untuk pertama kalinya menghadapi serta mempelajari mengenai manusia. Saya tidak tahu apakah kisahnya setia dengan apa yang ada di komik sebab saya lumayan awam mengenai kisah Diana, namun yang jelas saya menyukai cerita asal mula Diana ini. 

Apa yang ia dapati dari pulau tempat ia tinggal adalah menghentikan perang untuk melindungi mereka yang tidak bersalah. Ya, Wonder Woman berpusat pada pengembangan karakter seorang Diana Prince hingga pada akhirnya dirinya bersedia terlibat dengan kehidupan manusia dan membantu mereka, walau harus mendapatkan tentangan dari sang ibu. Aspek ini yang merupakan berhasil dicapai oleh Patty Jenkins dalam Wonder Woman nya. Dibantu dengan screenplay dari Allan Heinberg, Jenkins menjadikan lahan perang sebagai media belajar untuk Diana dan di dalam prosesnya, suntikan elemen humanis tertancap di dalam diri Diana, bahwa perang bukanlah hal simpel yang dipelajari Diana selama ini, karena perang jauh lebih kompleks dari itu. Membunuh orang yang dipercaya merupakan otak dari segala peperangan tidak akan secara otomatis menghentikan perang saat itu juga. Ceritanya mungkin sederhana, tetapi tidak menjadi masalah kala momen transformasi Diana menjadi lebih humanis disajikan dengan tidak terburu-buru. Maka bisa dimengerti bila film ini menyentuh durasi hingga 141 menit. 

Kisah Diana ini secara mengejutkan mampu menginspirasi penonton, terutama jelas dari kaum hawa. Dari pendapat saya sendiri, Wonder Woman bisa memberikan impact itu berkat karakterisasi pada Diana nya sendiri. Memang Diana memiliki hati patriotik dengan berjuang untuk menyelamatkan innocent people, tetapi Diana bergerak sesuai hati nuraninya. Saat apa yang disaksikannya berlainan dengan apa yang ia yakini, Diana diambang keraguan. Awamnya Diana akan dunia manusia seolah mewakili mereka yang juga mengalami transisi dari remaja menuju ke dewasa. Hal ini yang mungkin membuat kisah Wonder Woman mampu menyentuh bagi sebagian penontonnya.

Selain kedalaman pada kisah Diana, terselip juga hubungan romansanya dengan Steve Trevor. Mungkin romansanya tidak sampai ke taraf spesial antara Tony Stark dan Pepper, namun ikatan di antara mereka dibangun secara perlahan dan tidak tergesa-gesa. Ada kecanggungan antara Steve yang notabenenya seorang pria dewasa dan Diana yang masih begitu polos, sebuah hubungan kombinasi antara kakak dan adik serta sepasang kekasih. Maksud saya, lihat saja kala mereka satu perahu ketika meninggalkan pulau Thermyscira. Mengenai kecanggungan Diana sendiri disajikan dengan tidak berlebihan oleh Jenkins. Oke, Diana masih asing dengan dunia manusia pada umumnya, namun segala kekonyolan nya bukan terlihat membodohi karakter Diana, namun malah memberikan humor tersendiri sehingga lengkaplah alasan penonton untuk mencintai karakter Diana. Gal Gadot membuktikan di film solo perdananya sebagai superhero ini bahwa ia pilihan tepat untuk memerankan Diana. Gadot adalah jenis perempuan yang dari tampilan luar jelas menawan serta anggun (Gadot with glasses? Hell yeah), namun di saat bersamaan dengan tatapan mata tajam tercermin ketegaran seorang perempuan, sehingga mungkin saja tanpa kedalaman karakter pada Diana pun, penonton tetap mudah menyukai Diana. Gadot juga ikut terbantu dengan peran kharismatik dari Chris Pine yang sama seperti Gadot, Pine juga merupakan aktor yang mudah untuk disukai.

Mengenai action nya sendiri, Jenkins tidak mengecewakan. Jenkins tahu bagaimana menangkap aksi-aksi dengan kameranya sehingga terlihat keren juga berkelas. Contohnya saja saat memperlihatkan aksi pertama Wonder Woman di medan perang, terutama kala dirinya beraksi di gedung-gedung.  Turut juga dibantu dentuman musik dari Rupert Gregson-Williams yang membantu setiap aksinya lebih terasa bombastis. Tetapi mengenai fight scene  di akhir tampaknya Jenkins terlalu menjadikan pertempuran terakhir di Batman V Superman sebagai inspirasi. Terlalu banyak melibatkan ledakan, ditambah lagi CGI nya yang terasa kasar yang tentu tidak enak disaksikan yang membuat saya berasumsi Jenkins sepertinya lebih piawai dalam menangani aksi yang sederhana. Tidak hanya di fight scene nya, tetapi juga di berbagai action secquence nya, terutama kala sang Wonder Woman mengeluarkan kecepatan supernya. 

