Monday, 25 September 2017



"So, to fully know I love someone, I have to cheat on them?"- Kumail


Plot

Kumail (Kumail Nanjlani) merupakan pemuda Pakistan yang besar di negara Amerika bersama dengan keluarganya. Kumail sendiri berprofesi ganda dalam kehidupan sehari-hari. Pertama dia adalah driver online, dan ketika malam hari, ia rutin mengisi pertunjukan stand up comedy di suatu klub. Walaupun Kumail menyandang status sebagai umat Islam, namun rupanya Kumail jarang sekali beribadah dan hal ini ia sembunyikan dari keluarganya yang sebaliknya malah sangat taat dengan ajaran agama serta tradisi adat Pakistan, seperti pernikahan haruslah dilakukan melewati sebuah perjodohan. Kumail tidak menyukai peraturan itu, namun dengan alasan menyayangi keluarganya, Kumail bersedia menemui setiap wanita pilihan sang ibu untuk dijodohkan kepada Kumail. Di suatu kesempatan ia tengah melakukan stand up comedy nya, Kumail diganggu (atau bahasa stand up nya adalah hackle, salah satu hal paling dilarang yang ditujukan kepada penonton dalam dunia stand up) oleh mahasiswi bernama Emily (Zoe Kazan). Dari interaksi singkat mereka, Kumail tertarik dengan Emily dan bisa ditebak mereka pun melakukan kencan one night stand, tanpa mengira bila itu adalah awal dari kisah percintaan mereka yang rumit.






Review

Sama seperti sebagian besar pengguna internet, saya pun telah lama meninggalkan dunia pertelevisian dan berpindah ke platform yang bernama Youtube. Tidak lama ini, saya menyaksikan video dari channel yang saya subscribe juga, yaitu h3h3 production. Pemilik channel tersebut, Ethan dan Hila Klein menanggapi sebuah video kissing prank yang mengklaim melakukan kegiatan kissing prank terhadap para wanita Islam. Video yang secara langsung melecehkan seluruh muslimah di dunia itu tentu saja menarik perhatian para warganet, dan untungnya dari yang saya baca di post komentar, sebagian besar membela kaum muslim, walau saya yakin pasti ada yang berkomentar miring terhadap perempuan muslim. Namun, yang membuat saya tertarik dan merasa perlu meninggalkan komentar adalah mengenai beberapa komentar yang intinya berbunyi kalau Islam adalah agama yang melarang umatnya untuk berpacaran karena ada suatu momen di video itu, perempuan yang dibayar untuk bersedia mengorbankan bibir mereka untuk dicium oleh pemilik video itu mengatakan bila dia telah memiliki kala si prankster sampah itu mencoba mendapatkan nomor dari sang perempuan, setelah sebelumnya perempuan yang satu lagi (di video itu melibatkan 3 perempuan) bilang kepada prankster bahwa mereka dilarang untuk berpacaran. Saya pun mengomentari salah satu komentar yang bernada seperti tadi dan mencoba meluruskan bahwa Islam memang melarang umatnya untuk berpacaran, namun bukan berarti umat Islam menaati peraturan tersebut. Mengapa saya merasa perlu meluruskan ini? Karena saya ingin pandangan dunia terhadap umat Islam itu keliru, dengan menganggap kalau umat Islam itu adalah manusia yang seolah tidak pernah berbuat dosa, dan ingin mereka melihat kami (umat Islam) sama seperti penganut agama lainnya. Pandangan-pandangan ini lah yang sering kali bila terjadi aksi teroris yang mengatasnamakan Islam, mereka pun akan menyerang agama Islam, bukan kepada pelakunya. Pengalaman inilah yang membuat saya merasakan bila film seperti The Big Sick ini perlu ditonton untuk meluruskan penilaian yang keliru ini. Sebuah kisah cinta nyata yang dialami oleh sang aktor utama, Kumail Nanjiani, yang turut melibatkan sedikit berkenaan akan kultur serta agama Islam.

Naskah yang juga dikerjakan oleh Kumail sendiri yang dibantu juga istrinya, Emily V. Gordon mengambil pilihan tepat yaitu memfokuskan kisah ini pada percintaan, dan segala hal referensi mengenai dunia Islam disini dimaksudkan sebagai bumbu konflik yang menghalangi kisah percintaan mereka. Gejolak batin seorang Kumail dimulai kala Emily mengidap penyakit misterius dan harus koma di rumah sakit, Rasa cinta yang sempat memudar kembali tumbuh setiap saat melihat wanita yang sempat singgah di hati terbaring tak berdaya dengan beberapa peralatan medis menempel di tubuh untuk mempertahankan nyawa Emily. Momen inilah yang mengharuskan Kumail memilih apakah ia harus mengikuti rasa cintanya, dengan mengorbankan keluarganya yang mewajibkan Kumail untuk menikah pula dengan wanita muslim, terutama yang berasal dari Pakistan. Apa yang saya suka adalah, Kumail dan Emily sama sekali tidak menyerang atau menyalahkan peraturan yang telah ditetapkan dalam agama Islam, namun lebih kepada penganutnya. Seperti yang saya tulis di bagian sinopsis bila Kumail menganut agama Islam namun tidak melakukan ibadah wajib seperti Shalat. Bukannya sebagian besar kita seperti itu, baik umat Muslim ataupun umat agama lainnya? Hal inilah yang saya rasa The Big Sick merupakan film yang diperlukan untuk mereka yang masih menilai umat Islam itu tidak pernah berbuat dosa. Intinya adalah, bila umat Islam melakukan dosa, baik besar ataupun kecil, ya salahkan orangnya, jangan ke agamanya.

Perbedaan kultur yang sangat signifikan ini tentu adalah rintangan terbesar dalam kisah cinta Kumail dan Emily. Kumail menyukai dan bahkan mencintai Emily, namun hal itu tidak lantas membuat Kumail untuk mengabaikan keluarganya. Kumail tidak ingin mengecewakan keluarga, terutama sang ibu, yang bisa mengakibatkan Kumail tidak akan pernah lagi dianggap sebagai bagian dari keluarga. Di sisi Emily yang awalnya sama sekali tidak mempermasalahkan perbedaan yang ada di antara mereka, merupakan gadis muda yang pernah mengalami kegagalan cinta di pengalamannya. Kala ia mulai jatuh cinta juga kepada Kumail, Emily pun berharap bila Kumail tidak mengajak dirinya untuk kembali akan pengalaman pahitnya tersebut. Mudah sekali mendukung hubungan Kumail-Emily setelah melihat chemistry yang kuat antara mereka berdua, ditambah baik Kumail dan Emily sama-sama memiliki karakter yang menyenangkan. Kumail adalah pria yang sarkastik, cerdas, dan sebagai kaum minoritas, dirinya tidak mudah tersinggung apabila ada yang mendiskriminasi dirinya. Bahkan diperlihatkan pada awal-awal, Kumail menjadikan ciri khas yang ada di Pakistan sebagai bentuk materi stand up nya. Sementara Emily yang diperankan dengan baik sekali oleh Zoe Kazan tidak jauh berbeda dengan Kumail yang juga jago dalam melontarkan candaan dalam setiap pembicaraan, dan memiliki magnet untuk seorang pria segera mendekati dan berbincang lama-lama dengan Emily. 

Tentu film ini tidak hanya diisi dengan kisah cinta Kumail-Emily, karena praktis ketika Emily harus dirawat, naskah berpindah ke proses masuknya Kumail dalam kehidupan sebenarnya Emily berkat kehadiran orang tua Emily, Terry (Ray Romano) dan Beth (Holly Hunter). Tidak hanya Kumail belajar banyak mengenai Emily dari mereka berdua, namun juga terdapat suntikan pelajaran mengenai cinta dan sayang ke dalam diri Kumail dari hubungan yang ternyata memiliki kompleksitas tersendiri dalam hubungan Terry dan Beth, dan interaksi mereka menciptakan beberapa momen komedi, seperti nasihat ngawur yang diberikan Terry kepada Kumail, namun juga ada sisi dramatis terutama berkenaan hubungan Terry dan Beth. Memang, hubungan Kumail dengan Terry dan Beth sedikit mendominasi dibandingkan interaksi antara Kumail beserta keluarganya, namun untungnya sang sutradara, Michael Showalter jeli akan hal ini dan memanfaatkan screentime dari tiap anggota keluarga Kumail dengan optimal lewat beberapa ciri khas dan momen kocak, seperti sang ibu Sharmeen (Zenobia Shroff) yang selalu memakai cara yang sama dalam usahanya menjodohkan Kumail dengan wanita-wanita yang akan dijodohkan dan yang paling memorable ketika momen awkward saat keluarga Kumail menunggu kedatangan Kumail yang akan dijodohkan. 

