Saturday, 13 January 2018

"To end this evil, I need to go deeper into the Further"- Elis Rainier

Plot

Memiliki kemampuan supernatural semenjak kecil ternyata malah memberikan pengalaman masa kecil tidak menyenangkan untuk Elis (Lin Shaye/Ava Kolker). Akibat kemampuannya tersebut, Elis harus menerima hukuman demi hukuman dari ayahnya yang abusif, Gerald Rainier, yang juga merupakan salah satu mantan tentara Nazi. Puncaknya adalah ketika salah satu roh "menerima" undangan Elis membunuh sang ibu, Audrey Rainier, yang tentunya menambah kebencian sang ayah terhadap Elis. Pengalaman pahit tersebut ternyata harus kembali dihadapi oleh Ellis karena orang yang kini menempati tempat tinggal masa kecilnya tersebut, Ted Garza (Kirk Avacedo), memohon bantuan Elis untuk mengusir roh jahat yang kerap mengganggunya.




Review

Mungkin sedikit yang menyangka bila proyek "kecil-kecilan" James Wan dan Leigh Whanell (dua orang yang paling bertanggung jawab dalam menciptakan film horor klasik, SAW, 18 tahun lalu) yaitu Insidious di tahun 2011, mampu menjadi film yang meraup untung besar sehingga Insidious bisa menelurkan film hingga ke instalmen keempat. Bahkan menurut saya, Wan dan Whanell sendiri tidak menduganya sedikitpun. Hanya dengan budget tidak sampai $ 2 Juta, Insidious sanggup meraih keuntungan berkali-kali lipat hingga sampai hampir menyentuh angka $ 100 Juta.  Tidak hanya meraih kesuksesan masif, Insidious pun juga mendapatkan beberapa penggemarnya tersendiri. Terbukti, saat sahabat saya yang niat awalnya ingin menonton Jumanji: Welcome to the Jungle bersama adik nya, harus mengubur keinginan tersebut karena sang adik ternyata tanpa berpikir panjang langsung menjatuhkan pilihan untuk menonton Insidious: The Last Key setelah mengetahui film tersebut telah hadir di bioskop.

Raihan kesuksesan masif yang didapat Insidious 8 tahun lalu bisa saya mengerti. Dengan atmosfir horor yang kental, diikuti pula cerita sederhana yaitu memperlihatkan usaha satu keluarga untuk menyelamatkan roh anak yang tersesat di dunia lain yang dibalut pula akan elemen supernaturalnya, Insidious memang cukup mudah untuk bisa membuat penonton jatuh cinta. Belum lagi performa mengikat dari Rose Byrne dan Patrick Wilson serta masih efektifnya James Wan dalam menakuti penontonnya (jumpscare di tengah perbincangan Josh dan Lorraine masih lah yang terbaik dalam franchise ini). Tentu bukan pekerjaan mudah dalam menghadirkan sekuel demi sekuel yang kualitasnya bisa duduk sejajar dengan film original. Sekuel kedua yang hadir 3 tahun setelah Insidious yang pertama memang tidak terlalu jauh mengalami pemunduran karena James Wan masih duduk di kursi sutradara. Namun, setelah Wan meninggalkan proyek Insidious, franchise ini pun mulai kehilangan arah dan seolah kehabisan bensin, walaupun sang penulis naskah, Leigh Whanell masih bertahan di franchise ini. Insidious: Chapter 3 mulai terbaca alur nya dan meninggalkan ketidakpuasan mendalam bagi yang telah mengikuti franchise ini dari film pertama. Dan sayangnya, hal ini ikut terulang kembali di sekuel keempat.

Insidious: The Last Key sebenarnya diawali dengan start yang meyakinkan. Cerita masa lalu Elis yang tragis cukup bisa mengikat penonton dan rasanya mudah sekali untuk bisa memberikan simpati terhadap Elis, yang kini menjadi fokus utama penceritaan. Siapa yang tidak trenyuh kala melihat Elis yang masih kecil harus menerima pukulan keras dari sang ayah dengan tongkatnya. Diiringi juga dengan teriakan serta tangisan parau dari Ava Kolker yang memerankan Elis kecil, Insidious: The Last Key berhasil merenggut atensi saya yang sebelumnya sedikit kecewa karena kembali gagal dalam usaha untuk menyaksikan Jumanji. Narasi nya yang masih ditulis Whanell pun berpotensi menjadi kisah yang emosional karena mengikuti perjuangan Elis yang kini tidak hanya berjuang untuk mengusir roh jahat, namun juga harus memaksa dirinya berperang dengan kisah masa lalunya.

Seperti pendahulu-pendahulunya, Insidious: The Last Key pun memiliki berbagai twist yang tidak terduga. Yang bagi saya terbaik adalah ketika Elis akhirnya mendapatkan jawaban di ruangan rahasia yang tidak berhasil ia buka saat masih kecil dahulu. Sebuah adegan yang memutar balik persepsi penonton dengan cara yang cukup cerdas, bersamaan dengan rasa cemas dari penonton akibat tensi yang telah menaik. Namun twist brilian itu menyimpan risiko dan disinilah untuk saya, Insidious: The Last Key menampakkan kelemahannya karena Whanell memutuskan untuk menghadirkan satu kembali sub plot yang tidak diiringi dengan pondasi sebelumnya.

Sub plot ini sangat terasa hadir dengan dipaksakan dan terkesan hanya ingin untuk memperpanjang durasi filmnya. Baik dari selipan dialog ataupun kejadian, tidak ada yang menunjukkan jika twist ini memiliki benang merah dengan dasar cerita. Bila hanya ingin menunjukkan sisi kebencian atau kejahatan dari manusia rasanya itu juga tidak perlu, karena dengan melihat bagaimana ayah dari Elis yang selalu menghukum Elis saja itu pun telah lebih dari cukup. Ah, mengenai kebencian Gerald terhadap kemampuan Elis pun disini tidak disebutkan apa alasan yang mendasari mengapa Gerald begitu anti dengan kemampuan supernatural Elis. Dibandingkan untuk memperpanjang permasalahan dengan sebuah plot baru yang tidak memiliki benang merah, mungkin akan lebih baik jika cerita ini saja yang dihadirkan. Kekecewaan kembali diperparah dengan bagaimana kisah ini ditutup. Saya yang telah mencoba memberikan kesempatan dan mengharapkan sebuah jawaban yang memiliki benang merah dengan Elis di akhir, malah harus mendapatkan kekecewaan akibat karena sekali lagi, semuanya tidak ada kaitannya sama sekali dengan Elis. Otomatis, segala ketegangan yang hadir di akhir cerita tampak kosong tanpa arti di mata saya.

Jumpscare tentu menjadi salah satu elemen yang begitu dinantikan untuk para penonton yang berniat untuk ditakuti. Dan dari sini terlihat jelas bagaimana pengaruh James Wan begitu kuat dalam franchise ini karena sang sutradara, Adam Robitel, bisa dibilang meniru Wan untuk menghadirkan jumpscare nya. Jumpscare terbaik pada adegan interogasi di dalam film ini pun bagaikan hanya hasil copas dari Wan. Robitel juga entah kenapa merasa perlu untuk menyelipkan berbagai lelucon di setiap menitnya. Bukanlah keputusan yang baik rasanya menghadirkan suatu kelucuan saat di tengah momen menegangkan karena itu jelas merusak tensi mencekamnya. Untung saja Robitel cukup memiliki kapabilitas dalam hal menghadirkan atmosfir horor yang tidak kalah kentalnya seperti apa yang dilakukan oleh Wan sebelumnya.

Walau cukup dicederai dengan narasi yang hadir di pertengahan cerita, namun untungnya Robitel memiliki cast yang tampil dengan cemerlang. Lin Shaye jelas harus mendapatkan pujian pertama karena telah berhasil melakukan tugasnya dengan baik sebagai protagonist utama dalam Insidious: The Last Key. Perfilman horor biasanya menggunakan wanita muda nan cantik sebagai motor utama, namun tidak dalam film ini karena protagonist utamanya adalah nenek-nenek berusia lebih dari setengah abad. Tidak ada hal lain yang bisa ditawarkan oleh Shaye kecuali performa aktingnya dan Shaye bermain dengan memuaskan. Emosi yang ia tampilkan meyakinkan, ditambah juga kehadirannya sangat mudah disukai berkat halusnya pengucapan yang ia keluarkan tanpa harus melucuti ketegaran seorang perempuan berusia senja. Ava Kolker juga layak mendapatkan sorotan lewat aktingnya sebagai Elis kecil mampu mengingatkan saya akan sensasi menonton Arie Hanggara ketika kecil. Cast lainnya juga bermain tidak mengecewakan seperti Josh Stewart yang berhasil menghadirkan aura jahat di setiap penampilannya dan Angus Sampson menunaikan tugasnya dengan baik sebagai comic relief.