Namun, Wonder Woman masih memiliki permasalahan yang mungkin juga dialami film-film superhero lainnya, yaitu menciptakan villain yang memorable. Tiga villain yang ada di film ini semuanya hilang tanpa ada satupun yang memberikan kesan. Kecewa terbesar jelas God Ares yang dari awal cerita tampak begitu digdaya namun pada akhirnya? Walau memang masih ada sosok Dr. Maru yang kelak bisa saja menjadi musuh bebuyutan Diana, namun tetap saja akan sia-sia bila sang kreator masih terjebak dengan menciptakan villain dengan motif hampir sama dengan villain pada umumnya, yaitu mengubah dunia dengan menghancurkannya lebih dahulu. 

Well, pada akhirnya Wonder Woman karya Patty Jenkins ini berhasil menghentikan rentetan catatan buruk DCEU, terbukti juga dari penilaian penonton atau pula kritikus cukup mencintai Wonder Woman. Tentu bukan karena terdistraksi akan penampilan Gadot dengan kostum Wonder Womannya yang seksi itu, tetapi berkat kedalaman cerita, sosok Wonder Woman a.k.a Diana dan Steve yang mudah disukai, juga selipan nilai akan manusia, menjadikan film ini seperti Wonder Woman nya itu sendiri, sebuah harapan. Ya, harapan awal untuk DCEU untuk film-film selanjutnya supaya berakhir sama baiknya seperti Wonder Woman

7,75/10

Tuesday, 13 June 2017


"I'm finished. I'm not a writer, I'm a middle school English teacher. Well, the world doesn't give a shit what I have to say. I'm unnecessary. Ha! I'm so insignificant I can't even kill myself."- Miles

Plot

Miles (Paul Giamatti) dan Jack (Thomas Haden Church) melakukan perjalanan ke California dengan mengunjungi berbagai perkebunan anggur dan sekaligus mencicipi wine disana.  Perjalanan ini juga merupakan rangka menenangkan diri untuk Miles yang sedang merasa bosan dengan profesinya dan Jack yang ingin bersenang-senang sebelum dirinya menikah.




Review

Ada daya tarik tersendiri kala menyaksikan sebuah film yang memusatkan narasinya pada studi karakter di dalam nya. Memang, umumnya film bertemakan seperti ini cenderung datar karena hanya mengandalkan sebuah kejadian yang tidak terlalu di dramatisir, dan dialog-dialog apa adanya sehingga butuh sedikit kesabaran untuk melewatinya, namun berkat itu juga ceritanya lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga mudah penonton mengerti apa yang sedang dialami para tokohnya. Film seperti ini memang bukan diniati untuk sebuah hiburan ala film superhero, tetapi bisa digunakan untuk mewakili sebagian besar penonton yang mungkin pernah mengalami kejadian yang sama seperti pada karakter yang terlibat. Dan inilah Sideways, hasil direksi dari Alexander Payne yang mengadaptasi dari novel bikinan Rex Pickett, mengajak kita untuk mengikuti perjalanan dua sahabat dalam rangka liburan sebelum kembali dihadapi dengan rutinitas sehari-hari.

Liburan ini jelas memiliki motif yang lebih dari itu. Jack ingin bersenang-senang sebelum di sabtu mendatang dirinya akan menikah, dan Miles mencoba menenangkan dirinya yang tengah mengalami kejenuhan dalam bekerja, seraya mencoba menghilangkan bayang-bayang mantan istrinya.  Miles merupakan pusat penceritaan dan merupakan perwakilan bagi kita yang tengah mengalami kebosanan di usia tanggung dan juga untuk kita yang belum move on dari sang mantan. Saya yakin, hampir sebagian besar penonton pernah mengalami apa yang tengah dihadapi Miles, sehingga inilah daya tarik utama Sideways, yaitu begitu sedikit celah yang diantara Miles dan penonton. Kita seperti menjadi orang ketiga yang juga ikut dalam liburan Miles dan Jack. 

Miles sendiri merupakan pria depresif akibat perceraiannya dengan sang istri, yang mengakibatkan dirinya menjadi pesimistis terhadap apapun yang dihadapinya, bahkan ia sulit untuk mengambil kesempatan yang sebenarnya kesempatan tersebut bisa ia raih dengan mudah. Seperti rencana penerbitan novelnya, dan terutama hubungannya dengan Maya. Walau Maya merupakan wanita yang bisa dibilang memenuhi kriteria Miles akan wanita serta Maya menunjukkan ketertarikan yang lebih dengan Miles, tetapi Miles tetap waspada dan cenderung menjaga jarak dengan Maya, sebelum Miles benar-benar tertarik dengan Maya. Salah satu momen favorit saya adalah kala Miles dan Maya bercengkerama di malam hari. Ada atmosfir yang intim dari tatapan mereka berdua, meski arah pembicaraan sama sekali tidak mengarah kesana, namun penonton merasakan itu. Saya pribadi lumayan gemes melihat Miles yang memperlihatkan sikap mau tapi malu untuk mengambil kesempatan yang ada di depan matanya. Pada momen itu juga Maya bermonolog mengenai wine, yang ironisnya seolah menyinggung kehidupan yang sedang dialami Miles, atau juga mungkin Maya sedang menyinggung dirinya sendiri. Brilian.