Karena naskahnya sendiri berdasarkan pada kisah cinta nyata yang dialami Kumail-Emily maka tidak heran jika kisahnya sendiri diperlihatkan dengan realistis. MAJOR SPOILER HERE: seperti kala Emily yang akhirnya sadar dari koma panjangnya. Melihat segala pengorbanan yang dilakukan Kumail dan disaksikan langsung oleh Terry dan Beth, mudah bila penonton akan mengira hati Emily akan luluh dan bersedia kembali jatuh di pelukan Kumail. Namun kenyataannya tidak. Rupanya koma yang panjang tidak cukup mampu untuk melupakan segala rasa sakit yang terasa sebelumnya. Momen saat Kumail ditolak dua kali oleh Emily itu sangat powerful karena sebelumnya Kumail terlibat perdebatan intens dengan kedua orang tua nya, yang mengakibatkan Kumail tidak dianggap lagi kehadirannya dalam keluarga. Showalter pun tidak menampilkan momen ini dengan berlebihan dan terlihat apa adanya, bahkan bila saya tidak salah, tidak ada soundtrack yang mengiringi dua momen pahit itu dan murni Showalter mengandalkan dua artisnya di layar dengan memfokuskan ekspresi yang dikeluarkan oleh keduanya.

Apa yang telah Kumail putuskan di akhir itu benar atau salah, jawabannya diserahkan kepada penonton. The Big Sick mengajak kita untuk melihat seorang individu yang mengambil keputusan berdasarkan apa yang dipercayainya. Sebuah film yang tepat untuk mencerahkan penonton yang masih mengaitkan kesalahan yang dialami manusia dengan agama yang dianutnya. Cinta, keluarga, serta benturan kultur budaya berbeda, semuanya menjadi permasalahan konflik dalam durasi 120 jam nya dan diakhiri juga dengan sebuah akhir yang adil juga manis. Bertambah lagi satu film dalam list film favorit saya di tahun 2017.

8,75/10

Saturday, 23 September 2017


"Beep Beep Richie"- Pennywise

Plot

Liburan musim panas yang seharusnya menyenangkan malah menjadi sebuah petualangan yang menyeramkan untuk tiap anggota The Losers' Club, yang terdiri dari Bill (Jaeden Lieberher), Richie (Finn Wolfhard), Eddie (Jack Dylan Grazer), Stanley (Wyatt Olef), Mike (Chosen Jacobs), Ben (Jeremy Ray Taylor) dan satu-satunya anggota perempuan dalam klub tersebut yaitu Beverly (Sophia Lillis). Liburan mereka menjadi mimpi buruk akibat kehadiran sosok badut yang sama sekali tidak lucu yang menami dirinya sendiri sebagai Pennywise (Bill Skarsgard) yang memanfaatkan ketakutan di dalam diri seseorang. Pennywise sendiri merupakan badut yang digambarkan tinggal di dalam saluran pembuangan dan hobi mengajak para korbannya ke tempat tinggalnya tersebut. Seolah teror dari Pennywise belumlah cukup, ketujuh anak yang merasa diri mereka seolah terpinggirkan ini pun juga harus menghadapi teror bully yang kerap dilakukan oleh Henry (Nicholas Hamilton) dan persoalan personal masing-masing, seperti Bill yang masih belum menerima akan kematian Georg (Jackson Robert Scout) yang juga merupakan salah satu dari sekian banyak korban yang telah jatuh di tangan Pennywise dan Beverly yang senantiasa menerima perlakuan tidak senonoh dari sang ayah kandung.





Review

I wanna put this out first that I never read the main source, Stephen King's It. Jadi, untuk membandingkan apakah It versi Andy Muschietti ini setia berpijak pada sumber nya atau tidak jelas diluar dari kemampuan saya. Maka, ulasan ini murni saya tulis berdasarkan dari pengalaman menonton yang barusan saya dapatkan. Saya pun juga baru menyadari bila ternyata karya dari penulis novel horor yang telah beberapa kali karya penulisannya diangkat dalam media film ini pernah dibuat dalam tv series. Saya yang benar-benar buta dengan kisahnya ini pun lumayan terkejut saat Muschietti membuka filmnya dengan momen yang mencekam nan sadis dan yang lebih mengejutkan lagi adalah momen itu melibatkan anak kecil! Momen saat Pennywise hadir dari sela kecil sewer itu tampaknya akan menjadi kandidat unggulan bila membahas momen film paling memorable pada tahun ini.

Opening itu tentu dihadirkan Muschietti dengan menyelipkan pesan kepada penonton bila anak kecil bukan menjadi jaminan mereka akan diperlakukan spesial di dalam film ini, yang mana tipikal film horor bila anak kecil biasanya akan bernafas lega dan hidup bahagia selepas teror berakhir. Mereka tetap berpotensi menjadi korban, dan bisa saja kematian yang menjemput mereka akan sama mengenaskannya seperti yang dialami George. Setelah gebrakan yang di awal itu, Muschietti yang dibantu oleh Chase Palmer dan Cary Fukunaga yang berbagi tugas dan tanggung jawab dalam hal naskah ini mengendurkan sejenak gas pol di awal dengan mengajak penonton berkenalan dengan tiap-tiap anggota dari The Losers' Club. Dari ciri khas, interaksi antar karakter yang terlihat natural, permasalahan yang dihadapi baik dalam kelompok maupun pada ruang lingkup pribadi dan tidak ketinggalan ketakutan dari masing-masing karakter. Pendekatan ini jelas perlu untuk menciptakan koneksi antara mereka dan penonton, dan itu berhasil. Buktinya, saya selalu mengharapkan setiap anggota akan berakhir dengan selamat dari teror-teror yang dihadirkan Pennywise. Hal ini merupakan hal yang cukup langka dalam dunia perfilman, karena kebanyakan karakter cilik dalam film itu biasanya menyebalkan akibat dari sikap mereka yang rewel serta seolah begitu dilindungi dari setiap aktivitas teror dari sang villain dilakukan. Dalam film It, itu sama sekali tidak terjadi. Memang masih ada satu karakter yang cerewet, namun itu didukung dengan sebuah motif yang mampu membuat penonton setidaknya memahami. Tidak ada sama sekali yang tenggelam, walau memang pusat karakter di pegang oleh Bill. Belum lagi mengenai interaksi mereka yang terlihat alami dan begitu dinamis. Tidak jarang juga beberapa humor diselipkan untuk sedikit ruang bagi penonton supaya bisa bernafas, istirahat sejenak dari keseraman yang ada. Saya menyukai hal-hal kecil diperhatikan sang kreator dalam interaksi mereka seperti Richie yang paling dekat dan memahami Bill.  Bila Bill adalah ketua dalam The Losers' Club, Richie merupakan wakilnya. Dan yang lebih mengejutkannya lagi adalah bagaimana sosok Ben yang berbadan tambun disini malah terlihat keren dan mungkin karakter yang paling mudah mendapatkan simpati dari penonton dengan kisah subplot nya yang diam-diam jatuh hati kepada Beverly.


Dengan kepedulian penonton pada karakternya, tentu itu mempengaruhi pada setiap adegan teror hadir di layar. Setiap teror terasa greget karena kita tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi pada karakter yang tengah menghadapi teror dari Pennywise. Ditambah lagi dengan setiap teror tersebut disajikan bervariasi dan berbeda. Jump scare nya diperlihatkan dengan kreatif dengan memperhatikan secara detil mengenai set up nya dan tidak sepenuhnya pada momen mengagetkan. Bahkan sejujurnya bila mengenai kejutan akan jump scare, hal itu sangat minim sekali disini, namun bila membicarakan ketegangan, seram, atau sebagainya, itu sangat mampu untuk memaksa kalian mencengkeram pegangan kursi bioskop setiap momen terornya hadir. Pacing pun diperhatikan disini, karena sedikit sekali terasa adegan yang terlalu lama.  Berimbangnya pada poin karakter serta hal wajib pada film horor ataupun thriller yaitu menakutkan, maka tentu saja kalian bisa menebak bila It adalah film yang terpuji dan merupakan sebuah bentuk penghormatan pada sumber aslinya, dan It tentu tidak terjebak pada lubang yang sama, dimana lubang itu tengah dihuni oleh Dark Tower.


Naskah It pun tidak kosong. Karakter-karakternya dipenuhi oleh remaja sehingga bisa ditebak bila It kental dengan kisah coming of age nya. Disini, poin mengenai kerelaan lah yang menjadi bagian akan penceritaan, bagaimana dengan merelakan seseorang ataupun juga sesuatu yang telah tidak bisa dijangkau lagi merupakan salah satu dari proses menuju kedewasaan. Pada bagian konklusi terasa cukup mengharukan berkat pendekatan yang tahap demi tahap yang dilakukan sebelumnya, Love story juga ada walau untungnya tidak mendominasi dan Palmer-Fukunaga lebih memilih tema mengenai persahabatan lebih dominan. Oh, tidak lupa juga bila saya merasa teror yang dilakukan Pennywise kepada remaja-remaja malang ini merupakan simbolisasi mengenai fenomena akan bullying, dan film ini memperlihatkan bila melawan kekerasan bully itu harus dilakukan bersama-sama serta melawan ketakutan yang ada pada diri sendiri, bukannya untuk memilih menyendiri dan berpisah karena hal itu hanya akan menambah kesenangan para bully-ers (maksa banget!).