6,75/10

Thursday, 11 January 2018

Plot

Kaiji merupakan seorang pengangguran. Tentu ini bukanlah hal yang ia harapkan ketika dirinya memutuskan untuk pindah ke Tokyo setelah lulus dari sekolah. Ia sempat bekerja, namun tidak ada yang bertahan lama. Kondisi yang dipenuhi akan ketidak pastian dan tidak memiliki uang ini pastinya membuat Kaiji merasakan depresi. Hiburannya adalah merusak mobil-mobil mahal dan bermain judi bersama teman-temannya. Namun, suatu hari, Kaiji didatangi tamu yang tak terduga bernama Endo. Endo mengungkapkan bila mantan teman satu kerjanya, Furuhata, memiliki hutang terhadap perusahaan misterius yang mempekerjakan Endo. Hutang tersebut memiliki bunga yang sangat besar sehingga totalnya adalah hampir menyentuh 4 Juta Yen. Masalahnya, Furuhata telah mencantumkan nama Kaiji sebagai jaminan nya jika suatu hari ia menghilang. Tentu saja jumlah ini sangat besar untuk seorang Kaiji yang saat itu tidak memiliki pemasukan dari apapun. Maka dari itu, Endo pun memberikan tawaran kepada Kaiji untuk mengikuti acara judi yang dilaksanakan di atas kapal bernama Espoir. Dari sinilah petualangan Kaiji di dunia judi akan dimulai.





Review

Saya memiliki fetish tersendiri terhadap cerita yang bertemakan survivor atau bertahan hidup. Mungkin faktor utamanya adalah karena kehidupan saya sendiri pun tidak terlalu begitu lancar, banyak kepelikan dibanding kebahagiaan, tertimpa banyak masalah dibandingkan jalan keluar, intinya hidup saya jauh dari kata bahagia. Namun di tengah semua hal itu, saya mencoba bertahan, bersabar dan terus menerus berusaha untuk mengubah nasib saya. Untuk itulah, cerita bertemakan survivor mudah untuk mendapatkan tempat di hati saya. Karena itu juga, Guts, karakter utama dari Berserk, adalah karakter paling terfavorit, terkeren di dunia animanga dan bahkan Guts saya nobatkan menjadi role model dalam hidup saya untuk terus maju dan tidak pantang menyerah. Saya kira, tidak ada lagi karakter yang bisa membuat saya berteriak untuk mendukung suatu karakter dalam cerita fiksi selain Guts atau karakter protagonist favorit saya lainnya, sebelum saya menyaksikan karakter utama dari hasil karya Nobuyuki Fukumoto ini, yaitu Kaiji.

Beda dengan Guts ataupun Naruto, kita tidak diperlihatkan kisah masa lalu Kaiji (mungkin ada di dalam manga, tetapi saya belum menyentuhnya). Keluarganya tidak diperlihatkan, hanya diceritakan sedikit saja mengenai ibu serta saudara Kaiji. Dalam anime, Kaiji langsung diperkenalkan kepada penonton ketika ia telah menjadi pengangguran, tanpa aktivitas juga uang dan tinggal di apartemen yang kecil. Dan yang juga membuat Kaiji lebih mudah menjalin ikatan kepada penonton adalah ia tidak hidup di dalam dunia fantasi, melainkan di dunia yang sebenarnya, dunia yang juga sama seperti kita. Tentu ini sangat membantu dalam hal membuat karakter ini menjadi realistis dan menarik. Penonton bisa memahami kehidupan yang dialami Kaiji, karena ya siapapun pasti pernah mengalami masa nganggur yang lama dan tidak tahu arah tujuan hidupnya kemana.

Jarang saya temukan ada suatu pertunjukan ataupun hiburan fiksi yang benar-benar bergantung pada satu karakter, dan sajian fiksi tersebut adalah animanga ini. Karakter Kaiji begitu kuat, compelling, dan yang paling utama, terasa sekali manusiawi. Ia bukanlah karakter the chosen one, tidak memiliki bakat spesial, dan tidak berada didalam keluarga unggulan. Sederhananya, ia hanyalah individu yang mencoba memperbaiki hidup, mencoba bertahan di dalam kondisi yang tak tentu arah dan berusaha sebaik mungkin untuk mengubah kehidupannya. Kaiji terasa spesial bagi saya. Saya pernah mengalami apa yang dialami Kaiji. Bahkan kondisi saat tidak memiliki uang sesenpun di dalam kantong hingga memaksa seseorang menangis tanpa sadar pun juga saya alami. Hal ini lah yang membuat saya ingin sekali melihat Kaiji berhasil dalam usaha apapun yang tengah ia lakukan. Dan juga ini lah yang menurut saya salah satu aspek terkuat di dalam cerita Kaiji.

Mengenai cerita dimana selain bertahan hidup, cerita Kaiji juga bermain pada ranah perjudian. Ya, judi memang adalah salah satu cara ilegal yang sering menjadi jalan keluar yang pintas untuk seseorang dalam usahanya keluar dari kesulitan. Terlihat juga sang kreator, Fukumoto, memiliki ketertarikan lebih akan dunia judi karena selain karyanya yang satu ini, manga-manga hasil ciptaannya juga bermain-main di dunia judi. Selain itu, Fukumoto pun menyajikan permainan judi nya disini dengan begitu teliti dan berusaha untuk tidak membingungkan penikmat animanganya yang satu ini. Permainan judi yang ada di Kaiji bagi saya tidak ada yang sulit, bahkan malah cenderung ke arah yang sangat sederhana. Seperti permainan Jan Ken Po, bahkan hanya menarik undian saja pun menjadi permainan judi terakhir di anime ini. Tetapi, segala permainan judi yang sederhana itu menjadi terasa menegangkan akibat dari segala konsekuensi yang membelakangi permainan tersebut. Konsekuensi apabila mengalami kekalahan tidak lah main-main, dari hutan yang akan semakin bertambah berkali-kali lipat, di tangkap untuk dijadikan budak beberapa tahun, hingga bagian tubuh dan nyawa yang harus dikorbankan. Segala konsekuensi inilah yang membuat permainan yang sederhana itu menjadi terasa mendebarkan dan tidak mudah untuk diikuti.

Yang menambah kadar ketegangan adalah kemampuan dari sang tokoh utama, Kaiji, tidak didukung akan kemampuan judi yang bisa dikatakan sangat hebat. Kaiji bisa kalah, bahkan sesekali ia melakukan keputusan yang bisa dibilang ceroboh. Tidak sering bukan kita mendapatkan karakter yang begitu realistis seperti ini? Kaiji bukanlah seperti Yugi, yang bisa terjamin kemenangannya walaupun terdesak akan situasi apapun. Hal ini pula lah yang menjadikan pertunjukan ini berhasil memaksa saya untuk tidak cukup hanya menonton satu episode saja. Kita sangat ingin sekali Kaiji merasakan kemenangan dan akhirnya mampu terlepas dari lilitan segala kesusahan yang tengah dirasakannya. Seolah-olah kita berada di samping Kaiji dan langsung mendukungnya. Yah, paling tidak sampai arc terakhir yang menurut saya adalah kelemahan dalam anime ini.

2 arc terakhir memang cukup dicederai dengan pacing yang cukup lambat dan menurut saya, cukup mengganggu. Kaiji: Ultimate Survivor menyajikan setidaknya ada 4 arc. Dalam 2 arc pertama bisa saya bilang semuanya berjalan memuaskan dan bahkan fantastis. Terutama arc pertama yang ditutup dengan pertunjukan cara bertahan hidup yang memukau dari Kaiji. Tapi hal itu tidak tampak di 2 arc terakhir. Apalagi 2 episode terakhir. SPOILER: Pertempuran antara Kaiji dan Tonegawa berjalan sangat menghibur walau memang sedikit rusak akibat pacing yang lambat, namun hal itu tidak lah mengganggu karena Tonegawa adalah karakter yang muncul dari arc pertama dan lumayan menarik berkat pandangannya terhadap hidup. Monolognya berkenaan pada orang yang mengorbankan waktu yang banyak demi kesuksesan pada arc kedua sangat fantastis. Tentunya adu pintar antara Kaiji dan Tonegawa dalam permainan Raja, Prajurit dan Budak di arc ketiga sangat lah menarik untuk diikuti. Namun, hal itu tidak berlaku ketika Kaiji menantang orang yang mempekerjakan Tonegawa, otak dibalik semua permainan berbahaya yang diikuti Kaiji. Karakter orang yang dipanggil "Ketua" ini bagi saya cukup mengesalkan. Dan menurut saya pertempuran antara Kaiji dan dirinya tidak terlalu menarik atensi, walau bila ditilik dari penceritaan, hal itu cukup masuk akal. Ditambah lagi, lumayan banyak pembicaraan yang berulang-ulang yang disajikan begitu lambat, yang sering membuat saya ingin menghentikan petualangan saya bersama Kaiji. SPOILER END

Beruntung sekali, anime Kaiji: Ultimate Survivor diproduksi oleh rumah animasi Madhouse. Madhouse memang telah terkenal akan sajian animasi nya yang tidak hanya memukau, namun juga berhasil membangun hype dari setiap adegan, bahkan adegan sesederhana seperti karakter sedang menulis sambil makan keripik kentang (anime Death Note) , ataupun melemparkan kartu di atas meja. Yang paling memukau adalah berhasilnya Madhouse dalam memperlihatkan rasa frustrasi Kaiji dan karakter lainnya, yang tentu saja membuat penonton ikut merasakan apa yang dirasakan karakter yang terlibat. Pekerjaan brilian yang dilakukan Madhouse ini mampu menutupi segala design character yang mungkin tidak lah terlalu menarik untuk para penikmat animanga yang lain.

Walau pada akhirnya Season pertama Kaiji: Ultimate Survivor ini ditutup dengan cukup tidak memuaskan, namun tidak dipungkiri, hal itu tertutupi dengan 2 arc nya di awal yang brilian. Kaiji: Ultimate Survivor, sesuai judulnya, memperlihatkan upaya atau perjuangan seorang pemuda yang mencoba mengais segala kemungkinan untuk bisa hidup lebih baik di tengah kesulitan-kesulitan yang tengah dihadapinya. Seperti keinginan saya terhadap karakter Guts di Berserk, saya sangat ingin melihat senyuman kebahagiaan tersungging di wajah Kaiji. Saya ingin melihat hidup Kaiji akhirnya bahagia. Alasan ini telah lebih dari cukup untuk saya ingin menyaksikan petualangan Kaiji di season 2 nya.