Miles juga mewakili bagi mereka yang memiliki antusias terhadap sesuatu namun tidak bisa dibawa ke ranah yang bisa menghasilkan uang. Lihat Miles, memiliki ketertarikan dan bahkan bisa dibilang ahli mengenai wine, tetapi malah berprofesi sebagai seorang guru biasa. Kala dirinya diajak Jack untuk membuka bisnis wine, Miles tidak telalu serius menganggap ajakan tesebut. Menyedihkan bukan, bila suatu passion yang sebenanya sangat bepotensi untuk mendulang keuntungan, namun jatuhnya hanya menjadi sebuah passion. Untungnya di kala fase kehidupannya yang sedang menurun, Miles memiliki teman seperti Jack yang sangat mengerti mengenai diinya. Oke, Jack mungkin brengsek bila bekaitan dengan peempuan, tetapi Jack merupakan teman yang dibutuhkan oleh Miles. Jack merupakan pria yang easy going, mampu menjadi pendengar yang baik dan selalu mencoba mengangkat Miles dari jurang keputusasaannya. Dan serius, tidak ada yang lebih menenangkan saat melihat Jack selalu mengajak Miles untuk melihat sisi positif nya di setiap kesialan menghampiri.
Saya tidak terlalu mengikuti hasil karya Payne. The Descendants adalah satu-satunya film Payne yang pernah saya cicipi. Tetapi setelah usai menonton Sideways, tampaknya saya mulai mengerti kekuatan Payne, yaitu menyelipkan adegan yang menyentuh di dalam kesederhanaan. Seperti misal di durasi akhir saat Miles bersedia membantu Jack. Miles yang sebelumnya tidak terlalu menggubris keliaran Jack dalam urusan perempuan, untuk perrtama kalinya dalam perjalanan, Miles bersedia membantu Jack. Dan supaya momen-momen tersebut berhasil di praktekkan, Payne jelas membutuhkan kekuatan akting dari artisnya. Giamatti dan Thomas Haden Church yang mendominasi di tiap menit film, sukses memperlihatkan sebuah hubungan bromance yang indah dan juga saling mengisi. Tidak ada sama sekali lontaran-lontaran dialog diantara mereka yang membosankan. Giamatti yang sering mengisi peran pendukung, membuktikan bila dirinya memiliki kualitas aktor yang bisa ditaruh sebagai aktor utama. Tidak sulit memang bagi Giamatti dalam memerankan Miles yang gloomy, namun tetap saja apa yang ditampilkannya sangat menawan disini, terutama kala Giamatti memainkan mimik muka kala bercengkerama dengan mantan istrirnya. Saya pribadi menyukai setiap kali Giamatti menanggapi dengan raut muka tidak senang atau juga tidak tenang saat Jack atau karakter lainnya menyinggung novel tulisannya yang belum jelas akan diterbitkan atau tidak. Sulit dipercaya dengan kualitas akting seperti ini, Giamatti tidak mendapatkan nominasi aktor terbaik di ajang Academy Awards saat itu. Haden Church yang malah mendapatkan nominasi di kategori aktor pendukung, mampu mengimbangi Giamatti dengan keluwesannya serta kharisma yang ia pancarkan yang mudah saja bagi penonton mengerti mengapa Jack bisa menggaet wanita dengan mudahnya. Bahkan tampaknya berkat penampilan Haden Church jugalah, Sideways begitu enak dinikmati dan durasi 126 menit tidak menjemukan. Haden Church pun juga brilian saat beradegan emosional. Adegan yang awalnya begitu lucu berkat kesialannya, bertransformasi menjadi sedikit heartbreaking melihat Jack yang memohon-mohon untuk meminta bantuan Miles. Kejutan menyenangkan juga melihat performa Virginia Madsen yang berhasil memerankan Maya sebagai sosok wanita dewasa yang menyenangkan dan penuh pengertian. Wajar saja seorang Miles bisa jatuh hati dengan Maya.

Sayangnya Sideways bukanlah sajian yang akan dengan mudahnya menggaet penonton kasual. Sideways berjalan dengan sunyi dan memang berfokus pada tiap karakternya sehingga mungkin akan terdengar membosankan. Sayang karena Sideways merupakan film yang mampu mewakili sebagian besar orang yang pastinya pernah mengalami fase kehidupan seperti Miles. Tidak semua orang bisa menulis, menghasilkan karya seperti film untuk mewakili apa yang mereka rasakan, dan karena itulah bagi saya, Sideways adalah salah satu film yang harus ditonton. Dan bukti saya mencintai film ini adalah dengan menulis review sesegera mungkin supaya sensasi menyenangkan saat menonton Sideways masih melekat.

8,75/10

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!