Mungkin bagi saya yang cukup mengganggu dan sedikit mengganggu penilaian saya mengenai Pennywise nya sendiri. Oh, tentu saja bukan akting karena bagi saya Bill Skarsgard jelas adalah bintangnya disini, dengan memberikan penampilan yang meyakinkan sebagai badut seram. Permainan intonasi serta suara yang dilakukan Skarsgard tidak ditampik sangat mengingatkan saya akan The Joker-nya Heath Ledger. Dan itu tentu saja good point. Yang menjadi masalah adalah ya, siapa It sebenarnya? Mengapa ia memilih kostum badut sebagai instrumennya untuk menakuti? Mengapa ia menyerang hanya 27 tahun sekali? Memang, hal itu tampaknya telah dijawab, namun cerita mengenai sejarah itu sendiri bagi saya cukup membingungkan mengenai apa korelasinya dengan apa yang dilakukan Pennywise. Ambil contoh ya seperti film horor/thriller lainnya yaitu Friday Night 13th yang jelas motif nya menyerang para korban. Entah mungkin memang diniati karakter ini pekat akan misterius atau tidak, yang jelas saya sangat menantikan sekuelnya karena saya tidak ingin kostum boneka nya Pennywise jatuhnya hanya lah menjadi gimmick. 


8,5/10


Wednesday, 20 September 2017



"The moment you catch feelings is the moment you catch a bullet"- Bats

Plot

Muda, mengenakan kacamata hitam, memiliki muka yang kelihatan polos dan tak bersalah, dan tidak lupa earphone yang tersambung dari IPOD nya. Tidak akan ada yang menyangka bila Baby (Ansel Elgort), begitu panggilannya, memiliki keahlian menyupir yang luar biasa dan juga merupakan salah supir andalan dari Doc (Kevin Spacey) yang mempekerjakan tiga orang untuk melakukan perampokan. Tugas Baby mudah, yaitu untuk memastikan usaha kabur setelah melakukan perampokan berjalan dengan sempurna. Baby tentu tidak menikmati pekerjaannya tersebut, namun juga tidak terlihat juga Baby membencinya. Sampai ia bertemu dengan Debora (Lily James), pramusaji restoran yang sering didatangi Baby.





Review

Bila Anda mengetahui trilogy Cornetto Flavours, Anda tentu tidak asing dengan sutradara bernama Edgar Wright. Dari trilogy itu juga lah yang memperkenalkan saya dengan Wright, padahal sebelumnya saya telah menyaksikan karya Wright lainnya, yaitu Scott Pilgrim vs The World, yang sayangnya sedikit flop bila ditilik dari pemasukan. Walau memang karya-karya tersebut kental dengan genre komedi, namun jangan salah, karena didalamnya, Wright juga membalutnya dengan nuansa aksi yang tidak jarang mampu memukau penonton. Contohnya seperti pub scene di Shaun of the Dead. Dan jujur juga, saya baru mengetahui kala beberapa menit sebelum menulis review ini, bila Wright juga terlibat dalam film Grindhouse yang juga melibatkan Quentin Tarantino itu. Maka tidak heran bila Baby Driver berakhir dengan memuaskan. 

Dari opening saja, susah rasanya untuk tidak langsung menyukai Baby Driver. Dibuka dengan car chase yang mempertunjukkan kebolehan dari Baby untuk lepas dari kejaran polisi, serta diiringi dari track nya Jon Spencer Blues Explosion yaitu Bellbotoms, Wright ingin memberikan gambaran kepada penontonnya bila Baby Driver adalah tontonan yang mengasyikkan namun tidak melupakan keseruan akan gelaran-gelaran aksi sebagaimana film heist lainnya. Barulah setelah keseruan yang berlangsung kurang lebih 7 menit itu, Wright mengajak penonton untuk berkenalan dengan tokoh utama dalam film ini, yaitu Baby. Dari backstory, alasan dirinya mengapa bisa bekerja dibawah perintah Doc, kebiasaannya yang selalu mengenakan earphone yang ternyata untuk menutupi gangguan yang ada di telinganya, juga dengan siapa Baby tinggal. Perkenalan ini tentu diniati Wright untuk menciptakan kedekatan penonton dengan Baby. Yang saya suka adalah keberadaan backstory Baby tidak hanya untuk menuai simpati penonton kepada Baby, tetapi juga dijadikan landasan akan tiap-tiap tindakan yang dilakukan Baby. Bahkan dari keputusan Baby yang selalu mengenakan earphone saja memiliki alasan tersendiri, yang jatuhnya tidak menjadi tempelan semata supaya sosok Baby terlihat keren. Well, sulit memang untuk tidak menyukai karakter Baby yang dilengkapi dengan keunikan-keunikannya, yang terutama bagi saya adalah kebiasaannya merekam percakapan-percakapan orang lain, lalu menggubahnya ke dalam bentuk mixing lagu.

Wright tahu benar bagaimana mengemas suatu adegan yang bersinergi antara apa yang ada di layar dengan soundtrack nya. Lihat saja dari adegan Baby berjalan menuju kedai kopi saja dikemas oleh Wright dengan brilian, sebuah adegan yang mengingatkan saya akan Copacabana scene dari Goodfellas. Wright mewujudkan keinginan penonton seperti saya yang ingin kehidupan ini juga diiringi soundtrack yang mampu merefleksikan apa yang sedang kita lakukan. Wright juga setia dengan judul film ini karena adegan-adegan aksi di Baby Driver didominasi setiap karakter Baby berada di belakang roda kemudi, dan percaya sama saya, walau hampir tidak ada aksi perampokan yang ditampilkan dalam film ini, namun setiap adegan aksi car chase nya sama sekali tidak ada yang terasa hambar, terutama kala aksi kabur yang tidak sesuai rencana di pertengahan film. Saya saat setelah adegan car chase di opening yang sedikit meragukan Wright untuk bagaimana melanjutkan adegan-adegan aksinya setelah car chase terbaik tahun ini, dibuat terdiam dan puas setelah terbukti salah meragukan kapabilitas seorang Edgar Wright. Dengan style ciri khas nya dalam mengemas suatu adegan, seperti jumpcut yang cepat, lalu ditambah bumbu-bumbu film heist seperti Heat- nya Michael Mann. Yak, bagi yang belum mencoba menonton film ini, tinggal bayangkan saja bagaimana gila dan kerennya kemasan adegan aksi disini.

Adegan aksinya memang semuanya keren disini, tetapi apalah artinya bila tidak diimbangi dengan karakter-karakter yang keren pula. Untungnya Wright menyadari itu, setelah mengemas Baby menjadi karakter yang cukup mudah untuk mendapatkan simpati dari penonton, Wright menciptakan karakter-karakter pendukung yang tidak mudah terlupakan, seperti Buddy (Jon Hamm), kekasihnya Darling (Eiza Gonzalez), bahkan penampilan singkat dari Jon Bernthal pun tidak bisa dibilang mudah terlupakan juga. Namun tidak ada yang bisa mengalahkan penampilan badass dari Jamie Foxx sebagai Bats. Bats adalah seseorang yang kalian tidak harapkan ada berada di dekat kalian. Bertingkah seenaknya, kalimat kasar senantiasa keluar dari mulutnya, mudah untuk membenci karakter yang mengingatkan saya pada Calvin Candy-nya Leondardo DiCaprio di Django Unchained ini, tetapi berkat penampilan gemilang dari Jamie Foxx, Bats menjadi karakter paling memorable di film Baby Driver, bahkan menurut saya mampu mengalahkan karakter Baby itu sendiri. Karakter Debora yang dibawakan Lily James mungkin sedikit tenggelam bila dibandingkan lainnya, namun bukan berarti karakternya jelek, bahkan seorang Debora itu adalah gadis yang banyak dimimpikan oleh para pria. Oh, mengenai percintaannya, bisa dibilang cukup klise, bahkan menurut saya Baby Driver sedikit keteteran kala penceritaan mengarah ke hubungan Baby dan Debora. Untungnya cerita mengenai hubungan mereka tidak terlalu mendominasi, dan walau memang klise, tetapi cukup mampu untuk membuat penonton mendukung hubungan percintaan Baby dan Debora.

Dikelilingi oleh para aktor yang jauh lebih senior, dan bahkan dua diantara mereka telah memenangkan Oscar (Foxx dan Spacey), mudah saja memprediksi bila aktor muda Ansel Elgort akan tenggelam. Namun kenyataan mengejutkan di lapangan membuktikan bila anggapan itu salah. Kesampingkan mengenai pendalaman karakter yang dilakukan Wright terhadap Baby, Elgort berhasil memerankan Baby sebagai pemuda yang bisa memerankan karakter yang asyik serta mudah mendapatkan simpati dari penonton secara bersamaan. Ditambah dengan meyakinkannya Elgort menampilkan kecanggungan dari Baby tiap kali berbicara. Singkatnya, Elgort terlahir untuk memerankan karakter Baby ini (sedikit berlebihankah?).

Spoiler!!! 