8,25/10

Tuesday, 2 January 2018


"If this is a surprise party, somebody missed the cue"- Bradley Thomas

Plot

Satu hari yang sial untuk Bradley Thomas (Vince Vaughn), dimana ia harus kehilangan pekerjaan, sekaligus menghetaui istrinya, Lauren (Jennifer Carpenter), bermain api di belakangnya. Namun, dua kejadian yang tak diinginkan itu tidak membuat Bradley (yang tidak ingin dipanggil "Brad") buta dan masih mampu mencari jalan keluar dari kondisi yang tak mengenakkan itu. Ia memaafkan Lauren, dan berencana untuk mendapatkan anak bersamanya. Ia juga memutuskan untuk bekerja dengan Gil (Marc Blucas), seorang pengedar narkoba yang dikenalnya dengan baik. Selama 18 tahun, keadaan tampak berjalan lancar, sebelum akhirnya Bradley bertemu dengan Eleazar (Dion Mucciacito) yang memiliki bisnis seperti Gil dan ingin bekerja sama dengan Gil.




Review

Selain Wedding Crasher, coba sebut satu film dimana seorang Vince Vaughn melakukan performa meyakinkan dan filmnya disukai penonton banyak atau pun juga kritikus sebelum Hacksaw Ridge. I'll wait. 
Tidak ada? Yup, that's exactly my point. Setelah Wedding Crasher, nama aktor satu ini memang bisa dikatakan cukup tenggelam dan seolah tidak relevan lagi untuk dibicarakan. Apalagi di dalam resumenya, ia juga terlibat remake gagal total dari film yang dicintai oleh sebagian besar penikmat film, yaitu Psycho, 19 tahun lalu, satu alasan yang membuat dirinya sebagai aktor yang cukup tidak disukai dan diragukan kapabilitas aktingnya. Pemulihan karir sepertinya tengah dilakukan oleh Vince Vaughn, ketika pada tahun 2016, ia membintangi Hacksaw Ridge yang disukai oleh kritikus. Tidak hanya itu, penampilan Vince Vaughn sebagai Sgt. Howell mendapatkan perhatian serta pujian oleh penikmat film. Namun, bisakah hal itu kembali ia ulang ketika dirinya diposisikan sebagai fokus utama dalam satu film? Brawl in Cell Block 99 adalah lapangan bermain untuk Vaughn selanjutnya, bedanya kali ini dia adalah karakter utama. 

Apa yang dilakukan Vaughn disini bisa saya katakan seperti yang dilakukan oleh Steve Carrel. Carrel melucuti identitas nya sebagai aktor komedi dengan memerankan karakter yang benar-benar berhasil membuat pangling para penonton. Begitu juga yang dilakukan Vaughn. Karakter Bradley yang ia mainkan disini jelas bukanlah untuk bahan tertawaan orang banyak, bahkan kehadirannya saja rasanya cukup untuk membuat orang bergidik ngeri bila berdiri di dekatnya. Badannya yang tinggi cukup untuk mengintimidasi orang, belum lagi kita membicarakan soal ketenangan serta matanya yang tajam. Vaughn sukses meyakinkan penonton jika Bradley bukanlah orang yang tepat untuk kita ajak berkelahi. Untuk lebih meyakinkan sebagai Bradley yang diceritakan sebagai mantan petinju, Vaughn pun melakukan latihan tinju 3 bulan dan menaikkan berat badannya. Bahkan, para produser film ini,menyatakan bila adegan ketika Bradley menghancurkan mobil istrinya benar-benar dilakukan oleh Vaughn, menggambarkan betapa seriusnya Vaughn dalam memerankan karakternya.

Performa Vaughn sebagai Bradley tampaknya akan sangat berbekas di benak penonton, termasuk saya. Saat pertama kali muncul saja, Vaughn telah memunculkan aura yang sangat berbeda. Tanpa harus melakukan kekerasan atau aksi kriminal, cukup dengan turun dari mobilnya dan melihat raut mukanya saja telah meyakinkan saya jika Bradley bukan orang yang biasa dan memiliki bom waktu dalam dirinya. Intimidatif, menyeramkan, pembunuh, bahkan mungkin psikopat, sebutan-sebutan berbentuk spekulasi tersebut muncul di benak saya ketika melihat Bradley pertama kali. Pertanyaan mengenai performa Vaughn pun juga langsung terjawab seketika. Ya, ini adalah performa terbaik Vaughn sebagai aktor dalam karirnya, berkat penambahan gesture kecil nya yang mampu membuat penonton mengerti apa yang sedang dirasakan Bradley. Bahkan, pengalaman panjangnya sebagai aktor yang bermain dalam film bergenre komedi pun turut membantu Vaughn dalam melayangkan one liner yang cukup menggelitik (pernyataannya akan dirinya malas menonton film dengan subtitle berhasil membuat saya tertawa). Namun bukan berkat Vaughn saja yang membuat karakter Bradley bagi saya akan menjadi salah satu karakter terbaik di tahun 2017, tetapi juga suntikan karakterisasi dari sutradara juga penulis naskah, S. Craig Zehler, tidak bisa kita kesampingkan.

Zehler begitu memperhatikan karakternya, terlihat dari bagaimana ia menghidupkan karakter Bradley. Zehler memberikan sentuhan akan seorang family man terhadap Bradley. Ia mencintai istrinya, bahkan memaafkan Lauren yang ketahuan telah selingkuh dengan pria lain dan tidak serta merta menyalahkan Lauren seorang. Kepedulian terhadap Lauren dan sang calon anak diperlihatkannya dengan memperhatikan keamanan sang istri. Hal ini tentu saja membuat karakter Bradley cukup mudah untuk disukai, dan penonton mau tidak mau merasakan simpati akan takdir Bradley yang mengharuskan dirinya mendekam di penjara. Zehler pun menjadikan karakter Bradley tidak hanya jago dan kuat luar biasa dalam bertarung, namun dirinya juga cukup cerdas nan taktikal dalam melaksanakan pekerjaannya. Terlihat di akhir film yang memperlihatkan strateginya, yang secara tidak langsung menjawab bagaimana Bradley bisa melakukan pekerjaannya sebagai drug dealer dengan lancar, yah paling tidak selama 18 tahun. 

Setelah menyaksikan film ini, saya yakin akan terdapat beberapa penonton yang misleading akibat judul yang dipasang, apalagi ada kata Brawl di judul yang seolah menggambarkan bila film ini akan menyajikan adegan perkelahian antar tahanan dalam skala masif di dalam penjara. Maka saya akan bisa memahami jika ada penonton yang tidak menyukai dari hasil akhir Brawl in Cell Block 99 karena tidak sesuai dengan ekspektasi di awal. Jangankan didominasi sajian aksi, kisah Bradley harus hidup di dalam penjara saja baru bergerak ketika film menyentuh durasi kurang lebih 1 jam. Saya mengakui jika saya juga termasuk di antara penonton yang "tertipu", namun saya malah menyukai apa yang disajikan Zehler. Dan ketika mengetahui jika Zehler juga adalah orang yang paling bertanggung jawab di balik hebatnya film Bone Tomahawk, maka saya pun mengerti dengan apa yang menjadi keputusan Zehler dalam menggerakkan Brawl in Cell Block 99. Yap, tampaknya ini adalah gaya penyutradaraan Zehler, yang lebih memilih menggerakkan plot nya perlahan, cenderung lamban untuk memberikan kesempatan penonton lebih mengenal karakternya. Bedanya, Brawl in Cell Block 99 lebih mudah dikonsumsi walau dengan pergerakan plotnya yang pelan karena segala adegan yang terjadi di dalam Brawl in Cell Block 99 memiliki poin sendiri sehingga tidak sulit untuk menjaga atensi. Satu poin ini pula yang membuat saya lebih menyukai film ini dibanding Bone Tomahawk yang sedikit berat untuk diikuti akibat pelannya pergerakan plot.

Dan jika kalian juga telah menonton Bone Tomahawk, maka kalian pasti bisa mengantisipasi akan adanya beberapa adegan brutal atau gore disini. The Bone Tomahawk pun mungkin akan lebih dikenal berkat adegan ini yang sukses memaksa saya teriak layaknya gadis 14 tahun. Zehler tidak setengah-setengah dalam menyajikan adegan brutalnya, dan tidak hanya itu, Zehler menyajikannya dengan serealistis mungkin dan hadir pada timing yang tidak diduga-duga atau dengan kata lain on time, yang berhasil membuat adegan-adegan gore nya tidak mudah terlupakan, dan juga sukar untuk dilihat, tentu saja.

Lewat Brawl in Cell Block 99, Zehler ingin memperlihatkan pengorbanan seorang pria yang rela melakukan apapun, termasuk mengorbankan dirinya demi keselamatan orang yang ia sayangi, bahkan bila harus mengorbankan dirinya. Setiap pengenalan karakter yang Zehler lakukan di 1 jam sebelumnya berdampak pada momen ending yang bisa dicap sebagai salah satu momen paling menyentuh di 2017. Dan juga Brawl in Cell Block 99 adalah pembuktian dari seorang Vince Vaughn bila ia adalah aktor yang memiliki kapabilitas akting yang tidak bisa kita remehkan lagi.