Saya menyukai endingnya yang tidak serta merta memberikan akhir yang manis terhadap Baby. Wright lebih memilih untuk menyelipkan dampak yang harus dialami oleh Baby dari setiap aksi-aksi kriminal yang ia lakukan. Hal ini menurut saya merupakan pembeda yang dilakukan Wright dari film-film heist, yang tetap menapakkan Baby Driver pada dataran realita bila bukanlah hal yang mudah untuk kabur dari tindakan kriminal yang dilakukan, baik itu karena keterpaksaan atau tidak. Dan yang lebih saya sukai lagi adalah kebaikan-kebaikan kecil yang dilakukan Baby sebelumnya tidak dilupakan dan dijadikan alat penggerak plot menuju ke akhir bahagia yang pantas didapatkan oleh Baby.

Spoiler Ends!!

Bila membicarakan minus yang ada pada Baby Driver, yang hanya terpikir mungkin adalah kurangnya pendalaman interaksi antara Doc dan Baby, sehingga apa yang dilakukan Doc pada adegan aksi terakhir Baby Driver patut dipertanyakan serta terkesan sangat terpaksa. Bila saja ada sedikit montage saat awal-awal Baby bekerja dengan Doc, pasti momen tersebut akan terasa emosional dan bukan tidak mungkin akan menghadirkan salah satu adegan tersedih pada tahun ini. Namun minus ini tidak menghentikan saya untuk menikmati Baby Driver. Karakter-karakter yang menempel di benak, protagonist yang mudah disukai, action secquences yang semuanya digarap begitu cemerlang oleh Wright, serta penutupnya yang manis, mengantarkan Baby Driver adalah salah satu film terbaik di tahun ini.

8,5/10




Thursday, 14 September 2017




Plot

Meg (Kate Upton) dan Kate (Alexandra Daddario) tengah mengalami kebuntuan dalam karir mereka. Merasa perlu untuk liburan sejenak, Meg mengajak teman sekamarnya itu untuk pergi berlibur. Pada saat pesawat akan take off, keduanya bertemu dengan pria berambut pirang bernama Ryan (Matt Barr). Tidak terlalu lama, Meg dan Kate tertarik dengan Ryan dan memanfaatkan keadaan dimana perjalanan mereka terhambat akibat badai untuk lebih mengenal lebih jauh sosok Ryan.




Review

Baywatch mungkin bukanlah karya yang bisa dibanggakan, tetapi paling tidak film tersebut memperkenalkan saya akan sosok artis jelita bernama Alexandra Daddario (saya tidak mengikuti tv series True Detective). Praktis, sehabis menonton Baywatch, saya segera mencari film-film apa saja yang pernah dan akan dibintangi Daddario, sehingga pencarian saya mempertemukan dengan The Layover. Sebuah film romantis komedi yang menyandang rating R didalamnya. Ya, rating R tersebut jelas menggoda saya untuk mencoba film ini dan mengharapkan Daddario tampil berani di The Layover, yang sebelumnya di Baywatch, Daddario sedikit mengecewakan para fans nya (termasuk saya) karena dinilai tampil sedikit tertutup untuk film yang bergenre dewasa.

Bagi saya, film akan berakhir dengan memuaskan dipengaruhi akan ekspektasi yang dipasang, dan bila melihat sinopsis The Layover, para kritik harusnya bisa lebih bijak dalam memasang ekspektasi akan film yang disutradarai William H. Macy ini. Ya, apa yang diekspektasikan dari film seperti ini? Dari awal-awal film bergerak menuju plot sebenarnya saja, sebagian besar penonton pasti bisa menebak akan berakhir seperti apa The Layover. Dan Macy menyadari itu sehingga dengan bantuan David Hornsby dan Lance Krall dalam pembuatan naskah, Macy tidak ingin menjadikan karya nya ini sebagai film yang sok-sokan untuk pintar. 

Memiliki amunisi dua aktris seksi di dalamnya pun sedikit bisa dimanfaatkan oleh Macy, walau memang harus diakui, Macy masih malu-malu dalam mengeksploitasi tubuh Kate Upton dan (sayangnya) Daddario. Padahal bisa saja saat karakter Meg dan Kate berusaha untuk menarik perhatian seorang Ryan, mereka ditampilkan gila-gilaan dan mengobral tubuh indah mereka. Saya mungkin terdengar sangat mesum disini, tetapi, well, bukannya sebagai pria dan penikmat film yang normal, hal itulah yang kita harapkan dari The Layover? Sayangnya Macy tidak melakukan hal ini dengan maksimal. Saat momen payudara Meg tersembul keluar saja tidak ditampilkan secara gamblang oleh Macy. Adegan bercintanya saja hanya ada satu disini, dan untungnya saja melibatkan Daddario. Bila tidak, sia-sia saja saya menyaksikan film ini. Oh, mengenai Daddario, bila dibandingkan dirinya di Baywatch, Daddario tentu jauh tampil lebih terbuka dan berani disini. Yah, walau tetap tidak ada adegan yang memperlihatkan payudaranya. (Ya ampun, maafkan kemesuman saya)

Baiklah, saya akan membahas sedikit mengenai ceritanya, dalam rangka untuk menghargai karya yang dibuat Macy ini. Ceritanya memang tipis. Persaingan antara Meg dan Kate sebenarnya ingin diniati sebagai jembatan untuk kedewasaan diri juga mempererat hubungan persahabatan (mereka bersahabat?) Meg dan Kate. Tetapi jatuhnya menjadi hambar karena kita sama sekali tidak mengenal Meg dan Kate. Bila tidak ada tampilan mengenai kedekatan mereka berdua sebelum mereka harus bersaing untuk hal yang mereka yakini cinta, penonton tentu saja kesulitan untuk perduli dengan hubungan mereka berdua. Sehingga konklusi nya di akhir sama sekali tidak meninggalkan kesan. Belum lagi saya membahas bila konklusinya tersebut terlalu datang tiba-tiba, tanpa proses yang meyakinkan sebelumnya. Humornya juga tidak terlalu berhasil, walau tetap mampu memaksa penonton untuk setidaknya tersenyum simpul. 

Alasan utama saya menyaksikan The Layover tentu adalah untuk melihat keseksian Daddario, dan cukup mengejutkan kala melihat Daddario ternyata cukup bisa memaksimalkan humornya. Ya, Daddario adalah bintangnya disini, dan tidak salah bila dirinya adalah alasan nomor satu juga untuk penonton lainnya untuk menikmati The Layover hingga durasi berakhir.

6/10

Friday, 1 September 2017


"He may have been your father, Quill, but he wasn't your daddy."- Yondu

Plot

Setelah berhasil menghentikan kejahatan Ronan, para anggota Guardians of the Galaxy yang terdiri dari Peter Quill (Chris Pratt), Gamora (Zoe Saldana), Drax (Dave Bautista), Rocket (voice by Bradley Cooper) serta Groot (voice by Vin Diesel) yang kini dalam wujud kecil akibat pengorbanan yang ia lakukan sebelumnya untuk menyelamatkan teman-temannya, tetap melanjutkan tugas barunya dalam melindungi galaksi dengan cara menerima permintaan dari antar planet lain. Saat telah berhasil menjalani misi yang diberikan oleh ras yang dinamakan Sovereign, The Guardians mendapatkan masalah akibat ulah dari Rocket sehingga kini mereka menjadi buronan ras Sovereign. Dalam masa diburu itulah, muncul sosok bernama Ego (Kurt Russel) yang ditemani Mantis (Pom Klementieff) yang mengakui dirinya bila ia adalah ayah dari Peter. Di lain sisi, akibat kegagalan yang ia alami, Yondu (Michael Rooker) kini diasingkan oleh pihak Ravagers dan juga harus menghadapi akan krisis kepercayaan para anak buahnya. Ras Sovereign pun memanfaatkan kesempatan itu dan menawarkan pekerjaan kepada Yondu dan anak buahnya, yaitu apalagi selain menangkap The Guardians.





Review

Saya mencintai film Guardians of the Galaxy (GotG). Menurut saya, film tersebut jauh dari sekedar kejutan yang menyenangkan. Perpaduan antar interaksi karakter, humor-humor yang segar (saya tidak bisa untuk tidak tertawa saat melihat Rocket membodohi Peter yang melibatkan kaki palsu tersebut), pamer visual yang indah dan jangan lupakan juga soundtrack demi soundtrack nya yang tidak hanya sangat memanjakan telinga, namun juga bersinergi dengan adegan yang hadir di layar, semuanya menjadi satu untuk membuat GotG yang awalnya dianggap sebagai proyek judi dari Marvels menjelma menjadi salah satu film terbaik di tahun 2014. Tentu saja dengan hasil akhir yang memuaskan itu, sekuel selanjutnya diantisipasi oleh penggemar film, termasuk saya. Ekspektasi meninggi tidak bisa dihentikan, terutama kala James Gunn kembali duduk di sutradara. 

Telah menjadi tradisi saya bila untuk film-film yang saya niati untuk tonton, sebisa mungkin saya akan menjauhi trailer maupun artikel demi artikel yang membahas film tersebut untuk mendapatkan kepuasan yang maksimal. Maka ketika adegan awal di sekuelnya ini telah memperlihatkan sosok ayah dari Peter yang telah ketahui bersama bila Peter sangat penasaran dan terus mencari ayahnya dari semenjak ia diadopsi oleh Yondu. Dari sini saya memperkirakan akan terjadi petualangan yang melibatkan emosi personal di dalam diri Peter. Hanya satu yang saya takutkan, yaitu karakter Peter akan terlalu menonjol akan konflik kedepannya sehingga karakter-karakter lain akan dikorbankan screen time nya dan hanya menjadi pendamping saja. GotG pertama berhasil tidak bisa dilepaskan dari kebersamaan serta lemparan-lemparan dialog antar karakter, namun ketika karakter nya berjalan masing-masing, daya tarik menurun drastis. Untungnya James Gunn tidak terlalu menyingkirkan para karakter pendukungnya, karena baik Gamora, Rocket, Drax bahkan Baby Groot pun memiliki momen-momennya sendiri. Mereka tetaplah karakter yang sama seperti di prekuelnya (selain Baby Groot yang jelas jauh lebih imut dibandingkan versi raksasanya), namun tetap dibantu dengan humor-humor baru yang cerdas dari Gunn, seperti yang paling sederhana saat Rocket yang selalu salah saat mengirimkan kode candaan dengan mengedipkan sebelah matanya. Menjadi permasalahan ketika Gunn memutuskan untuk memisahkan mereka menjadi dua grup, yang tentu saja berisiko besar membuat Vol. 2 mengalami degradasi dalam hal sisi fun nya.

Risiko tersebut nyatanya memang terjadi, sehingga segala kesenangan saat melihat aksi melawan monster di opening serta usaha kabur The Guardians dari kejaran ras Sovereign, dilanjutkan dengan build up yang dilakukan demi third act nya. Pada saat ini lah, Vol. 2 cukup terasa membosankan dan tidak menarik sehingga durasi sedikit terasa berjalan lambat. Bila saja tidak ada subplot dari Rocket yang kembali bertemu dengan Yondu, mungkin saja saya akan ketiduran di tengah jalan. Ya, petualangan Rocket bersama Yondu berhasil menjadi plot yang lebih menarik ketimbang melihat interaksi antara Peter dan Ego di planet lain. Bukan hanya karena Yondu adalah karakter terfavorit saya di GotG, tetapi kisah mereka juga dibalut dengan sebuah aksi yang mungkin adalah aksi terbaik di Vol 2 ini. Belum lagi saya membicarakan momen kelucuan dimana Baby Groot berusaha membebaskan mereka berdua. Membosankannya petualangan Peter, Gamora dan Drax membuktikan bila daya tarik The Guardians tidak akan maksimal bila mereka terpisah satu sama lain. Subplot yang terjadi antara hubungan Gamora dan adiknya, Nebula (Karen Gillan) memiliki konklusi yang menurut saya cukup dipaksakan, apalagi melihat setiap perkelahian yang mereka lakukan. Koneksi antara Drax serta Mantis pun tampaknya hanya diperlukan sebagai comic relief saja. Untuk menjadi sebuah motivasi dalam diri Mantis supaya apa yang dilakukannya pada momen mendekati third act juga rasanya tidak terlalu kuat.

Seperti prekuelnya, kisah Vol. 2 sendiri tidaklah terlalu spesial. Saya yakin telah banyak yang menggunakan penceritaan yang sama seperti Vol. 2 ini sehingga saya cukup berani untuk bertaruh bila sebagian besar penggemar film akan bisa menebak third act nya akan seperti apa, tanpa harus membaca komiknya sekalipun. Dipisahnya para anggota The Guardians memang menurunkan dosis kesenangannya, namun susah juga untuk ditampik bila hal itu diperlukan demi third act nya yang akan mengaduk-aduk perasaan penonton (terutama saya). 

Kelemahan GotG Vol. 2 juga adalah motif supervillain nya yang bisa saya katakan cheesy seperti villain-villain superhero lainnya, yang menganut kepercayaan dunia akan lebih baik kala dunia akan dihancurkan lebih dulu. Tidak ada suntikan personal di motif tersebut, padahal bila saja motifnya bisa dikaitkan dengan masa lalu antar dua karakter, hal tersebut mampu menambah kebimbangan yang akan terjadi pada karakternya. Supervillain nya kembali lagi jatuh ke lubang yang sama yang ingin menguasai dunia dan itu membosankan, tentu saja. Mengapa Loki jauh lebih memorable dibandingkan keseluruhan villain di MCU? Karena motif Loki jauh lebih personal dengan hanya ingin mendapatkan pengakuan dari keluarganya dan ingin keluar dari bayang-bayang sang kakak, yaitu Thor. Hal itu memberikan keterikatan dengan penonton sehingga tidak jarang kita sebagai penonton seringkali lebih mendukung Loki dibandingkan Thor sendiri yang notabenenya sebagai karakter superhero.

"Pamer" visual yang saya sebutkan di atas yang merupakan salah satu elemen positif prekuelnya, kembali ditampilkan oleh Gunn disini. Budgetnya yang mencapai $200 juta begitu dimaksimalkan disini dengan memperlihatkan parade cahaya-cahaya cosmic di luar angkasa untuk menghiasi adegan-adegan aksinya, yang juga terasa lebih bombastis dibandingkan third act di prekuel, meski tidak sampai ke tahap yang bisa dikatakan spesial. Malah semua adegan-adegan bombastis tersebut menurut saya tidak ada apa-apanya dibandingkan aksi sederhana dari Yondu. Setiap track nya juga tetap bersinergi dengan adegan-adegannya, lihat saja di adegan openingnya. Oh, berbicara dua aspek ini, Gunn memaksimalkannya di adegan closing yang tidak hanya emosional (I was cried at this scene. And I don't feel embarassed) berkat bantuan track Father and Son- nya Cat Steven, serta indah akibat dari puluhan cahaya yang ada. Salah satu closing terbaik di MCU.

Guardians of the Galaxy Vol. 2 mungkin sedikit dibawah dibandingkan predesornya, namun itu disebabkan oleh keputusan Gunn untuk memisahkan antar karakter The Guardians, sehingga interaksi mengasyikkan antar karakter seperti di GotG pertama menghilang di pertengahan film, dan itu cukup berpengaruh bagi saya. Lihat saja, kala kelima karakternya kembali berinteraksi, di saat itu juga Guardians of the Galaxy kembali mendapatkan nafas kehidupan. Tetap menghibur, walau tidak terlalu berkesan. Andai saja tidak ada adegan penutupnya yang emosional tersebut, Guardians of the Galaxy Vol. 2 ini tidak akan meninggalkan kesan yang baik untuk saya.

7,5/10





Friday, 25 August 2017




Plot

Baywatch merupakan nama dari sekelompok penjaga pantai yang bertugas di Emerald Bay. Diketuai oleh "Letnan" Mitch Buchannon (Dwayne Johnson) yang memiliki reputasi baik di mata pengunjung pantai berkat beberapa kali aksi heroik penyelamatannya, keadaan damai pantai Emerald sedikit terusik dengan kedatangan Victoria Leeds (Priyanka Chopra) yang dicurigai Mitch memiliki niat terselubung yang melibatkan pantainya. Dibantu dengan anggota-anggota senior nya seperti Stephanie (Ilfenesh Hadera) juga CJ Parker (Kelly Rorhbach), serta dua anggota rekrutan baru yaitu Ronnie (Jon Bass) dan Summer (Alexander Daddario), Mitch pun mencoba untuk menguak apa yang ia curigai. Usahanya itu pun sedikit terusik akan kedatangan mantan atlit renang berbakat peraih dua medali emas Olimpiade yang memiliki reputasi buruk di aksi renang terakhirnya, Matt Brody (Zac Efron), yangjuga berniat ikut bergabung dengan Baywatch.





Review

Saya sedikit awam mengenai serial TV negeri Amerika. Mulai tertarik untuk mencari tahu di saat sekarang itupun berkat rasa kagum dan cinta saya akibat Game of Thrones yang berhasil saya ikuti dari season 1 hingga sekarang yaitu 7 dalam jangka waktu hanya 1 bulan saja. Namun bukan berarti saya sama sekali tidak pernah mendengar mengenai tv series berjudul Baywatch. Saya pernah sekilas mendengar mengenai Baywatch karena sang pemeran utama yaitu David Hasselhof (yang juga ikut menjadi cameo disini) turut menjadi juri dalam sebuah ajang pencarian bakat yang sempat ditayangkan di salah satu televisi swasta. Kembali mendengar Baywatch saat saya menyaksikan Borat yang secara langsung memberikan info bila Pamela Anderson ternyata juga artis yang ikut berperan dalam serial itu. Yang saya tidak ketahui adalah bila Baywatch lah yang menjadi faktor utama Pamela Anderson begitu dikenal saat itu. Dari sini saya bisa menyimpulkan bila Baywatch juga mengambil keuntungan besar berkat kehadiran Pamela Anderson. Dan saat tersiar kabar bila pihak Paramount ingin menghadirkan Baywatch dalam versi layar lebar, saya bisa menyadari untuk memperkirakan film seperti apa Baywatch nanti.