8,5/10



Wednesday, 27 December 2017


"I have my belief, and in all its simplicity that is the most powerful thing"- Bobby Sands

Plot

Memperlihatkan para pejuang aktivis kemerdekaan Irlandia yang ditahan di dalam Maze Prison akibat aksi pemberontakan yang mereka lakukan terhadap pemerintahan Inggris. Walau tengah mendekam di bui, ternyata tidak menyurutkan dan menghentikan perlawanan mereka. Dimulai pada tahun 1978, mereka menolak untuk dibersihkan (no wash protest) dan berpakaian (blanket protest). Tidak hanya itu, para pejuang kemerdekaan ini pun mengotori ruangan penjara mereka dengan kotoran, air kencing dan bekas-bekas makanan. Seolah tuntutan mereka tak didengar, dua aksi protes itu mereka hentikan dan beralih ke aksi mogok makan (hunger strike) yang diketuai oleh Bobby Sands (Michael Fassbender).




Review

Hunger yang dirilis pada tahun 2008 ini mungkin lebih dikenal akan penampilan total dan mengagumkan dari seorang aktor yang telah mencapai popularitasnya sekarang, yaitu Michael Fassbender. Totalitas ditunjukkan Fassbender dengan rela melakukan penurunan berat badan secara drastis supaya terlihat meyakinkan dalam memperlihatkan penderitaan Bobby Sands dalam melakukan aksi mogok makannya. Saya kurang tahu berapa berat badan yang harus diturunkan oleh Fassbender, namun hal itu telah cukup untuk dirinya terlihat bagaikan tengkorak hidup dalam film ini (seperti yang dilakukan Christian Bale dalam The Machinist 4 tahun sebelumnya). Dengan melakukan pengorbanan itu juga lah, menurut saya, sedikit banyak membantu Fassbender untuk mengeluarkan ekspresi deritanya dalam melakukan hunger strike. Bahkan kesakitan terpancar dari mukanya saat melakukan hal yang sangat sepele sekalipun, seperti menolehkan kepalanya. Dan kualitas aktingnya juga terlihat kala ia beradu akting dengan Liam Cunningham yang memerankan Priest Dominic dalam one continuous shot selama hampir 18 menit. Bukan hal yang mudah tentu saja untuk harus berakting dalam one take yang lama serta tetap mempertahankan peran yang sedang dimainkan. Hal itu pun terlihat dari persiapan antara Fassbender dan Cunningham yang melakukan latihan selama beberapa hari dan melakukan latihan adegan tersebut sebanyak 12-15 kali per hari (Terima kasih, IMDB).



Namun, adegan panjang tersebut tidak hanya mempertontonkan penampilan cemerlang dari Fassbender dan Cunningham (yang mengikuti Game of Thrones pasti segera tahu aktor ini memerankan siapa dalam serial tersebut), tetapi juga membuktikan jika Steve McQueen bukanlah sutradara yang hanya pintar berbicara lewat visual saja, namun cukup piawai dalam merangkai dialog panjang yang tidak membosankan. Inti pada adegan ini adalah pernyataan "perang" dari Bobby yang ia sampaikan pertama kali kepada Priest Dominic, namun alih-alih untuk langsung kepada poin utama, dua tokoh ini mengawalinya dengan berbasa-basi seperti Priest Dominic yang membicarakan adiknya yang memiliki profesi lebih baik dibandingkan dirinya, kebiasaan melinting Bobby dalam penjara, sedikit masa lalu keduanya, sebelum akhirnya pembicaraan menyentuh akan tujuan utama Bobby memanggil Priest Dominic. Transisi demi transisi dilalui tanpa terkesan dipaksa, dan juga berkat dialog itu pun memberikan pengembangan karakter pada Bobby, bahkan Priest Dominic, yang kehadirannya bagaikan mewakili penonton yang mungkin menganggap aksi yang dilakukan Bobby itu bodoh dan terlalu berlebihan. Ya bayangkan saja, melakukan aksi mogok makan dalam kurun waktu tak ditentukan? Jangankan manusia, setan aja gak bisa bertahan lama dalam kondisi lapar. Namun kita tidak mengalami apa yang dialami Bobby, sehingga benar apa kata Bobby, kita tidak bisa mengerti seutuhnya akan keputusan yang telah diambil Bobby. Dialog-dialog yang dikeluarkan Bobby pada adegan tersebut juga menunjukkan karakter pada diri Bobby yang rela berkorban demi kemerdekaan Irlandia dan begitu menjunjung tinggi akan prinsip dan keyakinan yang ia pegang.

Steve McQueen juga sedikit mengeksplor akan dampak konflik yang dinamai The Troubles ini. Selain para tahanan yang mengalami kekerasan di luar manusiawi dari penjaga penjara, konflik juga turut memberikan teror pada pihak polisi sendiri. Terlihat seperti salah satu penjaga penjara yang harus menghadapi konflik batin akibat pekerjaannya yang harus mengamankan tahanan dengan kekerasan, serta polisi muda yang belum kuat mental untuk melakukan kekerasan fisik pada tahanan yang melawan. Salah satu adegan favorit saya dalam film ini adalah ketika si polisi muda ini menangis dalam diam, dan di sisi lain terdapat Bobby Sands yang dihujani akan pukulan-pukulan dari pentungan keras belasan polisi. Sebuah adegan yang sangat ironi nan disturbing.

Hunger memang karya debut dari Steve McQueen, namun Hunger saya tonton setelah saya lebih dulu menyaksikan karya McQueen setelah Hunger yaitu Shame dan 12 Years a Slave (film yang menghantarkan McQueen mendapatkan piala Oscar pada kategori Best Picture). Keputusan yang keliru mungkin, namun berkat itu juga lah saya bisa beradaptasi dengan cepat akan gaya penyutradaraan McQueen yang tidak biasa, yang juga diaplikasikan McQueen dalam dua film tersebut, seperti long take yang panjang dan kekerasan yang sulit dipandang (dear God, adegan cambuk di 12 Years a Slave itu merupakan salah satu alasan kuat mengapa saya tidak berani lagi menyentuh film ini). Harus diakui, berkat itu Shame dan 12 Years a Slave juga bukan film yang mudah untuk diikuti, namun dua film tersebut memiliki tema yang kuat sehingga mudah untuk saya terikat dan mengikuti hingga akhir (terutama tema perbudakan dalam 12 Years a Slave). Di Hunger, Steve McQueen justru lebih "seenaknya" dalam menunjukkan gaya penyutradaraannya. Banyak long take, bahkan ada di antaranya kurang jelas apa maksudnya dan adegan-adegan bisu yang hanya memperlihatkan karakter nya melakukan peran. McQueen seolah ingin menyampaikan maksud lewat tampilan visual, dan puncaknya terlihat pada 20 menit terakhir. Minim sekali dialog dan hanya mengeksplor penderitaan dari Bobby Sands. 

Luka di sekujur tubuh, ekspresi kosong, dan daya tahan serta fisik tubuh lemah yang bahkan berdiri pun tidak sanggup tentu bukanlah sajian yang mudah untuk dilihat. Dari sini, tanpa adanya dramatisasi tidak perlu, penonton (setidaknya saya) mengagumi bahkan mengidolai karakter Bobby Sands yang sangat berpegang teguh dengan prinsipnya, tidak perduli akan fisik yang semakin lemah dan semakin dekat dengan kematian, tetapi itu tetap tidak menghentikannya untuk berjuang. Tidak heran jika aksi ini melahirkan pengaruh yang besar dalam konflik Irlandia Utara dimana aksi Bobby ini mendapatkan perhatian dari dunia dan memaksa pemerintah Inggris untuk menyetujui tuntutan dari Bobby. Hasil dari perjuangan mati-matian Bobby ini secara tidak langsung juga berdampak pada melejitnya Fassbender sebagai aktor. Tercatat, setelah film Hunger, Fassbender mendapatkan peran-peran besar seperti Magneto dalam franchise X-Man, bekerja sama dengan Quentin Tarantino dalam Inglourious Basterds hingga dirinya mendapatkan nominasi Oscar pertamanya dalam film 12 Years a Slave (yang banyak dinilai pihak harusnya ia dapatkan dalam film Shame, 3 tahun sebelumnya). 

Hunger jelas bukanlah film yang bisa dimakan oleh semua penikmat film. Grafis kekerasan yang keras, full nudity yang turut memperlihatkan totalitas nya para pemeran disini, terutama Fassbender, serta gaya sutradara McQueen dalam menghadirkan long take di setiap adegan sederhana, berisiko akan mendatangkan kebosanan pada penikmat film yang belum terbiasa akan pendekatan yang diambil oleh sutradara. Namun, jika kalian sedikit bersabar, maka Hunger akan menjadi sajian yang cukup berpengaruh. Dengan durasi 90 menit, Hunger memperlihatkan kekuatan niat dan pengorbanan besar dari seorang (atau beberapa) pria yang mempertaruhkan hidupnya demi kepentingan negara, yang membuatnya menjadi sajian yang tidak mudah terlupakan. Dan juga menjawab mengapa Fassbender sekarang adalah salah satu aktor terbaik pada generasi saat ini.