Untuk menilai apakah Baywatch versi film setia dengan tv seriesnya cukup sulit bila pertanyaan itu ditujukan kepada saya. Namun yang pasti saya bisa menjawab bila Baywatch ini tetap setia dalam mengeksploitasi lekukan-lekukan tubuh pemerannya. Adegan slow motion seperti tv seriesnya pun kerap digunakan, yang juga menjadi bahan humor disini. Tentunya bagi pria normal seperti saya, melihat seorang Alexander Daddario dan Kelly Rorhbach (terutama Daddario) tampil dalam balutan spandex ketat (atau jaket, ya apapun itu namanya, yang pasti ketat di tubuh mereka) beraksi otomatis menjadi hiburan tersendiri untuk mata ini. Sedangkan untuk para wanita, mereka pun pastinya akan terpukau dengan badan atletis yang dimiliki Zac Efron yang juga kerap tampil dengan topless sehingga otot perut sixpack nya pun dengan bebas terpamerkan. Hiburan-hiburan yang memanfaatkan bentuk tubuh ideal dari pemeran-pemeran nya inilah seolah untuk digunakan oleh Seth Gordon sebagai distraksi supaya penonton tidak terlalu memperhatikan jalanan ceritanya.

Dalam twitternya, Dwayne Johnson menyatakan bila Baywatch bukanlah film yang diciptakan untuk para kritikus, sebagai tanggapan dari buruknya hasil ulasan-ulasan dari mereka. Well, tidak salah memang meniati sebuah karya murni untuk sebagai hiburan. Namun sayangnya, sebelum Baywatch, banyak sekali film-film blockbuster yang tetap menarik diikuti, namun tidak mengorbankan penceritaan. Jangan sebut film berat seperti Inception dahulu karena banyak sekali film-film blockbuster ringan berkualitas seperti Edge of Tomorrow, Independence Day dan karya klasik seperti Jaws. Baywatch? Tanggalkan semua hiburan eksploitasi tubuh aktor/aktrisnya, apa yang akan kalian ingat?

Saya telah menyatakan sebelumnya bila saya tahu Baywatch akan seperti apa, maka untuk membahas aspek-aspek seperti perkembangan karakter atau juga backstory nya tampak berlebihan, walau memang sayang sebenarnya karena mengenai backstory dari Brody bisa sedikit lebih diperdalam karena ada potensi ironi disana sehingga untuk bersimpati kepada Brody akan jauh lebih mudah, yah paling tidak bersimpatilah. Namun karena backstory nya tidak tergali, karakter Brody jatuhnya menjadi menyebalkan di awal-awal hingga pertengahan. Dan juga untuk Mitch sendiri, motif apa yang membuat dirinya begitu mencintai pekerjaan nya sebagai lifeguard pantai hingga nekad melanggar hukum? Hanya didorong rasa curiga? Nah, butuh motivasi lebih dari sekedar curiga untuk berani melakukan semua hal yang dilakukan Mitch disini demi untuk membongkar kasus yang ia curigai. Walau sebagai penonton kita telah mengetahui apa yang Mitch lakukan itu benar, tetapi tetap saja sulit juga untuk mendukung setiap aksi yang ia lakukan disini. Dua hal itu merupakan sedikit dari kelemahan-kelemahan naskah Baywatch. 

Saya ingin sekali membahas segala kebodohan naskah dalam Baywatch, namun sekali lagi, rasanya tidak perlu. Jatuhnya saya nanti akan dicap terlalu serius menonton film ini. Tetapi bila saya perhatikan, Gordon tampak merasa dilema untuk membawa Baywatch ke ranah murni hiburan atau mencoba untuk tidak terlalu kelihatan bodoh dalam penceritaannya. Karena sebenarnya, andai Gordon ingin serius membawa Baywatch ke opsi kedua, ia bisa saja menjadikan Baywatch ini sebagai sindiran untuk para polisi yang selalu terlambat dalam bekerja. Hal itu bisa diperdalam dan tidak membuang sia-sia durasi film ini yang menyentuh hingga dua jam. Namun sayang, potensi itu dibiarkan lewat saja yang mengakibatkan Baywatch memang diciptakan untuk menghibur penonton dengan naskah yang buruk. Belum lagi bila harus membahas humor-humor jorok yang senantiasa tidak jauh dari kelamin atau payudara. Tidak saya tampik, ada beberapa yang berhasil, namun itupun berkat delivery yang dilakukan Johnson sama Efron, selebihnya? Nah. Oh, jangan bahas pula special effect nya yang sulit dipercaya bila Baywatch didanai dengan budget sebesar hampir 70 juta dollar Amerika.


Yang saya sayangkan adalah dua aktor utama disini yang kembali terpakai dengan percuma. Johnson dan Efron adalah aktor yang memiliki potensi untuk memperlihatkan kualitas yang lebih. Johnson telah membuktikannya di film Snitch bila ia pun mampu melakoni peran yang harus menuntutnya memperlihatkan adegan dramatik. Sedangkan Efron juga telah beberapa kali memperlihatkan dirinya bisa menyajikan akting yang baik walaupun naskahnya tidak mendukung, seperti Dirty Grandpa, dan Efron membuktikannya lagi disini. Kolaborasinya dengan Johnson merupakan highlight nya Baywatch. Banyak sekali jokes yang sebenarnya tidak terlalu lucu bila dibawakan oleh aktor lain, namun di tangan Johnson dan Efron, jokes tersebut bekerja. Seperti contoh momen kala Brody harus memegang kemaluan mayat. Normalnya, saya tidak akan terhibur dengan humor eksplisit yang melibatkan kemaulan seperti itu, tetapi berkat ekspresi dari Efron serta kata-kata yang keluar dari Johnson, humor itu sedikit bekerja, yah setidaknya. Daddario pun juga dalam satu adegan membuktikan bila ia memiliki kapabilitas sebagai artis sungguhan, bukan hanya menjadi eye candy semata. Priyanka Chopra sebenarnya tidak buruk dalam debut hollywod nya ini. Namun sulit rasanya untuk menganggap dirinya serius sebagai villain utama.  Aktris lainnya? Nah


Terhibur? Ya, pastinya. Melihat payudara-payudara yang sering naik turun kala para aktrisnya berlari (terutama kehadiran Kelly Rohrbach), Siapa laki-laki yang tidak akan terhibur. Dan jika tujuan utamamu adalah hanya melihat pemandangan tersebut, maka saya jamin, kamu akan cukup terhibur. Membuang potensi maksimal yang sebenarnya bisa didapatkan dari Johnson dan Efron, Baywatch mampu memanjakan matamu, namun tidak untuk otakmu.


6,25/10

Saturday, 22 July 2017


Plot

Mei 1940, 400.000 tentara aliansi tengah terkepung di wilayah perpantaian Dunkirk. Kondisi tersebut tentu saja memudahkan pihak Jerman untuk melancarkan serangan demi serangan. Evakuasi pun coba dilakukan di tengah kondisi pelik itu. Bersama sang anak, Dawson (Mark Rylance) ditugaskan untuk melakukan tugas tersebut dengan kapal yang ia miliki. Di sisi lain, di medan pertempuran udara, Farrier (Tom Hardy) dan Collins (Jack Lowden) melakukan yang mereka bisa untuk mencegah angkatan udara Jerman melancarkan serangan. Tommy (Fionn Whitehead) yang merupakan salah satu dari ratusan ribu tentara aliansi yang terjebak di wilayah Dunkirk pun mencoba semua yang ia bisa untuk bertahan.




Review

Bila Anda merupakan pembaca setia blog saya ini (misalkan ada), Anda pasti tahu bila saya merupakan penggemar Christopher Nolan. Salah satu penyesalan terbesar di hidup saya adalah melewatkan kesempatan dua karya klasik dari Nolan, yaitu The Dark Knight dan Inception di layar besar bioskop. Belajar dari kesalahan besar itu, saya bersumpah untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Film Nolan harus saya saksikan di bioskop karena saya percaya kemampuan Nolan dalam meramu adegan-adegan yang ada di dalam filmnya terasa spesial, dan tentunya saya mengharapkan kejutan di akhir film yang merupakan salah satu signature yang Nolan miliki. Dan saya juga yakin penggemar film seperti saya akan memiliki keinginan yang sama. Setelah Interstellar yang memberikan saya pengalaman menonton yang sangat menyenangkan, maka saat ini Dunkirk juga saya harapkan memberikan kesan yang sama, atau bahkan bisa lebih. Terlebih kali ini, medan perang merupakan sorotan utama cerita.

Saya mengakui bila saya sama sekali tidak mengetahui mengenai sejarah perang Dunkirk yang terjadi di perang dunia kedua, maka saya pun tidak akan mengungkit atau membahas apakah semua yang Nolan angkat disini akurat atau tidak dengan sejarah yang ada. Saya percaya Nolan akan menyajikan sajian perang disini serealistis mungkin yang ia bisa, sama yang ia lakukan di film-film yang ia garap sebelumnya. Nolan yang kali ini tidak didampingi sang adik dalam menulis naskah menggulirkan plot penceritaan lewat tiga kejadian, yaitu yang pertama menceritakan satu minggu di tepi pantai Dunkirk dimana penonton akan melihat perjuangan Tommy untuk menyelamatkan diri, kemudian ada pertempuran udara yang diceritakan berlangsung satu jam dan terakhir satu hari perjalanan Dawson menuju Dunkirk. 

Ketika melihat rating MPAA Dunkirk adalah PG-13, Saya sempat khawatir bila Dunkirk akan kehilangan atmosfir seram peperangan dengan absennya darah yang bermuncaratan serta mayat bergelimpangan yang dipenuhi dengan darah. Hal itu perlu karena kita semua tahu, bahwa perang merupakan panggung akan kematian. Maksud saya, coba lihat yang dilakukan Mel Gibson pada Hacksaw Ridge, Gibson tidak sungkan-sungkan menakuti penontonnya dengan potongan-potongan tubuh, usus yang tercerai berai demi meyakini penonton akan betapa kejamnya dunia perang yang ada. Untungnya Nolan memiliki kemampuan dalam memacu adrenalin tanpa harus memperlihatkan kematian-kematian para tentara dengan mengekspos potongan-potongan tubuh akibat terkena bom-bom yang dijatuhkan angkatan udara Jerman. Nolan melakukan pendekatan dengan slow burn, contohnya saja seperti Tommy dan Gibson berpacu dengan waktu membawa korban dengan tandu ke kapal evakuasi. Nolan tahu benar bagaimana menyajikan momen-momen di filmnya terlihat spesial. Mungkin hal itu juga yang menyebabkan kombinasinya bersama Hans Zimmer selalu berhasil. Kontribusi scoring Zimmer di Dunkirk jelas tidak bisa dikesampingkan. Berkatnya setiap scenes yang memperlihatkan karakter-karakter disini dalam bahaya lebih terasa menegangkan. Oh, tidak lupa juga sinematografer Hoyte Van Hoytema yang tampaknya akan terus terlibat bersama Nolan kedepannya setelah melihat pekerjaannya disini. Hoytema berhasil dalam menangkap gambar demi gambar yang tak bisa dijelaskan akan keindahannya, terutama di bagian pertarungan udara. Hamparan laut serta langit biru menjadikan setiap pertempuran yang telah sering ditampilkan dalam media film terasa berbeda dan tidak bosan-bosan untuk dilihat ulang.

Para penonton yang telah menikmati karya-karya Nolan sebelumnya pasti telah mengekspektasikan bila plot di Dunkirk tidak akan berjalan linear. Namun plot di Dunkirk terasa berbeda karena yang menjadi fokus disini adalah karakter-karakter yang berbeda, sehingga potensi permasalahan mengenai pacing pasti akan muncul. Disinilah terlihat kematangan Nolan dalam menjaga tensi yang ada. Nolan melakukan transisi dari setiap penceritaan dengan mulus, yang menyebabkan  pacing bukan permasalahan di Dunkirk, melainkan adalah keputusan Nolan yang menggarap sejarah penyelamatan tentara ini dengan realistis dan tidak salah rasanya bila Dunkirk bagaikan semi dokumenter sejarah. Ya, Dunkirk bagaikan materi sejarah mengenai World War II yang sedang dipresentasikan Nolan kepada para penonton yang merupakan mahasiswanya. Memang, Nolan telah terkenal dengan mengambil pendekatan berbeda di setiap film-film blockbuster nya, tetapi sayangnya keputusan itu merupakan salah satu poin yang sedikit fatal bagi saya yang menjadikan Dunkirk, sejauh ini adalah film terlemah dari Nolan.

Keputusan Nolan tersebut mengakibatkan tidak adanya ruang eksplorasi mendalam terhadap karakter-karakter utamanya. Jujur, saya saja hanya teringat 3 nama saja disini saking kurangnya saya mengenal mereka, bahkan nama karakter Tommy yang diperankan Fionn Whitehead saya ketahui lewat website imdb. Hal ini juga mengakibatkan para aktor-aktor nya tidak mampu mengeluarkan kemampuan akting terbaiknya. Tom Hardy kembali harus merelakan muka tampannya (sounds gay?) sebagian besar tertutup, yang menyebabkan dirinya tidak bisa memperlihatkan facial expression yang merupakan salah satu kekuatan terbesar seorang aktor dalam berakting. Mungkin yang sedikit menonjol adalah Mark Rylance berkat screen time nya yang banyak serta juga terlibat dengan momen drama dalam Dunkirk. Cillian Murphy hanya diperlihatkan sebagai tentara yang mengalami trauma tanpa adanya pendalaman sehingga sulit untuk bersimpati terhadap dirinya. Keberadaan Harry Styles tampak jelas hanya dijadikan untuk menggaet para perempuan muda. Mengenai ini, ada kejadian lucu di cineplex XXI tempat saya menonton. Terlihat dua perempuan yang berebutan berfoto di depan poster Dunkirk (foto poster nya sama yang saya pakai diatas) dan meyakini bila pria yang menjadi cover poster tersebut adalah Harry Styles. I mean, what the hell?

Perbedaan yang dilakukan oleh Nolan bisa dimengerti, tetapi penonton seperti saya yang telah dicekcoki perperangan yang dihiasi drama seperti Saving Private Ryan atau yang terbaru, Hacksaw Ridge, membuat saya cukup sulit untuk beradaptasi dan rasanya sulit untuk merasa terikat dengan karakter-karakter disini yang tidak kita kenali dengan lebih baik, yang membuat Dunkirk terasa sedikit kosong. Padahal Nolan bisa memanfaatkan waktunya yang menyentuh 106 menit, seperti mendalami ikatan Tommy dan Gibson. Minim dialog pun turut menghilangkan identitas Nolan yang di film-film sebelumnya rutin menyebarkan kalimat-kalimat yang bisa dijadikan status di Twitter ataupun Facebook. Untungnya Nolan tidak lupa untuk menyuntikkan sisi humanis kepada setiap tentara yang pulang ke tanah air mereka. Sentuhan tersebut dimana Nolan memperlihatkan rasa malu tentara yang malah diselamatkan rakyat sipil, yang seharusnya mereka lindungi. 

Dunkirk tidak jelek, saya tetap menyukainya, dan bahkan rasanya rela untuk merogoh kocek kembali untuk menyaksikan Dunkirk di bioskop, tetapi permasalahan fatal yang saya sebutkan sebelumnya tentu tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Saya merupakan salah satu penggemar Nolan, dan karena itu, saya sangat mengharapkan untuk Nolan menarik diri dahulu dari dunia perfilman blockbuster dan kembali mengerjakan proyek-proyek low budget kriminal seperti Memento atau bahkan Insomnia.


8/10

Thursday, 20 July 2017



21 Juli 2017. Yap, mari sambut comeback salah satu sutradara terbaik saat ini, Christopher Nolan, dengan karya terbarunya, Dunkirk. Sebelum saya mengulas Dunkirk, mungkin akan lebih baik bila kita kembali mengenang semua karya Nolan sebelumnya lewat review singkat saya di bawah ini.

Following (1998)



Film debut Nolan yang juga menyajikan beberapa DNA Nolan yang juga akan hadir di film-filmnya yang akan datang. Alur cerita non-linear, detil cerita yang menyimpan peranan penting dalam menyimpan jawaban di akhir cerita dan tentu saja berbagai kejutan yang hadir pada tiap kesempatan yang tak terduga. Following bagaikan sebuah bukti, terutama bagi para penggemar muda seperti saya yang telat menonton film Nolan bila Nolan adalah sutradara yang memiliki visi luar biasa dalam hal penulisan cerita. Andai saja Following didanai dengan budget kisaran film Hollywood, mungkin saja Following akan ditilik oleh ajang Academy Awards. Twist ending berlapis nya juga merupakan penguat bagi saya bila Master Twist sebenarnya bukanlah M. Night Shyamalan, melainkan adalah Nolan.

8,25/10

Memento (2000)



Following memang karya yang tidak bisa diremehkan dari Nolan, namun dengan budget yang begitu tipis ditambah dengan tidak adanya nama-nama berkelas di jajaran aktornya, membuat Following sedikit terabaikan. Barulah di Memento, seorang Christopher Nolan mulai mencuri perhatian dunia perfilman berkat disokongi nama-nama yang sudah terkenal sebelumnya, yaitu Guy Pearce dan Carlie Anne-Moss. Memento terkenal dengan plot nya yang terlihat kacau tak beraturan, namun setelah beberapa menit kemudian penonton menyadari bila plot tersebut memegang kunci yang penting dalam kepentingan penceritaan. Selain memaksa penonton untuk merasakan penderitaan yang dialami karakter Leonard Shelby, alur cerita itu memiliki nilai substansi dalam menambah dosis tragedi nya kala jawaban di akhir cerita terungkap.