8,5/10

Thursday, 21 December 2017


"Seven minds are better than one"- Sunday

Plot

Akibat dari membludaknya populasi manusia yang disertai tidak berimbangnya dengan kekayaan alam, memaksa pemerintah di seluruh dunia menemukan solusi terbaik demi mengatasi permasalahan tersebut. Ahli biologi, Nicolette Cayman, mencetuskan The Child Allocation Act yang mengharuskan setiap keluarga hanya diperbolehkan memiliki satu anak saja. Bila ketahuan memiliki anak lebih dari satu, maka pihak biro pemerintah yaitu, Child Allocation Beureu (CBA) akan membawa "anak illegal" tersebut ke sebuah tempat di bawah naungan CBA yang bernama Cryosleep, dimana para anak-anak itu ditidurkan dalam kurun waktu yang lama di sebuah tabung, dan akan dibangunkan ketika dunia telah terbebas dari masalah. Kondisi ini memaksa Terrence Settman (Willem Defoe) harus memutar otak demi menyelamatkan anak dari putrinya yang melahirkan 7 putri kembar genetik yang menyebabkan dirinya juga harus meninggal dalam proses kelahiran. Tidak ingin cucu-cucunya dikirim ke Cryosleep, Terrence melatih ketujuh cucunya, yang masing-masing memiliki nama berdasarkan 7 hari dalam satu minggu, Monday, Tuesday, Wednesday, Thursday, Friday, Saturday dan Sunday (diperankan semuanya oleh Noomi Rapace), untuk hidup dalam persembunyian dan bernaung pada satu identitas bernama Karen Settman. Sukarnya, mereka masing-masing harus bergantian keluar dari persembunyian untuk menjalani aktivitas sehari-hari, sesuai dengan nama mereka satu sama lain. Bila hari Senin, maka Monday yang akan mendapatkan tugas, hari Selasa adalah tugas Tuesday dan begitu seterusnya. 




Review

Konsep ceritanya menarik. Mengenai kehidupan dystopia masa depan (tidak disebutkan periodenya) yang mengalami overpopulation yang mendesak pemerintah dunia membatasi jumlah lahir bayi tiap tahun dengan cara paksaan. Sedikit banyak memang mengingatkan kita pada film terbaik bertemakan dystopia sebelumnya, apalagi kalau bukan Children of Men, tetapi tak bisa dipungkiri, konsep ini masih bernafaskan originalitasnya. Ditambah lagi, pusat penceritaan adalah 7 saudari kembar genetik sama persis, yang telah terlihat bila Max Botkin dan Kerry Williamson selaku penulis cukup terlihat ambisius. Bukan perkara gampang untuk membagi fokus dalam 7 sudut pandang sekaligus. Potensi nya cukup besar bila akan ada satu atau dua karakter yang tenggelam akibat karakter-karakter lain mungkin saja dimodali dengan karakterisasi yang jauh lebih menarik. Beban itu ditempatkan kepada sutradara, Tommy Wirkola. 

Selain itu, penonton juga harus dituntut akan ketelitian serta daya ingatnya untuk membedakan karakter satu dengan karakter yang lain. Untungnya, Wirkola memperhatikan ini dengan mendesain karakternya cukup berbeda antar satu sama lain. Ciri khas itu tergambarkan melalui dari cara berpakaian yang juga secara tidak langsung merefleksikan kepribadian masing-masing, dan yang utama adalah model rambut mereka. Karena saya laki-laki yang cukup cuek dengan penampilan, bagian mengenai ciri akan rambut mereka yang berbeda itu luput dari perhatian saya awal-awalnya.

Saya menyukai setengah durasi film ini berjalan. Dari menit pertama, penonton disajikan footage-footage dari liputan berita mengenai informasi kepelikan yang sedang melanda bumi, kemudian perkenalan kita dengan Settman Siblings yang telah dewasa, lengkap pula sedikit flashback mereka yang masih dilindungi oleh sang kakek, hingga perjuangan mereka untuk bertahan hidup. Dalam durasi kurang lebih setengah jam, Duo Botkin-Williamson cukup jeli dalam memperhatikan detil-detil mengenai bagaimana Settman Siblings mampu menyembunyikan keberadaan mereka selama kurun waktu 30 tahun lebih. Karena harus berlindung pada satu identitas yang menjalani kehidupan sehari-hari, Settman Siblings harus memperhatikan kejadian yang dialami saudarinya masing-masing dalam satu hari tersebut. Untuk itulah, mereka dilengkapi perekam yang diselipkan di gelang identitas mereka supaya saat satu tokoh pulang, Settman Siblings akan memperhatikan rekaman tersebut sebagai modal untuk saudari lainnya yang ketiban peran sebagai Karen Settman di hari selanjutnya. Tidak sampai situ, penampilan mereka pun harus lah sama saat, dari cara berpakaian sampai model rambut dan gaya make-up nya pula.  Belum lagi berbagai alat yang mereka miliki hasil dari kreasi sang kakek untuk mempermudah mereka dalam berkomunikasi satu sama lain. Naskah Botkin-Williamson telah cukup meyakinkan saya untuk percaya bila Settman Siblings mampu bertahan dalam waktu yang sangat lama lewat hal-hal tersebut, walau masih mengundang pertanyaan seperti siapa sebenarnya seorang Terrence Settman hingga mampu menciptakan berbagai alat-alat untuk cucu-cucunya.

Kehidupan sembunyi-sembunyi ini rupanya memerlukan pengorbanan. Tampak dalam satu adegan flashback ketika ada satu karakter yang membangkang akan peraturan ketat sang kakek, yang mengakibatkan dirinya terlibat suatu kecelakaan. Mereka hidup dalam satu identitas yang diketahui pemerintah, maka jika ada satu saja mengalami cedera, yang lain pun ikut terkena imbasnya sehingga dengan alasan untuk mempertahankan keberlangsungan hidup cucu-cucunya, Terrence harus melakukan satu hal yang saya jamin, sangat berat dilakukan untuk seorang kakek terhadap cucu nya. 

Tidak terbayang betapa menderita dan susahnya bagi Settman Siblings ini bertahan hidup dalam pengasingan dalam waktu 30 tahun lebih. Tidak dijelaskan memang, tapi dari sini saya diajak untuk membayangkan berapa banyak pengorbanan serta tekanan batin yang kuat dari masing-masing karakter. Hal ini lah yang membuat saya perduli terhadap keberlangsungan hidup mereka, walau sayang memang harusnya disini juga tergambarkan kedekatan yang hangat antar satu sama lain ketika dewasa. Memang ada momen perbincangan singkat sampai mereka pun tertawa bersama-sama, hingga flashback saat masa kecil mereka yang masih ditemani sang kakek, tetapi saya rasa bisa ditambah lagi durasi akan kedekatan hangat mereka. Kejadian-kejadian flashback nya pun saya menangkap hanya memperdalam koneksi Settman Siblings dan sang kakek. Bagi saya, ini jauh lebih membantu untuk menguatkan narasi menuju ke konflik yang akan dialami Settman Siblings, dibandingkan apa yang terjadi pada saat film masuk ke third act nya.


Konflik utama mulai bermula kala 30 menit telah berjalan, dan dari sinilah terlihat fungsi besar akan pondasi narasi yang telah cukup kuat tercipta sebelumnya.  Berkat pondasi tersebut, penonton akan dihadirkan cerita yang lumayan menguras emosi. Tidak terlalu mengandalkan dramatisasi berlebih karena rasa haru muncul karena saat berbagai kejadian tersebut tampil di layar, dalam pikiran penonton diajak untuk kembali mengingat berbagai pengorbanan serta susah payah mereka hidup dalam satu apartemen bertujuh sekaligus. Bayangkan saja kedekatan antar saudari yang telah tercipta dalam 30 tahun hidup bersama. Ceritanya pun masih berpusat pada upaya mereka untuk bertahan diimbangi pula untuk menggali informasi mengenai hilangnya Monday (yap, ini konflik pertama nya yang sengaja tidak saya tulis dalam tulisan plot di atas). Pada momen ini juga hadir sajian aksi yang mendebarkan juga brutal. Wikorla menyajikan action secquence tersebut serealistis mungkin, dengan memperlihatkan jerih payahnya Settman Siblings melawan musuh mereka yang jauh lebih berpengalaman. Mungkin dalam film sajian aksi pada umumnya, Settman Siblings akan diperlihatkan menang dengan cukup mudah, tetapi hal tersebut tidak berlaku disini. Masing-masing musuh, mereka kalahkan dengan mati-matian, dan juga tidak segan pula, Wikorla mempertotonkan karakter perempuan menerima berbagai pukulan telak beberapa kali. Wikorla pun turut menghadirkan sebuah ironi di suatu momen ketika ada satu karakter yang tengah dihinggapi kenikmatan bercinta untuk pertama kalinya, namun disisi lain saudara kembarnya tengah mengalami kejar-kejaran dengan pihak CBA.

Pada momen survivor ini, saya sangat menyukai What Happened to Monday, bahkan saya berpotensi ingin menyatakan bila film ini adalah salah satu film paling mengejutkan pada tahun ini, sebelum hingga film bergerak menuju ke third act nya. Tidak cukup hanya menampilkan 7 karakter perempuan kembar identik dalam menunjukkan betapa ambisiusnya Botkin-Williamson, duo screen writer ini juga ingin menghadirkan revolusi kecil-kecilan yang dilengkapi pula akan dua twist yang telah menanti, salah satunya tentu adalah mengenai program Cryosleep itu sendiri. Saya tidak mempermasalahkan mengenai ide revolusinya, tetapi ide ambisius itu diikuti pula akan pengorbanan  karakterisasi pada satu karakter dan menggiring kita kepada konklusi yang menurut saya lumayan dipaksakan, seolah melupakan segala pengorbanan yang telah tertumpah sebelumnya. 