9/10

Insomnia (2002)



Memento ibaratkan gerbang pembuka bagi Nolan untuk terjun ke dunia Hollywood, namun Nolan tidak gegabah untuk menangani film-film berbudget raksasa. Nolan masih tertarik untuk membuat film dengan budget kecil, serta tidak ketinggalan kembali memasang karakter utama dengan gangguan kondisi psikologis. Nolan pun memutuskan meremake film asal Finlandia, yaitu Insomnia. Dari judulnya saja jelas bila karakter utamanya mengidap penyakit susah tidur, akibat berbagai tekanan yang dialami juga kesulitan beradaptasi di daerah Alaska yang tidak mengenal malam hari kala memasuki musim dingin. Insomnia memiliki jajaran aktor kelas wahid semacam Al Pacino, Robin Williams dan Hillary Swank. Berkat Insomnia pula lah, Al Pacino membuktikan dirinya belum kehilangan tajinya sebagai aktor yang memiliki pendalam pada karakter. Al Pacino sempurna memainkan seorang Will Dormer yang terlihat begitu kacau dengan tatapan mata sayu yang ia pancarkan setiap tampil di layar. Selain Al Pacino yang menjadikan Insomnia sebagai ladang pembuktian, Nolan juga membuktikan bila dirinya juga memiliki kapabilitas dalam meramu film yang nihil akan plot non linear dan twist di akhir cerita, walau memang harus diakui hal itu sedikit mengurangi kesenangan kala ekspektasi dari penonton dini seperti saya yang telah menonton Memento dan Inception.

8/10

Batman Begins (2005)



Petualangan Nolan di dunia Hollywood dimulai, dan tidak tanggung-tanggung Nolan langsung diberikan tugas untuk menghidupkan kembali superhero favorit semua orang, the cape crusader, Batman, yang seperti telah kita ketahui bersama sempat mati suri “karir” nya di dunia perfilman akibat hancurnya Batman & Robin garapan Joel Schumacher. Nolan mencoba sedikit meleburkan gaya penceritaannya pada Batman Begins, seperti alur yang kembali non linear pada awal-awal penceritaan, dan pendekatan yang lebih mendalam pada sosok Bruce Wayne sebelum memutuskan untuk menggunakan kostum serba hitamnya dalam patroli malam harinya. Sosok Batman saja baru ditampilkan setelah satu jam durasi berjalan, namun berkat itu juga kehadiran pertama Batman beraksi meninggalkan kesan yang begitu mendalam. Adegan “I’m Batman” yang ada di Begins masih tetap merupakan salah satu momen favorit saya di semua film Nolan. Keputusan Nolan yang lebih memilih untuk mendalami karakter Bruce Wayne dibanding adegan aksinya ternyata berbuah manis karena para penggemar baik penggemar Batman ataupun bukan menyukai keputusan Nolan tersebut. Adegan aksinya walau pun sedikit, tetapi digarap begitu apik dan berkelas, seperti car chase nya yang menjadi ladang debut Batcar yang jauh lebih garang. Sebuah awal yang sempurna untuk mengawali dari trilogy yang di masa akan datang bakal tetap dikenang selamanya.

8,5/10

The Prestige (2006)



Tidak berlangsung lama dari kesuksesan Batman Begins, Nolan kembali dengan kisah yang penuh intrik. Kali ini, ladang bermainnya adalah dunia sulap yang, ya penuh intrik, dan juga kebusukan-kebusukan atau pengorbanan yang dilakukan oleh sang pelakon sulap. Dengan karya adaptasi novel nya yang pertama kali ini, Nolan memperlihatkan bagaimana totalitas dari sang pemeran di atas panggung seperti pesulap bisa merusak kehidupan tidak hanya dirinya sendiri, juga meluas kepada orang yang telah terlanjur tenggelam kedalam kehidupan mereka. Karena The Prestige menceritakan mengenai sulap, maka tidak heran banyak sekali berbagai kejutan dan kelokan yang hadir di menit-menit kala narasi berjalan. Cerita mengenai rivalitas dua karakter utamanya yang saling mensabotase acara sulap satu sama lain pun sangat menarik diikuti, terlebih dua karakter itu dibawakan oleh Christian Bale dan Hugh Jackman yang pada karir perfilman mereka juga memerankan karakter superhero. Namun keputusan Nolan yang banyak menghadirkan kejutan tersebut memunculkan banyak pertanyaan yang tak terjawab, apalagi Nolan juga membelokkan genre film ini sendiri dari psychological thriller biasa ke ranah science fiction yang kurang bisa ditangkap oleh logika akibat pendekatan realistis Nolan sebelumnya. Namun untungnya rangkaian cerita rivalitas tadi, intrik demi intrik dibelakang layar sulap yang dihadirkan, serta tentu twist akhir yang membuat saya menganga, mampu menutupi kekurangan film yang dianggap sebagai film terlemah Nolan ini.

8/10

The Dark Knight (2008)



9,5/10

Inception (2010)



Sukses luar biasa yang diraih Nolan dan Warner Bros. Lewat The Dark Knight tidak hanya mengangkat nama Nolan ke jajaran para sutradara terbaik, tetapi juga menambah jumlah fanbase Nolan. Karya-karya selanjutnya dari Nolan pun pastinya telah ditunggu oleh mereka, dan dua tahun selanjutnya, Nolan kembali dengan karya yang kabarnya telah ia kerjakan satu dekade sebelumnya. Warner Bros mengabulkan mega proyek Nolan ini sebagai wujud hadiah kepada Nolan. Dari berbagai detil sekecil apapun yang hadir pada penceritaan membuktikan bila Nolan memang begitu teliti serta hati-hati dalam menulis Inception. Inception merupakan film yang memiliki aspek yang lengkap, mulai dari penceritaan yang kuat, sinematografi yang memanjakan mata, serta adegan aksi yang menegangkan. Oh tidak lupa juga dentuman musik memorable Hans Zimmer yang kini banyak di contoh di film-film lainnya. Cerita mengenai mimpi yang terdiri berbagai tingkat berisiko dalam meninggalkan plot hole yang begitu banyak, namun berkat ketelitian Nolan itu lah, Inception tidak mengalami hal tersebut. Salah satu karya klasik yang kembali dihadirkan oleh Nolan, dan juga Inception terkenal dengan ending di akhir nya yang memunculkan berbagai diskusi yang tak berkesudahan.

9/10

The Dark Knight Rises (2012)



Sudah menjadi rahasia umum bila film ketiga dari suatu trilogi bagaikan ditempeli suatu kutukan. Kutukan yang mana hasil akhir film ketiga selalu tidak memuaskan. Matrix Trilogy, Spiderman versi Raimi, Back to the Future, bahkan trilogi klasik macam The Godfather pun berakhir sama. Dengan kenyataan itu, sudah wajar bila para penggemar harap-harap cemas dalam menyambut The Dark Knight Rises, terlebih film sebelumnya, The Dark Knight meraih kesuksesan luar biasa yang tentunya sulit untuk disaingi. Ekspektasi penonton, terutama penggemar yang kelewat tinggi pun turut berdampak pada The Dark Knight Rises, yang membuat film ini tidak sedikit yang tidak menyukainya. Padahal The Dark Knight Rises masih memiliki semangat yang sama dengan dua film sebelumnya. Bila di The Dark Knight pesona Batman atau Bruce Wayne sedikit dibayangi akan kehadiran The Joker, di film ini kembali sosok Bruce Wayne menjadi sorotan utama, meski berbagai nama-nama baru bermunculan disini, namun tetap, The Dark Knight Rises menceritakan bagaimana usaha Bruce untuk bangkit dari semua kehilangan yang ia alami. Masih diisi dengan jajaran aktor/aktris yang tengah di puncak karir yang kesemuanya tampil apik, The Dark Knight Rises adalah penutup yang sempurna dari salah satu trilogi terbaik sepanjang sejarah.

8,5/10

Interstellar (2014)



Selesai berurusan dengan dunia superhero, Nolan pun memutuskan untuk mengangkat kisah orisinil hasil pemikirannya bersama sang adik, Jonathan Nolan. Kini ladang bermain Nolan adalah dunia luar angkasa. Tentunya menarik dinantikan bagaimana Nolan menyajikan dunia luar angkasa tersebut berdasarkan versinya, setelah dirinya berhasil dalam menyuntikkan sisi realistis pada dunia mimpi di Inception. Salah satu keunggulan utama Intersettlar tentu saja mengenai visual effect nya yang sangat memanjakan mata, dari black hole, dimensi kelima versi Nolan, serta planet yang diisi dengan lautan tanpa daratan, semuanya terlihat indah. Interstellar juga tidak hanya berisikan misi menyelamatkan bumi saja, tetapi ada unsur keluarga pula yang diangkat, yang membuktikan bila Nolan juga mahir dalam menyajikan drama yang mampu mengajak penonton untuk bermelodrama. Matthew McCounaghey yang pada tahun sebelumnya menyabet Oscar, bermain dengan sangat baik. Tidak spesial, tetapi masih karya yang mulia dari Nolan

8/10

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!