What Happened to Monday (sebelumnya memiliki judul Seven Sisters) ini tentu saja menjadi showcase nya Noomi Rapace. Saya belum mengikuti karir akting dari Rapace, bahkan pertama kali saya melihat penampilannya pada film The Drop, yang mana aktingnya tidaklah terlalu menonjol, serta saya juga belum menyaksikan The Girl with the Dragon Tatoo yang mengangkat namanya itu. Disini tidak main-main tantangan yang diberikan Rapace, yaitu harus memainkan 7 karakter yang tentu memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Dan Rapace menjawab tantangan yang menuntut akan luas nya range akting dari seorang aktor tersebut dengan fantastis. Dengan gemilang ia menghidupi satu demi satu karakter dengan perbedaan yang signifikan, dari wanita dewasa nan elegan, centil, tomboy, hingga gadis yang culun, semuanya ditampilkan brilian oleh artis Swedia ini. Kita tidak lagi melihat 7 karakter ini diperankan Rapace, tetapi sebagai karakter-karakter yang berbeda dan memiliki satu nyawa masing-masing. Sayang memang, penampilan fantastis ini kemungkinannya sangat kecil akan dilirik oleh pihak Academy Awards. 

What Happened to Monday memang bukanlah film yang berkesan hingga minggu depan kalian akan tetap mengingatnya, tetapi jelas film ini tetaplah sangat menghibur dan jauh dari ekspekstasi saya. Berbagai kelemahan narasi, terutama pada saat film bergerak menuju akhir, cukup bisa dimaafkan kala kita jauh lebih terikat dengan kehidupan sembunyi-sembunyi dari Settman Siblings, dan tidak lupa juga penampilan menakjubkan dari Noomi Rapace, membuat What Happened to Monday tetap pilihan yang tepat untuk mengusir rasa bosanmu.

7,75/10

Wednesday, 13 December 2017




"What hurts me the most is that I wasn't enough"- The Mother

Plot

Pasangan suami istri (yang diperankan Jennifer Lawrence dan Javier Bardem) kedatangan seorang tamu tak diundang (diperankan Ed Harris) yang mengaku sebagai seorang dokter. Sang suami (next, I'll call him "the writer") secara sukarela menawarkan tamu tersebut untuk menginap di rumah nya yang tampak belum selesai dipugar. Sang istri (i'll call her "the mother" next) tidak sepenuhnya sependapat akan tawaran suaminya, namun dia akhirnya mau menerima tamu tersebut. Tanpa disangka bila kedatangan tamu itu akan menghadirkan kejadian yang tidak mengenakkan untuk mereka.




Review

Finally, I just watched the movie that everyone talked about. Yeah, not Justice League, but Mother!. Semua penikmat film di internet ramai membicarakan film ini, bahkan saat saya mengetikkan keyword Mother!, tanpa embel-embel apapun, page pertama yang ada di Google dipenuhi akan teori-teori penjelasan sebenarnya mengenai film yang disutradarai dan ditulis oleh Darren Aronofsky ini. Sebenarnya, nama Aronofsky saja telah lebih dari cukup untuk saya mengapa saya begitu ingin menyaksikan karya terbarunya ini, tetapi dorongan itu semakin kuat kala melihat fakta bila Mother! menjadi salah satu film yang paling ramai didiskusikan pada tahun ini. Dan setelah baru pertengahan film berjalan, saya telah menyadari mengapa hal tersebut dapat terjadi. Because this movie really really, REALLY fucked up. History saya dalam menyaksikan film memang tidak sebanyak penggemar-penggemar film lainnya, terutama film yang bisa dikategorikan disturbing, tetapi rasanya saya tidaklah hiperbolis jika saya menyatakan bila film ini adalah film yang memberikan pengalaman paling tidak mengenakkan untuk saya kala menyaksikannya. Percayalah, sekali lagi, saya tidak mencoba untuk berlebihan.  Awalnya saya yang hanya menyiapkan diri akan sajian konflik pada rumah tangga, malah diberikan akan sebuah pengalaman menonton yang, well, sangat disturbing.

Dari awal saja ketika film bergulir, penonton telah disajikan akan sajian gambar muka perempuan dengan mata terbuka, dibakar habis oleh kobaran api, sebelum menutup matanya, diiringi dengan tetes air mata yang mengalir di pelupuk pipi, sebelum judul film terpampang dilayar. Setelah pembukaan yang telah mengundang pertanyaan sebenarnya jenis film apa yang akan kita saksikan ini, Aronofsky memperlihatkan the writer meletakkan batu berlian di tempat khusus, yang kemudian disusul dengan penampakan rumah yang awalnya tampak habis hangus terbakar, mulai merekonstruksi ulang hingga tampak normal kembali. Hingga kita akan diperkenalkan dengan seorang perempuan yang baru terbangun dari tidurnya. Tentunya adegan yang memakan waktu tidak sampai 1 menit itu telah membuat saya penasaran apa makna dibalik kejadian itu. Disitulah sebenarnya Aronofsky telah memberikan satu bukti penting secara tersirat yang tentu saja hanya bisa dimengerti oleh bagi mereka yang selesai menonton karyanya ini. Berfungsi juga untuk memberikan alasan kepada penonton yang telah dihinggapi penasaran supaya berkenan menikmati filmnya hingga usai demi mendapatkan jawaban. 

Untuk pertama kalinya dalam berkomentar mengenai film, disin saya akan mengulasnya dengan mengambil dua sudut pandang, yaitu sudut pandang sebelum dan setelah mendapatkan jawaban yang saya dapatkan dari beberapa artikel di internet.

SEBELUM

Aronofsky telah menebarkan berbagai keanehan-keanehan dalam filmnya bahkan di awal-awal. Selain adegan 1 menit yang saya jelaskan di atas, keanehan-keanehan kembali menghinggapi terutama setelah pasangan yang menjadi pusat cerita kedatangan tamu. Dari keputusan the writer yang mengijinkan si tamu untuk menginap saja di rumahnya saja telah mengundang pertanyaan yang besar. Belum lagi tingkah pola tak biasa baik dari the writer juga si tamu. Penonton, yang hanya bisa menangkap segala kejadian berdasarkan sudut pandang dari the mother, tentu sama sekali tidak mengetahui arti dibalik itu semua. The mother tampak hanya bisa pasrah dengan segala keputusan yang diambil oleh sang suami, bahkan yang paling aneh sekalipun. Belum cukup keanehan akan kedua karakter itu, Aronofsky juga menyebarkan keping misteri nya dari sosok the mother sendiri yang sering mengalami kesakitan dan pusing mendadak. Nuansa horor begitu menyeruak disini yang diakibatkan oleh kegelisahan serta ketidak tahuan dari sosok the mother. Apa yang dirasakan oleh the mother tertular pula kepada penonton, yang membuat saya mengerti mengapa Aronofsky berulang kali mengambil gaya point of view yang hanya terpusat dari apa yang disaksikan oleh satu karakter utama. 

Atmosfir horor begitu kental terasa. Pada bagian ini, Mother! mengingatkan saya akan film indie tahun lalu, yaitu The Invitation. Bedanya, bila yang merasakan kegelisahan pada The Invitation adalah sang tamu, disini yang mengalami rasa itu adalah dari sosok tuan rumah, yaitu the mother.  Rasa tidak nyaman the mother kian bertambah kala rumah yang mereka tempati semakin ramai. Di momen ini pula, selain kepingan-kepingan misteri, penonton seolah tidak diberikan kesempatan untuk bernafas dengan nyaman berkat ketegangan-ketegangan yang terjadi. Belum sempat rasa tidak nyaman akan kedatangan tamu asing yang bertingkah begitu misterius dan memberikan kesan tidak menyenangkan, the mother juga harus terlibat kejadian demi kejadian yang mampu membuatmu sesak dan sekali lagi, sulit untuk bernafas. Editing dari Andrew Weisblum tentu berperan besar untuk membantu suasana tersebut. Memang terkesan rushing akibat pacing nya yang begitu cepat, dari satu adegan lalu ke adegan yang lain, tetapi hal itu sangat berpengaruh dalam mewujudkan atmosfir tidak mengenakkan itu.  

Bila membicarakan hasil karya Aronofsky, rasanya kurang lengkap bila tidak menyentuh ranah disturbing nya, dan atmosfir itu kita dapatkan di paruh kedua film berjalan. Percayalah, segala hal yang terjadi di paruh pertama tadi, ditingkatkan dosisnya beberapa kali lipat oleh Aronofsky. It's just extremely chaos, if I have to say to you. Rasa disturbing yang saya rasakan kala melihat Requiem for a Dream seolah tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di paruh kedua ini. Saya tidak ingin mengganggu sensasi kalian yang ingin menonton, jadi bila kalian telah cukup penasaran, hentikan membaca dan segera tontonlah film ini. Kalian akan mendapatkan jawabannya sendiri bila saya tidak mencoba untuk berlebih-lebihan disini. 

Aronofsky juga terkenal dengan sutradara yang mampu memaksa aktor/aktris yang bermain dalam filmnya mampu mengeluarkan semua kualitas akting terbaik yang mereka punya. Setelah Ellen Burstyn, Mickey Rourke dan Natalie Portman, kali ini sang kekasih sutradara sendiri (atau udah jadi mantan ya?), Jennifer Lawrence yang menjadi "korban" nya. Saya menyukai Lawrence, tetapi saya juga terkadang menganggap para kritikus atau penggemar-penggemar film lainnya terlalu berlebihan dalam memuji performa Lawrence di film-film sebelumnya (aktingnya di American Hustle bagi saya cukup overrated). Namun tidak untuk disini, karena saya berani bilang, jika Lawrence, paling tidak, tidak masuk dalam nominasi Oscar kategori Best Actrees tahun depan, maka itu akan menjadi salah satu kesalahan terbesar yang dilakukan oleh pihak Academy. Bahkan, akting nya disini saya rasa telah lebih dari cukup untuk Lawrence mendapatkan piala Oscar nya yang kedua. Disini, Lawrence bisa saya katakan keluar dari zona nyamannya. Dia tidak dimodali dengan dialog-dialog yang banyak, karena akting yang ia tonjolkan disini adalah lewat ekspresi mukanya. Dari ekspresinya, Lawrence memperlihatkan kegelisahan, ketidak nyamanan, hingga ketakutan dari apa yang dialami nya. Dibantu pula teknik pergerakan kamera yang senantiasa mengikuti dirinya kemanapun, hingga zoom kamera ke mukanya, ikatan antara penonton dengan the mother tercipta. Kita perduli akan dirinya, dan merasakan simpati mendalam kala dirinya seolah tidak dinilai keberadannya, bahkan untuk pertama kalinya, saya sampai trenyuh melihat karakternya disini. Penampilan Lawrence begitu totalitas disini (kayaknya dalam film, untuk pertama kalinya, Lawrence bersedia memperlihatkan payudaranya), dan menurut saya, inilah pencapaian terbaiknya dalam berakting. Aktor pendukungnya juga tidak kalah cemerlangnya. Javier Bardem tentu pintar dalam memerankan karakter yang misterius. Sebenarnya tidak salah jika kalian menganggap karakter the writer cukup mengesalkan disini (terutama mungkin untuk para perempuan), namun disisi lain kita juga merasakan kehangatan yang dipancarkan Bardem pada suatu adegan yang membuat saya cukup bingung apakah tepat untuk membencinya atau tidak, karena kita tahu, karakter Bardem lah yang memiliki kunci jawaban akan setiap peristiwa aneh yang terjadi di rumahnya. Ed Harris dan Michelle Pfeiffer pun juga tidak mau kalah, dengan selalu memancarkan atmosfir misterius dengan keberadaanya, terutama Pfeiffer.

Setelah dibuat sesak, tidak nyaman, juga rasa penasaran berlipat yang telah bertumpuk dari awal, saya mengharapkan jawaban dari Aronofsky. Dan ternyata, Aronofsky cukup pelit karena hingga film berakhir, bukannya jawaban, penonton malah disuguhkan oleh ending yang malah menggiring penonton kembali dihadang oleh pernyataan. Untuk itulah, setelah menyaksikan Mother!, tidak butuh waktu lama, saya membuka artikel demi artikel untuk mencari jawaban. Dan saya akan membahasnya sedikit dalam paragraf selanjutnya. Tentu saja pada bagian ini akan dipenuhi oleh spoiler.


SETELAH

Sekitar 2-3 website saya kunjungi yang menghadirkan teori berkenaan penjelasan apa maksud sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Aronofsky dalam Mother!. Dan dari website-website tersebut, jawaban yang paling memuaskan (bukan yang benar ya, karena sebagai penonton kita hanya bisa berintepretasi dengan segala kepingan-kepingan puzzle yang diberikan sang sutradara) adalah website ini. Buat yang telah menonton, silahkan menuju kesana, tetapi bila kalian cukup malas untuk mengklik link tersebut, mari saya jelaskan ulang sedikit disini mengenai penjelasan yang telah dipaparkan dan juga digabung dengan asumsi saya sendiri setelah membaca penjelasan tersebut.

Aronofsky ternyata bermain alegori disini, dimana ia menempatkan karakter the writer sebagai Tuhan dan the mother adalah hasil karya nya, yaitu Bumi. Kemudian, dijelaskan juga bila karakter-karakter seperti si tamu dan istrinya adalah representatif dari manusia pertama, Adam dan istrinya, Hawa. Kala membaca ini, saya rasanya bisa sependapat karena kisah keluarga mereka memang begitu mirip dengan kisah Adam dan Hawa. Bahkan konflik yang terjadi pada keluarga tersebut juga menghasilkan pembunuhan, yang berkaitan dengan kisah Qabil dan Habil. Lalu tulisan yang dibuat oleh the writer bagaikan kitab, yang kemudian melahirkan pendukung-pendukung (atau umat beragama) yang memuja the writer. Konflik luar biasa yang terjadi di rumah the writer dan the mother sendiri bagaikan menangkap sikap manusia yang doyan akan menciptakan keributan serta merusak apa yang telah dibangun oleh the writer, padahal the writer sendiri telah mengijinkan mereka untuk mengambil apapun yang mereka mau dari rumah tersebut. Namun, ternyata itu tidak cukup, hingga pada kejadian ini pula tampak Aronofsky ingin memperlihatkan ketamakan manusia. Di momen ini pula, kita melihat karakter the mother yang kehadirannya tidak dianggap oleh manusia, yang berakibat the mother tidak bisa apa-apa kecuali menyaksikan kekacauan yang diciptakan oleh manusia. Dari sini lah bagi saya tampak "keangkuhan" dari sang sutradara yang notabenenya adalah penganut atheis, yang mana ia berpendapat bila hadirnya suatu kepercayaan, hanya akan mengakibatkan keributan dimana-mana, seperti yang terlihat dalam film ini. Tidak hanya keributan tetapi juga akan fanatisme berlebihan yang berdampak akan kegilaan pada tiap individu melakukan seperti apa yang mereka percayai. Sebagai umat beragama, tentu saya tidak sependapat dengan apa yang ingin Aronofsky sampaikan disini, tetapi mari lah untuk tidak berlebihan dan anggap saja ini hanyalah film. Segala penjelasan tersebut memang cukup masuk akal dan memiliki korelasi nya dengan film, tetapi penjelasan ini juga tidak menjawab beberapa hal misterius yang terjadi dalam film ini, seperti apa poin keberadaan bayi disini? Apakah hal tersebut merepresentasikan tumbuhan yang lahir dari perut bumi? Lalu, apa cairan kuning yang kerap diminum the mother saat ia mengalami kesakitan? 

Mother! memang menawarkan banyak sekali pertanyaan demi pertanyaan yang akan timbul dari setiap menit nya berjalan. Tetapi itu juga bagi saya merupakan poin positif terbesarnya. Belum lagi gabungan atmosfir horor, thriller juga kesan disturbing yang kental di paruh kedua, menjadikan film ini tidak mudah untuk terlupakan. Bukan karya terbaik dari Aronofsky, tetapi bisa jadi, inilah film Aronofsky yang akan terus diperbincangkan dalam kurun waktu yang cukup lama kedepannya. One of the most disturbing movie of the year.


8,25/10

Friday, 8 December 2017

Bukan bermaksud untuk memberikan contoh bagaimana cerpen yang baik dan benar sih, tetapi sebagai permulaan, saya akan memposting cerpen saya disini. Yah, anggaplah sebagai gerakan pertama dalam usaha saya untuk sekedar membantu sedikit dalam mempublikasikan karya tulisan disini. Baiklah, selamat membaca!!

PEMICU SEMANGAT


Pukul 5 pagi, Abdi telah terjaga dari tidurnya. Segera saja, Abdi kembali membuka alamat e-mail nya dengan harapan ia mendapatkan kabar dari perusahaan yang 2 minggu lalu memanggil Abdi untuk tes wawancara. Selama 2 minggu itu pula, Abdi tidak henti-hentinya memeriksa smartphone-nya, hanya untuk sekedar memeriksa e-mail serta kotak masuk smartphone. Tetapi, tetap saja sama sekali tidak ada kabar dari perusahaan tersebut. Pada saat di akhir tes wawancara, pihak yang melakukan interview memang telah memberitahukan kepada Abdi bila ia akan diberikan kabar dalam kurun waktu 1 minggu apabila Abdi berhasil lulus dari tes interview tersebut. 1 minggu pun telah lewat, namun Abdi masih berpikiran positf dan tetap menjaga asa untuk bisa bergabung dengan perusahaan tersebut. “Mungkin aja mereka telat ngasih tau nya”, “Bisa aja kandidat-kandidat lain yang masih diproses”, segala kemungkinan hadir dalam pikiran Abdi untuk sekedar menghibur dirinya. Tetapi selama 2 minggu, selama itu pula harapan yang awalnya membumbung tinggi lama-kelamaan tergerus dan semakin lama semakin kecil. Saat memeriksa e-mail dan tetap tidak ada kabar dari pihak perusahaan itu, Abdi menghela nafas panjang. Dirinya tampak telah siap menerima keadaan terburuk jika ia memang tidak lulus interview.
“Nambah lagi periode nganggur gw”
Abdi meletakkan smartphone nya dan mulai beranjak dari kasur tidurnya. Ia membasuh muka untuk sekedar menyegarkan muka serta pikirannya. Ia berharap kekecewaan yang sedang ia rasakan sedikit menghilang seiring dengan basuhan demi basuhan ke permukaan mukanya. Lantunan-lantunan puji syukur segera ia ucapkan, sekedar untuk menghibur dirinya yang tengah dilanda kekecawaan. Dirinya tidak ingin, segala himpitan-himpitan kegagalan yang ia alami membuatnya menyalahkan Sang Pemilik Takdir. Ia ingin tetap mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Maka dari itu, saat adzan berkumandang, dirinya langsung melangkahkan kakinya untuk mendatangi masjid yang berada tidak jauh dari kosannya sekarang. Tidak lupa, ia membawa smarphone nya juga, sekedar berjaga-jaga mungkin saja akan ada pihak perusahaan yang meneleponnya.
Abdi berumur 24 tahun, dan ia memang baru saja lulus dari masa pendidikannya di salah satu Perguruan Tinggi di kotanya. Memiliki IPK di atas 3, dirinya cukup percaya diri bila dirinya tidak akan lama menganggur, apalagi perguruan tinggi tempat ia menempa ilmu merupakan salah satu Perguruan Tinggi terbaik di kotanya. Namun kenyataannya, telah 8 bulan lebih, Abdi belum juga mendapatkan keberuntungan dalam mencari pekerjaan. Bukan tanpa alasan dirinya ingin segera cepat mendapatkan penghasilan. Abdi tidak ingin terus menerus merepotkan kedua orang tuanya yang telah mengeluarkan banyak biaya demi dirinya bisa melanjutkan perkuliahan serta biaya kehidupan sehari-sehari Abdi, yang merupakan anak perantauan. Abdi, yang awalnya ingin merantau supaya mampu meringankan beban orang tuanya, malah berakhir sebaliknya. Biaya yang dikeluarkan oleh orang tua nya bisa dibilang dua kali lipat dibandingkan apabila dirinya tidak memutuskan merantau. Keputusan yang sempat ia sesali, namun orang tua Abdi, terutama sang ibu, terus menyemangati Abdi dan mengingatkan supaya untuk tidak terlalu tenggelam dengan rasa bersalah.
“Bapak ibu bangga kok sama kamu, nak. Diantara 3 anak laki-laki ibu, Cuma kamu yang punya kesempatan untuk merantau.”
Sering sekali ibu Abdi mengeluarkan kalimat yang serupa, dan setiap mendengar itu pula, Abdi tidak bisa membendung air mata nya. Ia harus semangat, tidak boleh kalah dengan keadaan, demi bisa membahagiakan kedua orang tuanya dan mampu mewujudkan keinginan terbesarnya, yaitu memberangkatkan haji kedua orang tuanya. Keinginan itulah yang selalu menggerakkan Abdi untuk terus melangkah dan terus menerus memasukkan lamaran pekerjaan. Tetapi, sekali lagi, keberuntungan memang belum berpihak kepada Abdi sehingga kini ia masih berstatus fresh graduate yang menganggur.
Tidak mudah untuk Abdi bisa terus bersabar, terlebih lagi teman-teman satu angkatannya telah banyak yang mendapatkan pekerjaan, bahkan di antara mereka ada yang berhasil bergabung perusahaan BUMN ataupun PNS, dimana Abdi mengalami kegagalan untuk bisa masuk perusahaan-perusahaan tersebut. Hal ini yang terkadang membuat Abdi merasakan iri sedalam-dalamnya, apalagi salah satu temannya tersebut pada masa perkuliahan, tidak memiliki nilai IPK sebesar Abdi. Pada masa perkuliahan pun, Abdi juga sering membantunya dalam mengatasi masalah mata kuliah yang ada. Saat ia mengetahui bila temannya tersebut telah bekerja di perusahaan BUMN, Abdi tidak hanya merasa senang, namun juga dilanda akan rasa iri nan cemburu.
“Kok dia beruntung banget ya? Kenapa bukan gw? Padahal, gw butuh banget pekerjaan.”
Kegagalan merupakan proses dari keberhasilan. Awalnya Abdi meyakini kalimat itu, namun lama kelamaan, seiring dengan kegagalan yang terus menerus ia alami, ia mulai menyangsikan kalimat indah itu. Tidak berhenti disitu saja, ia juga mulai muak dengan kalimat-kalimat positif yang berserakan di salah satu web pencarian paling popular di internet. Setiap penyakit hati nya mulai menguasai sanubari Abdi, disaat itu pula ia langsung mengambil wudhu dan segera melakukan kontak batin terhadap Yang Maha Kuasa. Ia tidak ingin bersu’udzon dengan Allah. Ia ingin terus berpikiran positif terhadap Allah. Satu yang ia yakini, bila Allah tidak akan menguji hamba-Nya melewati batas kemampuan hamba-Nya. Abdi meyakini itu, biarpun ia kini sama sekali tidak percaya dengan kalimat-kalimat motivasi lainnya.
Setelah shalat Shubuh, Abdi kembali melakukan kontak batin dengan Allah. Ia tidak berdoa, hanya sekedar melakukan pembicaraan melalui hati nya. Pada saat itu pula, air mata nya mulai mengalir. Untung saja, saat itu kondisi masjid tidak lagi terlalu ramai sehingga tidak ada satupun orang yang menyadari bila Abdi tengah menangis.
“Ya Allah, apapun yang terjadi terhadap hamba, apapun kesulitan yang lagi hamba rasakan sekarang, hamba hanya meminta satu, jangan jauhkan hati ini dalam pelukan-Mu. Jangan jauhkan hidayah-Mu dari hamba. Hanya itu, hanya itu Ya Allah.”
Komunikasi Abdi yang ia jalin dengan Allah itu, ditutup nya dengan bacaan doa untuk orang tua, sebelum ia mulai beranjak dari tempat duduknya untuk meninggalkan masjid dan kembali ke kosannya. Sesaat melangkah keluar dari lingkungan masjid, smartphone milik Abdi bordering. Ternyata sang ibu yang menelepon.
“Assalamu’alaikum, bu”, ucap Abdi saat mengangkat telepon tersebut.
“Wa’alaikum salam, nak. Sehat kan?
“Iya, bu. Kondisi rumah gimana? Bapak ibu sehat juga kan?”
“Alhamdulillah. Gimana? Ada kemajuan soal kerjaan?”
Pertanyaan yang telah diduga oleh Abdi. Dan Abdi senantiasa berat untuk menjawab nya. Namun, bagaimana lagi, masa ia harus berbohong terhadap ibu nya sendiri?
“Belum ada, bu. Doain aja”, jawab Abdi
“Tetap usaha ya, nak. Terus dicoba. Gak ada ruginya juga. Bapak ibu terus doain kamu kok disini”
Air mata Abdi kembali mengalir. Dengan segala usaha, ia tahan untuk tidak diketahui oleh sang ibu bila ia tengah menangis.
“Nak, bapak mau ngomong nih,” ucap ibunya dan segera menyerahkan handphone kepada bapak Abdi.
“Di, udah shalat shubuh?” segera Tanya dari sang ayah.
“Ini juga baru kelar, pak.”
“Saran bapak cuma satu, nak. Jangan pernah ninggalin shalat ya, nak. Bapak tau, kamu mungkin lagi ngerasain kecewa sekarang. Tapi, tetap percaya sama pertolongan Allah. Cuma Allah yang bisa bantu kamu, ibu bapak Cuma bisa berdoa aja.”
Abdi tidak mampu menanggapi karena kini usahanya tengah ia pusatkan untuk bisa menahan tangisnya supaya tidak sesenggukan. Untung saja posisi Abdi saat ini telah berada di dalam kosannya.
“Pak, sama ibu juga, sehat terus ya. Supaya Abdi bisa ngirimin gaji pertama Abdi nanti”
“Iya, di, doain aja. Ada salam juga dari kakak-kakakmu disini. Mereka ngirimin uang untuk kamu.”
“Iya pak, omongin makasih dan salam untuk kak Doni dan kak Alvian.”
“Yaudah, itu aja ya nak. Semangat terus. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”.
Saat telepon terputus, Abdi segera melonggarkan pertahanannya dan menangis sesunggukan. Mukanya kini telah dipenuhi oleh linangan air mata, serta air bening mengalir dari hidungnya. Memang ini yang tengah ia butuhkan, sebuah suara dari orang tua dan dukungan dari saudara-saudaranya. Sebuah obrolan yang singkat, namun sangat bermakna bagi Abdi. Sebuah momen yang meningatkan Abdi untuk terus melangkah maju, tidak perduli dengan rasa kekecewaan dan juga kesedihan yang tengah ia rasakan, tidak ada pilihan untuk Abdi selain terus melangkah.

THE END
Sebagai seorang yang ingin suatu saat nanti mampu hidup dengan karya, saya paham betul bagaimana susahnya untuk mendapatkan perhatian akan karya yang kita bikin, salah satu nya adalah tulisan. Keinginan dan minat telah ada, tetapi yang menjadi permasalahan adalah tempat dimana kita bisa mempublikasikan tulisan kita. Berdasarkan pengalaman dan kepahaman saya inilah, saya mencoba untuk membuka tempat publikasi tulisan-tulisan kalian di blog pribadi saya ini. Tidak dipungut biaya pastinya, cukup kirimkan karya tulisan kalian ke alamat e-mail saya, saya akan dengan senang hati mempublikasikan tulisan kalian disini. Memang, pengunjung di blog saya belumlah banyak, dan saya tidak berani menjamin apakah karya kalian akan dibaca atau tidak, tetapi lebih baik dicoba dahulu. Bisa saja nanti, blog ini trafficnya lumayan menaik. Yah, berproseslah ya..

Ok, cukup berbasa-basinya. Bila kalian memiliki karya tulisan, apapun, terutama cerpen, silahkan kirim ke e-mail saya, afadhollah@gmail.com . Biar fair, saya juga akan memposting cerpen buatan saya sendiri.
Baiklah, teman-teman, ayou, tulis ceritamu sekarang juga!!
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!